
Sebenarnya, Fanny bisa meminta Gaston menyebutkan alamat rumah orang tua kandungnya agar tidak merepotkan pria itu. Namun, setelah merenung, Fanny tidak memiliki keberanian untuk pergi ke sana sendiri. Apa yang akan dikatakannya? Lagi pula mereka tidak mungkin percaya pada orang asing yang mendadak muncul dan mengaku-aku anak mereka. Alih-alih Fanny bisa disangka gila. Sekarang, ia duduk di samping Gaston di dalam mobil.
"Jadi, paling tidak, beri tahu aku nama orang tuaku."
Fanny menatap Gaston yakin. Tunggu, apakah dengan begitu ia harus mengganti marganya? "Aku hanya bisa memberi tahu nama ibumu." Gaston diam sejenak. "Dia bernama Audie Rodriguez."
"Apa!" Fanny sungguh tak percaya mendengarnya. la tercengang sampai pandangannya berubah kosong. Bukankah Audie Rodriguez adalah nama wanita yang dikenalnya saat menonton teater dulu! Apa Gaston tidak bercanda? Ataukah, hanya namanya saja yang sama?
"Aku yakin kau pernah bertemu dengannya," tambah Gaston yang membuat Fanny tercekat. Ternyata, memang dia orangnya.
"Bukan hanya pernah bertemu. Kami cukup akrab." Jadi, wanita itu adalah ibu kandungnya? Sungguh takdir yang aneh dan tidak terduga.
"Benarkah? Baguslah kalau begitu."
Reaksi Gaston yang terlalu santai menimbulkan kecurigaan. Fanny menyipitkan mata. Mengapa ia merasa semua itu bukan kebetulan semata? Senyum misterius Gaston membuat Fanny curiga.
"Apa mungkin saat itu kau sengaja memberiku tiket teater agar bisa bertemu dengannya secara kebetulan? Dan, kau sengaja tidak muncul agar dia tidak melihatmu?"
Gaston diam sejenak karena sibuk mengamati jalan di depan. Menyadari Fanny terus memakunya dengan picingan mata tajam, la menyeringai. "Yes."
Sudah Fanny duga!
"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Audie Rodriguez?
Tunggu, apa mungkin kau..., putra yang selalu disinggung oleh Nyonya Rodriguez?" Tapi, mana mungkin? Jika dia memang anak Nyonya Rodriguez, maka marga Gaston seharusnya bukan Scott, tetapi Rodriguez.
Gaston mengoyangkan jari. "Hampir benar. Tepatnya, aku hanya anak angkat. Tapi, aku mencintai mereka seperti orang tuaku sendiri. Aku sendiri baru mengetahui bahwa mereka memiliki anak kandung sekitar empat tahun lalu."
"Tapi Nyonya Rodriguez berkata putrinya sudah tidak ada."
__ADS_1
"Bukan tidak ada, tapi hilang. Ketika masih bayi, putri mereka diculik. Kemungkinan oleh orang yang iri melihat kesuksesan mereka dan tak menginginkan mereka memiliki pewaris sah. Polisi mencoba mencari bayi yang hilang itu serta si penculik, tetapi nihil. Setelah lima tahun pencarian tanpa hasil, mereka menganggap putri mereka meninggal, lalu mereka mengadopsiku. Aku sangat berterima kasih. Tanpa mereka aku tidak akan menjadi diriku saat ini."
Ternyata mereka mencariku, batin Fanny. "Apa kau sudah tahu mengapa aku diculik? Kau pernah bertemu ayahku, bukan? Apa yang dikatakannya tentang peristiwa itu?"
"Dia mengakui bahwa dia menculikmu, tetapi bukan karena diperintahkan siapa pun. Ayahmu hanya ingin memiliki anak karena Istrinya meninggal sebelum memberinya anak. Tetapi, karena kesulitan ekonomi, dia terpaksa menjualmu."
Fanny menarik napas. Jadi, karena alasan itu. Ia menyesal karena sempat membenci ayahnya. Dia tidak sepenuhnya jahat. Dia hanya pria tua yang kesepian. Fanny ingin tahu seperti apa karakter orang tua kandungnya. la belum mengenal mereka dengan baik. Namun, ia tahu mereka orang tua yang sangat menyayangi anak mereka. Fanny bisa melihatnya ketika makan malam.
Andai saja dahulu Gaston sudah mengatakan fakta itu lebih awal, Fanny pasti sudah memeluk mereka dan tidak menganggap mereka sebagai orang asing. Fanny memang merasa akrab dengan mereka, tetapi tidak pernah menyangka mereka adalah orang tuanya.
"Aku selalu berpikir harta yang kunikmati setiap hari seharusnya milikmu."
Ucapan Gaston mengalihkan perhatian Fanny kembali padanya.
"Aku yakin kau belum mati, maka aku menyelidikinya. Perusahaan yang kubangun pun berawal dari obsesiku untuk menemukanmu. Pencarianku akhirnya mengantarkanku pada ayahmu. Dia dengan sombong berkata sudah menjualmu. Aku menghajarnya hingga dia memberitahuku tempatmu berada."
"Kau menghajarnya?" Fanny tercekat. Gaston Scott lagi-lagi mendahului apa yang ingin dilakukan Cam.
"Tidak juga." Fanny hanya merasa kasihan. "Setelah kau tau aku ada di tepat Madame Jasmine, kau menyewaku?
"Yah, aku lega kau belum dimanfaatkan wanita itu. Aku mengancamnya agar tidak memberikanmu pada lelaki mana pun. Untuk menjagamu, aku menyewamu."
"Hadiah-hadiah itu?"
"Sudah kukatakan, aku ingin kau memilikinya. Semua Itu memang seharusnya menjadi milikmu."
"Mengapa kau tidak menemuiku saat itu dan bilang yang sebenarnya? Kau tidak pernah muncul setiap kali kita dijadwalkan bertemu."
"Eee..., aku belum berani."
__ADS_1
"Bagimana kau yakin aku anak yang kau cari? Bagaimana jika salah?"
"Jangan remehkan aku." Gaston agak tersinggung. "Aku meminta bantuan Madame Jasmine untuk meminta sampel rambutmu untuk tes DNA. Hasilnya cocok. Tidak diragukan lagi, kau memang anak kandung suami-istri Rodriguez."
Setelah mendengar semua penjelasan itu, Fanny masih tidak bisa percaya. Hatinya masih terasa hampa. "Lalu, wanita itu malah memberikanmu pada laki-laki lain. Aku sangat kesal karena kehilanganmu."
Fanny mengangguk. Itulah alasan yang membuat Gaston mengamuk di kantor Madame Jasmine, bukan karena dirugikan, tetapi karena khawatir. "Aku berjanji akan menemukan anak kandung mereka yang hilang. Begitu menemukanmu, aku tidak boleh sampai kehilanganmu lagi."
"Terima kasih sudah menjagaku. Jadi bisa dibilang, kau adalah kakakku. Kalau begitu, ancaman kau menyukaiku dan harus menikah denganmu hanya bualan? Apa sekarang kau ingin aku memanggilmu Kakak?"
"Hei, untuk yang satu itu aku bersungguh-sungguh."
"Berhenti bercanda!" Fanny menepuk bahunya. "Lagi pula meskipun ingin, aku tidak bisa. Secara hukum aku sudah menikah dengan Cam."
Gaston menatapnya ngeri. "Kau berbohong!"
"Tentu saja tidak!"
Mereka terus berdebat. Fanny baru mengetahui rasanya memiliki seorang kakak yang usil. Tanpa terasa mobil yang dikemudikan Gaston memasuki halaman kediaman keluarga Rodriguez. Nyali Fanny mendadak menciut. la tahu Darren Rodriguez merupakan pengusaha besar setara dengan Cam. Seharusnya, ia tidak perlu kaget. Namun, setelah melihat rumah mewah ini, Fanny ragu. "Aku pulang saja," bisik Fanny, la menolak untuk turun.
Gaston melepas sabuk pengamannya. "Hei, kau sudah sejauh ini!"
"Tapi bagaimana jika mereka menolakku. Kau tahu gosip tentangku sudah merebak dengan parah di kalangan orang-orang konglomerat di Manchester. Mereka pasti sudah mendengarnya. Aku takut mereka akan mengusirku."
"Aku sudah ber kata pada mereka bahwa aku sudah menemukanmu. Jadi, kau tidak bisa kabur. Mereka sudah menunggu."
"Hei! Seenaknya saja!"
"Ayo." Gaston mem buka pintu mobil. Fanny meng geleng. "Jangan men coba kabur. Kau tinggal selangkah lagi ber temu dengan kedua orang tua mu. Atau, kau ingin kembali ke rumah pria itu?"
__ADS_1
Kembali ke rumah Cam? Fanny tidak mau. Paling tidak untuk malam ini.
Bersambung ....