
Cam merasa takjub saat bangun keesokan hari nya. Ia tidak bermimpi buruk. Bahkan, Cam bermimpi indah dan bangun dalam keadaan segar. Apa karena ia tidur sambil memeluk Fanny? Omong-omong tentang gadis itu, di mana dia sekarang? Tempat di sisi nya sudah kosong. Tidak ada waktu untuk memikirkan nya. Lagi pula, ia sudah bisa menebak di mana Fanny berada. Sebaik nya, ia bangun dan bersiap-siap pergi bekerja.
Seperti yang Cam duga, Fanny sudah berkeliaran lagi di dapur. Kali ini bersama Bibi Brown menyiap kan sarapan. Fanny seperti nya tipikal orang yang bisa beradaptasi di lingkungan baru dengan cepat. Gadis itu sudah tidak canggung lagi. Bahkan, bisa mengobrol dengan pembantu nya.
"Kau sudah bangun." Fanny tersenyum ceria kepada nya. Cam tersadar dari lamunan. Ia tidak tahu sejak kapan ia mematung di ambang pintu.
"Pagi," gumam Cam, lalu duduk di kursi nya yang biasa. la masih belum terbiasa menerima perubahan suasana di rumah nya. Biasa nya, setiap pagi Cam duduk di kursi meja makan sambil membaca koran selagi sarapan nya di siapkan. Namun, pagi ini, Cam tidak bisa menikmati kopi nya maupun koran yang di letakkan pembantu nya di atas meja makan. Semua nya karena suasana ceria yang ia lihat di dapur. Ia terkesima. Apakah memasak selalu menyenangkan?
"Apa kau belum mengatakan pada pembantu di rumah ini bahwa sekarang aku tinggal bersama mu? Mereka terkejut saat melihat ku pagi ini dan sempat mengira aku penyusup. Tapi, untung lah kesalahpahaman itu sudah berakhir setelah ku jelaskan bahwa aku hanya teman jauh mu yang membutuh kan tempat tinggal. Bibi Brown bahkan mengizinkan ku membantu nya menyiapkan sarapan," cerocos Fanny panjang lebar ketika mereka menikmati sarapan bersama.
Cam melupa kan detail kecil itu. Tentu saja kehadiran Fanny mengejut kan para pembantu nya. Cam tidak pernah mengundang siapa pun untuk menginap di rumah ini dan tidak pernah ada wanita yang menghangat kan rumah ini sejak Fiona pergi. Cam menghindari tatapan penasaran Bibi Brown, asisten rumah tangga nya yang khusus menyiapkan makanan untuk nya.
Tunggu, dia tidak berpikiran macam-macam, bukan? Namun, jika berpikiran macam-macam pun tidak mengheran kan. Cam penasaran penjelasan apa yang Fanny berikan pada Bibi Brown sampai wanita paruh baya itu menatap nya.
"Aku baru akan mengatakan nya hari ini. Tapi, seperti nya kau sudah melakukan nya lebih dulu."
"Tidak cukup sulit beradaptasi di sini. Bibi Brown orang yang sangat ramah dan keibuan. Karena mulai hari ini aku akan menangani urusan makan mu, aku ingin tahu apa saja yang kau sukai untuk sarapan dan makan malam."
Sejak kapan menangani masalah makanan di rumah ini menjadi tanggung jawab Fanny? la tidak ingat sudah menyuruh Fanny melakukan nya.
Karena terlalu bingung, Cam menjawab nya tanpa pikir panjang. "Aku tidak pilih-pilih makanan. Aku akan memakan apa pun yang kau siapkan."
"Tidak usah malu. Aku akan memasakkan nya jika kau ingin menu tertentu."
Mengapa Cam terharu mendengar nya? Apa karena tidak pernah ada yang bertanya seperti itu? la menatap piring makanan nya untuk menghindari mata Fanny. "Jika kau memaksa, aku ingin Cullen Skink dan Black Pudding."
__ADS_1
"Baiklah, menu makan malam nanti Cullen Skink dan Black Pudding!" seru Fanny. Keceriaan nya hari ini agak mengejutkan Cam, la tidak tahu Fanny tipe orang yang penuh semangat di pagi hari.
"Oh iya." Cam teringat sesuatu.
Apa lagi sekarang? Cam melirik Fanny dengan waspada. "Aku juga sudah memikirkan nya. Perbedaan usia kita cukup jauh. Aku tidak mungkin memanggil mu 'Uncle. Karena itu, bolehkah aku memanggil mu Muffin?"
Senyum dan sikap Cam itu begitu manis seperti kue muffin, ya, anggap Muffin itu panggilan sayang dari Fanny 😁. Dan Cam tahu arti dari panggilan Muffin itu.
Deg.
Cam merasakan hentakan aneh di dada nya. Rasa nya jantung nya melayang jatuh ke perut. Namun, sensasi aneh itu tidak membuat nya kesakitan, justru merasa gembira.
"Terserah pada mu," lirih Cam datar. la tidak bisa menunjuk kan bahwa ia senang dengan cara Fanny memanggil nya.
la tidak mau di anggap aneh.
"Ada apa?"
"Tuan, Aunty Anda datang berkunjung."
Rasa nya bagai tersambar petir. Cam membeku. Demi Tuhan, dari sekian banyak hari, mengapa Bibi Bell memilih mengunjungi nya pagi ini? Cam memandang Fanny yang bingung dan penasaran. la panik. Bagaimana ia menjelaskan tentang Fanny pada bibi nya?
Tunggu, Cam berhenti panik. Bukan kah memang ini yang ia inginkan? Bibi Bell harus melihat nya bersama seorang wanita agar berhenti menjodoh kan Cam dengan gadis mana pun. Baiklah, lakukan sesuai rencana. Cam menoleh pada pembantu nya. "Biarkan dia masuk."
Ketika pembantu itu pergi, Fanny berta nya, "Siapa yang datang?"
__ADS_1
"Aunty Bell, adik mama ku. Satu-satu nya keluarga yang ku miliki."
"Apa aku harus bersembunyi?" tanya Fanny cemas. "Untuk apa kau bersembunyi?"
Fanny mencondongkan tubuh nya ke arah Cam seakan hendak membisik kan rahasia negara. "Aku wanita simpanan mu. Apa yang akan Muffin katakan pada nya tentang ku? Aku takut aunty mu akan membenci ku."
"Kau tenang saja. Aunty Bell tidak perlu tahu kau wanita simpanan ku. Dan, dia tidak akan pernah tahu."
"Lalu, Muffin akan memperkenalkan ku sebagai siapa?"
"Kau akan mengetahui nya tak lama lagi. Kau cukup ikuti apa kata ku."
Fanny tidak di beri kesempatan bertanya lebih jauh. Tepat setelah nya, wanita yang di perbincangkan itu muncul.
"Cam." Bibi Bell terkesiap melihat keberadaan Fanny di ruang makan bersama keponakan yang selalu di khawatirkan nya. Seulas senyum tersemat di bibir nya. "Aunty tidak tahu kau kedatangan tamu sepagi ini."
Cam sudah mengantisipasi reaksi bibi nya dan apa yang ada di pikiran nya sehingga ia bisa bersikap tenang saat bangkit dan menyapa wanita itu. Ia tidak perlu memberitahu bibi nya bahwa Fanny bermalam di sini agar tidak membuat wanita itu panik, la membiarkan bibi nya mengira Fanny hanya tamu.
"Tidak biasa nya Aunty mengunjungi ku sepagi ini."
"Kenapa? Apa aunty mengganggu?" ujar Bibi Bell provokatif.
Mata nya yang tajam melirik Fanny. Bibi Bell tampak gatal ingin menginterogasi Cam tentang Fanny, tetapi di tahan nya.
Wanita itu membiarkan Cam memperkenalkan mereka terlebih dahulu sebelum bersikap ikut campur. Cam memandang Fanny sejenak. la harap rencana nya berjalan dengan mulus.
__ADS_1
Bersambung ....