
"Aunty Bell, kenal kan, dia Fanny Blair. Fanny, wanita cantik ini aunty ku, Jovanka Bell."
Aha, time to play!
Fanny bangkit. Ia membungkukkan badan memperkenalkan diri dengan sopan. Bibi Bell tampak seperti wanita paruh baya pada umum nya. Dia ramah, tetapi juga berbahaya. Ada sesuatu dalam diri Bibi Bell yang mengancam, sehingga Fanny mengingat kan diri nya agar tidak membuat wanita ini marah. "Apa kau teman Cam? Baru kali ini aku melihat mu!" tanya Bibi Bell sedikit mengimintidasi.
Cam menyahut lebih dulu. "Aunty tidak mengenal semua teman ku."
"Benar juga." Bibi Bell tertawa. "Tapi, baru kali ini aku melihat Cam membawa teman wanita nya ke rumah."
"Fanny Blair bukan teman ku," ujar Cam tiba-tiba.
Bibi Bell berhenti tersenyum mendengar nya, sementara Fanny tercekat. la memandang Cam waspada. Apa yang hendak di katakan nya? Walau pun penasaran, ia menyerah kan segala nya di tangan Cam.
"Apa maksud mu?"
Fanny tegang melihat ekspresi Bibi Bell berubah. Gawat, bagaimana jika wanita itu tidak suka?
Cam tiba-tiba merangkul Fanny membuat nya terpaku. Sentuhan tangan Cam di lengan nya mengirimkan sengatan listrik bertegangan rendah yang membuat jantung nya berdebar. Astaga, sandiwara apa yang hendak di lakoni Cam di depan bibi nya? Fanny berusaha tidak terlihat gugup.
"Gadis ini adalah tunangan ku."
Fanny merasa isi perut nya jumpalitan.
Mulut Bibi Bell menganga. Fanny merasa kasihan. Berita ini pasti sangat mengejutkan nya. Fanny juga terkejut, tetapi menjadi tunangan gadungan jauh lebih baik daripada wanita simpanan. Sebisa mungkin ia menjaga ekspresi nya. Fanny kira Bibi Bell akan menentang keras dilihat dari ekspresi nya. Namun, ternyata setelah Bibi Bell menguasai keadaan, wajah nya luar biasa gembira. "Benarkah itu? Mengapa kau tidak pernah memberi tahu Aunty?" omel Bibi Bell dengan nada tersinggung. Kelegaan pun di rasakan Fanny. la bersyukur tidak mendapat kan penolakan dari Bibi Bell.
Cam segera memberi penjelasan. "Aku takut Aunty tidak akan menyetujui pilihan ku. Fanny Blair bukan berasal dari keluarga berada dan aku hafal benar tipe wanita yang Aunty ingin kan." Pasti cantik, berasal dari keluarga kaya, dan berpendidikan tinggi, tebak Fanny dalam hati. Wajah Bibi Bell yang merona, pertanda dugaannya benar.
"Aunty hanya mengingin kan yang terbaik untuk mu. Aunty tahu tidak akan ada yang sebanding dengan Fiona, tapi kau harus mencari cinta yang baru. Syukur lah sekarang kau menemukan nya." Bibi Bell sangat bersyukur mengetahui Cam sudah memiliki tunangan.
Fanny merasakan tangan Cam mencengkeram lengan nya. Ia harus menggigit bibir agar tidak meringis. Tubuh Cam menjadi kaku sejak Bibi Bell menyinggung nama Fiona. Siapa dia? Apa hubungan nya dengan Cam? "Sejak kapan kalian saling mengenal?"
Tubuh Cam kembali rileks. Pria itu lega Bibi Bell mengganti topik. "Sudah cukup lama," jawab Cam.
Bibi Bell terkesiap. "Mungkin kah dia alasan kau menolak semua gadis yang ku jodohkan dengan mu?"
Perjodohan? Cam bahkan pernah mengikuti perjodohan? Bibi Bell pasti benar-benar putus asa melihat Cam melajang terlalu lama. Sekarang, Fanny sedikit memahami alasan Cam mencari kekasih bayaran..
Fanny melirik ke samping saat ia mendengar Cam mendesis jengkel, tetapi pria itu tidak mengatakan apa-apa.
__ADS_1
"Apa pekerjaan mu?" Bibi Bell mengajukan pertanyaan itu pada Fanny.
Dalam hitungan detik, Fanny panik. "Um..." la melirik Cam. Cam merespon cepat. "Dia sekretaris di perusahaan Austin Carter."
Fanny berharap pekerjaan yang biasa saja. Mengapa harus sekretaris?
Bibi Bell menepuk tangan dengan girang. "Sudah Aunty duga, teman mu itu bisa membantu." Ekspresi nya kemudian melembut saat menatap Cam.
"Mulai sekarang, jangan sembunyikan apa pun dari Aunty lagi, eoh. Dahulu, Aunty mungkin memandang seseorang dari status mereka. Tapi sekarang, asal kan kau bahagia, Aunty tidak akan menghalangi hubungan mu lagi. Jadi, jangan khawatir Aunty tidak akan menyuruh mu putus dengan Fanny. Dan, Fanny ...."
"Ya." Fanny menjawab nya terlalu bersemangat. Bibi Bell terkekeh.
"Tolong jaga Cam untuk ku. Bahagia kan dia. Sudah terlalu lama anak ini larut dalam duka...."
Eh? Duka? Fanny mengerjap.
"Karena itu...."
"Sudah terlambat! Aku harus pergi!"
Kata-kata Bibi Bell terpotong oleh seruan Cam. Sangat di sayangkan, padahal Fanny ingin mendengar apa yang menyebab kan Cam berduka.
"Kau mengaget kan wanita tua ini!" Bibi Bell menepuk bahu Cam.
Fanny tahu Cam sengaja menghenti kan bibi nya sebelum wanita itu membeberkan sebuah rahasia. Bibi Bell melihat jam dan terkesiap. "Kau benar. Aku juga harus ke kantor."
"Aku akan mengantar Aunty ke depan," ucap Cam.
"Kalau begitu, sampai bertemu lagi nanti." Bibi Bell melambaikan tangan pada Fanny.
"Selamat bekerja." Fanny membungkuk kan badan. Setelah Bibi Bell pergi dan hanya ada diri nya di sana, ia mendesah lega. Akhir nya, rintangan pertama berhasil di lewati.
Fanny menyandarkan tubuh nya di tepian meja. Ternyata, bekerja sebagai wanita simpanan tidak lah mudah. Fanny bukan lah satu-satu nya yang mengalami kesulitan seperti ini. Miranda bahkan pernah bercerita terpaksa bekerja sebagai suster saat di sewa oleh seorang dokter. Orang lain mungkin menikmati nya, tetapi Fanny merasa bersalah. Ia telah membohongi Bibi Bell. Jika wanita itu tahu yang sebenar nya, Fanny pasti akan di jadi kan musuh nya.
Sekarang, apa yang harus ia lakukan? Cam tidak memberitahu nya apa yang harus ia kerjakan selama pria itu pergi. Apakah ia di perbolehkan keluar rumah? Apa ia harus berimprovisasi lagi? la sudah melakukan nya dengan baik.
"Maaf soal aunty ku." Cam tiba-tiba muncul setelah mengantar Bibi Bell pergi. Cam hanya kembali untuk mengambil tas yang tertinggal.
Fanny mengantar Cam hingga ke pintu depan. "Tidak masalah. Aku menyukai aunty mu. Dia menyenang kan."
__ADS_1
"Kau akan berubah pikiran jika sudah mengenal nya dengan baik. Bibi Bell sangat suka ikut campur dan selalu mengkhawatirkan semua hal."
"Itu karena dia menyayangi mu. Muffin seharusnya senang."
Cam terlihat merenung sebelum membalas. "Aku berharap Bibi Bell tidak melakukan nya. Dia satu-satu nya keluarga yang ku miliki."
Senyum Fanny memudar. la merasakan kegetiran dan luka dari kata-kata nya tadi. Apa maksud Cam? Fanny seketika teringat pada duka mendalam dan seseorang bernama Fiona yang di singgung Bibi Bell. Cam seakan di selimuti awan hitam sejak Bibi Bell tanpa sengaja menyebutkan nya. Pasti dua hal itu berkaitan erat dengan alasan Cam selalu tampak murung.
"Anu....." Fanny ingin bertanya, tetapi langsung menghentikan niatan nya itu di detik terakhir dengan menggigit bibir.
Namun, Cam telanjur mendengar nya. Pria itu menoleh. "Ada apa?" tanya nya penasaran.
Fanny tidak mau mengambil risiko memperburuk mood Cam. Ia memutuskan menunda rasa penasaran nya dan memilih pertanyaan lain..
"Apa yang harus ku lakukan selagi Muffin pergi?"
"Kau bisa lakukan apa pun. Rumah ini ada perpustakaan dan fasilitas lain."
"Apa aku di izinkan keluar rumah juga?"
"Apa ada seseorang yang ingin kau temui?"
"Sebenar nya tidak."
"Kalau begitu, sebaik nya di rumah saja. Kau bisa memakan apa pun yang ada di kulkas atau memasak jika lapar." Mereka berhenti saat tiba di depan pintu.
Fanny jadi ingat janji nya membuat Cullen Skink dan Black Pudding untuk makan malam.
Mereka berdiri berhadapan di depan pintu. Fanny baru tersadar, dalam posisi ini, ia seperti seorang istri yang sedang mengantar suami nya yang hendak berangkat kerja. Pipi nya merona. Baru sehari menjadi kekasih palsu, ia sudah berkhayal yang tidak-tidak. Karena mereka bukan suami istri, Fanny tidak bisa mengucapkan 'selamat bekerja' dan mengharapkan satu ciuman dari Cam.
"Nah, jadi apa yang akan kau lakukan hari ini?"
Enyah kan khayalan konyol mu dan fokus! Fanny tersenyum pada Cam. "Aku akan berenang sepuas nya." Cam mengedipkan mata berkali-kali, tercengang. Selama beberapa saat ia terdiam. Seperti nya, jawaban Fanny benar benar mengejutkan nya. Fanny tak bermaksud membuat Cam membeku. la baru akan meminta maaf ketika ia melihat seulas senyum tersungging di bibir Cam dan tertawa.
Demi Tuhan, Cam Harrison tertawa!
Kali ini, Fanny yang di buat terkesima seakan tersihir mantra. Senyuman Cam memiliki daya magis yang membuat hati nya lumpuh.
"Kau ini benar-benar." Cam mengacak poni Fanny. Bibir nya masih menguarkan tawa. "Jangan sampai sakit."
__ADS_1
Kepala Fanny mengangguk dengan sendiri nya. la masih terkesima. Fanny tak pernah mengira melihat senyuman Cam membuat nya begitu bahagia, seakan baru saja menerima penghargaan.
Bersambung .....