
Waktu sudah menunjukkan pukul jam 6 sore, seperti biasa alarm di handphoneku berbunyi dengan sangat nyaring. Aku segera mematikan alarm pada handphoneku. Rasanya tak bersemangat sekali hari ini aku untuk bekerja. Sebenarnya sih emang aku tidak pernah bersemangat untuk bekerja. Bagaimana tidak? Jujur saja tempat kerjaku itu membuatku tidak nyaman dengan asap rokok yang mengebul, minuman alkohol yang memabukkan, di tambah lagi dengan para om-om yang harus ku layanin. Ingin rasanya tak masuk kerja sehari saja, namun otakku berkata, jika aku tidak kerja ya rugi bandar aku. Yaa keadaan yang memaksaku untuk tetap bekerja, karena dalam sekali nemenin saja aku sudah dapat tabungan gaji dan juga tips yang lumayan banyak dari hasil aku menenani dan menghibur para lelaki hidung belang itu.
Aku segera mandi dan bersiap-siap untuk bekerja lagi. Setelah kelar senuanya, aku memasukkan pakaian seksiku yang akan ku kenakan ketika bekerja.
Hari ini aku tak yakin untuk membawa motor sendiri, aku segera memesan ojek online yang akan mengantarkanku ke tempat kerjaku. Tak membutuhkan waktu yang lama, driver ojek onlineku pun datang.
"Dengan mba Anya?" Tanpa seorang driver ojek online padaku.
"Iya mas." Jawabku tersenyum ramah.
,"Silahkan mba ini helmnya" Pengemudi tersebut menyodiirjan helm yang akan kukenakan.
Setelah memasangkan helm di kepalaku, aku menaiki jok motor belakang. Motor pun melaju menuju ke tempat dimana aku bekerja di malam hari. 10 menit perjalanan, akhirnya aku sampai di tempat aku mencari nafkah demi hidupku yang malang ini.
"15 ribu kak." Kata driver ojek online tadi memberitahukan berapa harga yang harus ku bayar.
Aku pun merogoh tasku untuk mengambil dompet dan segera membayarnya dengan uang 20 ribu.
"Ini mbak kembaliannya." Ucap driver tersebut sambil menyodorkan kembalian dari uangku.
" Tidak usah mas, untuk mas saja." Jawabku dengan tersenyum.
"Terima kasih banyak ya mbak, semoga selalu di berikan rejeki yang berlimpah ya mbak." Driver tersebut mendoakanku yang positif.
Yaa aku memang sering memberikan uang lebih kepada driver ojek online, entah hanya naluriku saja tapi aku ikhlas dengan apa yang ku beri. Bukan aku ingin bersikap sok baik pada orang, hanya saja memang sudah terbiasa seperti itu. Setelah itu, aku langsung berjalan menuju loker para LC, disana kami para LC dapat mengganti baju dan juga berdandan.
"Della, sudah sampai." Sapa seorang server di tempat kerjaku yang bernama Tomi.
"Iya kak.."
"Sudah di bilang panggil nama saja. Kita kan seumuran." Seringkali Tomi memang menyuruhku untuk memanggilnya dengan nama saja, hanya saja aku sudah terbiasa dengan orang-orang yang bekerja disini memanggilnya kakak. Bukan aku bersikap sok muda, hanya menghormati mereka saja yang lebih lama bekerja disini dibanding aku.
"Canggung kak. Aku biasa panggil semuanya juga kakak. Lagian kan memang duluan kakak lahirnya."
"Beda beberapa bulan saja. Ya sudah senyamannya kamu saja."
"Oh iya kak, aku permisi dulu mau bersiap-siap." Ucapku dengan sopan dan tak lupa dengan senyuman.
Della?? Kalian pasti penasaran kenapa aku di panggil Della disini? Della itu namaku di tempat kerja ini, ya nama samaran lebih tepatnya. Setiap kami para LC tidak diperbolehkan menggunakan nama asli disini. Kata koordinasi kami untuk menjaga identitas asli kami yang bekerja sebagai wanita penghibur.
Aku segera kembali melanjutkan langkahku menuju loker dan segera mengganti pakaianku yang biasa, menjadi pakaian yang sangat seksi. Pakaianku yang ketat di badanku, bagian dadaku yang terekspos, dan juga dengan rok pendekku yang di atas lutut. Tak lupa juga aku menggunakan sepaptu hells tinggiku yang 17 cm.
"Eh Della sudah siap saja" Sapa Angel.
Angel adalah kawanku yang memberikan pekerjaan disini dan bisa dikatakan dia primadona di tempat ini. Tak sedikit tamu mencarinya bahkan ada yang rela menunggu dirinya hingga kelar dengan tamu sebelumnya dan bergantian dengannya. Level pekerjaannya pun jauh lebih tinggi dan berbeda denganku. Dia bisa di booking untuk masalah menemani di ranjang juga, beda halnya denganku. Aku hanya bekerja sebatas menemani minum, menari, dan hanya bernyanyi.
"Iya kak" Jawabku pada Angel.
"Dandan yang cantik ya, Del. Nanti jalan bareng aku kalau sudah. Aku mau mengenalkanmu dengan salah satu tamuku. Dia sudah menunggu kita di lobi depan kasir." Ucapnya yang membuat aku kembali bersemangat kerja.
"Siap kak"
Setelah mengganti pakaianku dan juga sepatuku, aku segera melangkah ke depan meja rias untuk merias wajahku untuk terlihat lebih sempurna. Betapa semangatnya aku hari ini mendengar Angel akan mengenalkanku pada tamunya. Bagaimana tidak? Jelas aku semangat, karena tamu-tamu Angel kebanyakan orang-orang berduit dan royal banget.
Aku merias wajahku dengan make up yang membuatku terlihat sangat cantik, kali ini aku berdandan sangat teliti agar terlihat cantik dan sempurna.
15 menit berlalu, akhirnya penampilanku sempurna seperti yang kuharapkan. Semoga hari ini aku bisa mendapatkan tips yang banyak dari tamu Angel.
"Sudah beres?" Tanya Angel padaku.
"Sudah kak." Ucapku tersenyum.
__ADS_1
"Kamu memang cantik, jangan kecewain tamuku ya Del. Ini orang dutanya gede" Ucapnya. Yang dimaksud duta olehnya yaitu duitnya.
"Tenang saja kak. Dia karaoke atau di bar kak?" Tanyaku penasaran.
"Belum tahu sih. Tapi kayaknya di bar deh. Gapapa kan? Harus heboh ya del kalau bisa. Siapa tahu dia bisa booking kamu lagi lain waktu kalau dia datang lagi."
"Siap kak. Tenang saja."
Kami pun berjalan bersama menuju ke tempat dimana tamu Angel menunggu kami. Katanya sih tamunya 2 orang, sudah di pastikan 1 tamu dengan Angel sedangkan 1 tamu lagj ya itu denganku.
Di depan kasir..
"Sayanggg...." Angel langsung menghampiri dan memeluk tamunya yang tidak muda dan juga tidak tua.
"Sudah cantik sayangku ini." Ucap lelaki itu pada Angel.
"..." Aku melihatnya hanya diam dan tersenyum. Bukan aku senang mendengar mesra-mesraan mereka, sebenarnya aku jijik mendengarnya. Tapi aku mana bisa menunjukkan ekspresiku yang sebenarnya di hadapan pelanggan di tempat ini.
'Katanya ada 2 lelaki? Lalu kenapa yang ku lihat sama seorang lelaki ini saja? Lalu aku nemenin siapa?' Gumamku dalam hati sambil menoleh kepalaku ke kanan dan kiri mencari yang mana yang akan aku temani malam ini.
"Kamu kenapa Del? Seperti yang kebingunhan gitu?" Tanya Angel padaku yang terlihat kebingungan.
"Ah tidak apa-apa kok." Jawabku dengan tersenyum dan kembali menatap mereka berdua.
"Oh ya sayang kenalin ini Della yang ku ceritakan tadi di telepon." Angel memperkenalkanku pada tamunya.
"Angel" kataku sambil mencoba berjabat tangan pada lelaki itu.
"Saya Wahyu." Jawabnya sambil membalas jabatan tanganku. "Sebentar ya kawan saya lagi ke toilet sebentar".
"Oh iya mas gapapa." Ucapku dengan tersenyum dan berusaha terlihat ramah.
"Siapa dulu dong yang milihin."
Tak lama kemudian seorang lelaki datang ya bisa dibilang teman dari tamu Angel telah kelar dengan urusan toiletnya.
'Dia??!! Kenapa dia? Jangan bilang aku harus melayani orang ini!' Aku bergumam dalam hati ketika melihat teman dari tamu Angel. Betapa terkejutnya aku melihat seorang lelaki yang ku kenal. Aku segera menundukkan kepalaku, berharap dia tidak mengenaliku.
"Sorry menunggu lama" Ucap lelaki yang baru saja datang.
"Santai saja mas. Aku juga masih kangen-kangenan sama sayangnya aku." Ucap Angel dengan manja pada tamunya yang masih ia peluk.
'Astaga.. Mereka saling kenal?!' Aku benar-benar sangat terkejut mendengarnya.
"Oke deh. Oh iya yu, aku tidak pakai LC disini ya. Aku nungguin kamu beres saja." Ucap lelaki itu.
"Loh kenapa?" Terlihat jelas Wahyu yang terkejut atas ucapan temannya itu.
"Tidak pengen saja. Aku pengen menikmati musik dan minum sendiri saja."
"LC nya sudah di booking."
"Cancel atau tetap aku yang bayar saja. Jadi dia tetap ku bayar harganya di kasir dan tetap ku kasih tips."
"Kamu bilang saja sama wanita itu" Wahyu menunjuk kearahku yang sedari tadi hanya mendengarkan ucapan mereka sambil menundukkan kepalaku.
"Oh sudah disini?"
"Tunjukkan wajah cantikmu. Kenapa jadi menunduk seperti itu?" Ucap Wahyu padaku yang sesang menundukkan kepalaku.
Aku pun mengangkat wajahku menatap teman Wahyu tersebut.
__ADS_1
"Della" aku memperkenalkan diriku pada lelaki itu.
"Loh?! Anya?" Ucap lelaki itu dengan wajah terkejut melihatku.
'Mati aku, dia mengenaliku.' Aku berkata dalam hati.
"Kamu Anya kan?!" Tanya lelaki itu lagi padaku.
"Maaf mas, saya Della." Jawabku mencoba untuk tenang.
"Sudah-sudah kalau disini terus kapan kita masuknya? Oh ya inget ya, wanita ini tidak bisa di ajak ke kamar untuk melampiaskan nafsumu. Tidak seperti Angel." Kata Wahyu pada temannya tersebut.
"Oke. Tidak perlu cancel. Aku mau dia nemenin aku"
'Kenapa ga seperti ucapan awal saja sih. Dia bilang tidak mau pakai LC? Dia bilang ga masalah dia bayar biayaku ke kasir dan tetap memberikanku tips. Ah menyebalkan.' Aku menggerutu kesal dalam hati.
"Selamat malam tuan-tuan tampan..." Sapa Roy pada kedua tamu yang bersama denganku dan Angel. Roy selaku papi disini dan dia seorang banci. Dia yang akan memberikan para LC nya tamu, menyapa tamu, dan mengkoordinasikan kami para LC.
"Eh Roy, sudah lama tidak bertemu." Ucap wahyu.
"Masnya yang sombong, lama tidak datang kemari" Ucap Roy dengan gaya manja bancinya.
"Bukan sombong, tapi lagi banyak kerjaan."
"Harusnya sih sudah tebal lagi dompetnya"
"Sudah, makanya bisa kesini lagi bertemu dengan pujaan hatiku Angel."
"Iya deh. Gimana mau di karaoke atau Bar?"
"Di bar saja. Lagi males nyanyi saya. Tapi setelah itu saya lanjut eksekusi ya dengan Angel."
"Siaaaaapp"
Papi Roy pun memberikan sebuah kertas tanda terima pada Wahyu untuk di tanda tangani olehnya sebagai tanda persetujuan bahwa ia sudah membookingku dan juga Angel. Tak butuh waktu lama kami pun berjalan berpasang-pasangan menuju ke bar. Angel dan Wahyu berjalan duluan, aku dan temannya Wahyu berjalan mengikuti mereka dari belakang.
Di bar sudah di penuhi banyak pengunjung yang datang dengan berjoget ala mereka. Ruangan bar pun sudah dipenuhi banyak asap rokok, musik yang beatnya enak untuk di buat bergoyang, dan ada seorang DJ yang sudah memainkan musiknya dari tadi untuk menghibur para pengunjung.
Kami pun duduk di salah satu table VIP di bar tersebut. Table ini hanya untuk orang-orang kaya, karena memang harganya pun sangat mahal untuk bisa duduk di tempat VIP ini.
"Selamat malam, ingin pesan apa pak?" Tanya seorang pelayan di bar tersebut yang menghampiri meja kami.
"Tequila 2 botol dengan mix nya sprite" Ucap Wahyu.
"Baik pak, mohon di tunggu."
Pelayan itu pun pergi meninggalkan kami berempat.
'Semoga aku tidak mati karena mabok Tequila' Lidahku terasa seperti tak enak rasanya ketika mendengar Wahyu memesan Tequila. Aku benci minuman Tequila. Jangankan untuk meminumnya, aromanya yang sangat pekat itu saja sudah membuatku seperti ingin muntah.
Sofa di tempat VIP sebenarnya di peruntukkan untuk 10 orang, sedangkan kami hanya berempat. Banyak tempat yang kosong di sofa ini. Tempat dudukku berdekatan dengan teman Wahyu ini, sedangkan Angel dengan Wahyu agak berjarak dengan kami duduknya. Sehingga jika aku ingin berbicara pada Angel pun harus aku menghampirinya, karena tak akan terdengar. Musik disini terlalu kencang sekali sehingga suara kami pun kalah dengan musik tersebut.
"Bagaimana bisa kamu bekerja disini?" Tanya lelaki yang duduk di sampingku padaku.
"Ya karena butuh." Jawabku dengan cuek. Aku tak peduli, toh aku kenal tamu ini lagipula tak ada yang bisa mendengarkan pembicaraanku dengan lelaki ini.
"Bener kan tapi kamu Anya?"
"Iya pak Arya, saya Anya. Tapi kalau disini tolong jangan panggil saya Anya, disini nama saya Della" Ucapku menegaskannya.
Yaa, pak Arya selaku pengganti dosenku di kampus yang harus ku temani malam ini. Bisa dibayangkan betapa terkejutnya aku mengetahui bahwa aku harus menemani dan melayani dosenku ini.
__ADS_1