Wanita Penghibur

Wanita Penghibur
Part 29


__ADS_3

...Ada kertas diberi perekat...


...Kertasnya putih dalamnya hangat...


...Selamat membaca wahai sahabat...


...Semoga harimu selalu semangat....


...W.A.N.I.TA P.E.N.G.H.I.B.U.R...


Fan Ny me motong sayuran sambil me lamun. la sedang menyiap kan makan malam. Saat me-ngetahui bahwa uang yang di beri kan Cam bukan lah untuk meng usir nya, Fan Ny lega. Kemudian, saat menyadari ia sudah me nuduh Cam yang tidak benar, Fan Ny me rasa amat malu. Bahkan, me natap wajah Cam pun ia tidak be rani. Karena itu, ia me-larikan diri.


Di pikir kan bagai mana pun, sikap nya di ruang kerja Cam amat me-malukan. la bahkan sampai ber lutut dan me mohon seperti pengemis. Apa yang di pikir kan Cam tentang nya saat ini? Fan Ny tidak berani mem bayang kan.


"Fan Ny."


"Yah." Fan Ny me lonjak kaget. Hampir saja ia meng iris jari nya sendiri. la ber balik secepat mungkin. Cam ber diri menatap nya di ambang pintu. Rasa panas langsung menjalari pipi nya karena ter ingat kejadian di ruang kerja tadi.


"Kau sedang menyiap kan makan malam?"


"Ee, begitu lah." Fan Ny pura-pura ber konsentrasi pada sayuran yang sedang ia potong. Dengan ke-beradaan Cam di sana dan tatapan nya yang tanpa henti, Fan Ny gugup. Fan Ny memaksa kan diri meng hadapi Cam saat sadar pria itu tidak akan ber henti me lakukan nya.


"Ada apa? Muffin ingin mengatakan se suatu?"


Cam ter lihat ling lung dan ragu. Tatapan nya ter tuju pada meja yang penuh bahan makanan yang akan di olah, lalu kembali me natap Fan Ny. "Apa aku boleh mem bantu mu?"


"Eehhh!" Fan Ny benar-benar ter kejut kali ini. Cam ingin membantu nya memasak? Di sini? Sekarang? "Tentu saja."


Dengan canggung Cam menerima pisau yang di ulur kan Fan Ny. "Apa yang harus ku lakukan?"


"Potong sayuran ini dan ini. Potong dadu. Muffin bisa, bukan?"


Fan Ny meletak kan paprika dan wortel di atas papan potong.


Cam tampak benar-benar kebingungan dan seperti nya agak menyesali keputusan nya mem bantu. Namun, pria itu tidak me narik kembali kata-kata nya. Meski pun dengan gerakan kaku, Cam ber usaha me motong sayuran itu. Fan Ny menebak ini pertama kali nya Cam me lakukan pekerjaan dapur.


Fan Ny mengulum senyum. Me lihat Cam men coba ber baur dengan nya, telah me lenyapkan semua kegugupan dan rasa malu yang Fan Ny rasa kan. Walau pun Cam tak mengatakan nya, ia bisa me rasakan niat Cam untuk men cairkan ketegangan di antara mereka.


"Sudah, lebih baik aku yang menyelesaikan nya." Fan Ny tidak tega me lihat Cam ter siksa karena kesulitan me motong paprika.


"Ter nyata aku memang tidak bisa," gumam Cam datar. "Wajar saja. Seumur hidup Muffin tidak pernah memasak. Benar, bukan?"


Cam meng angguk singkat. "Apa ada hal lain yang bisa ku lakukan?"


Fan Ny ber kacak pinggang sambil meng hadap Cam. "Sebenar nya ada apa? Muffin tidak biasa nya ingin membantu ku me masak."


"Aku hanya ingin tahu bagai mana rasa nya. Bila ku perhatikan, kau selalu ber senang-senang setiap kali me masak." Cam ber sungguh-sungguh.

__ADS_1


Fan Ny bisa me rasa kan keinginan Cam untuk me minta maaf. Pria ini me rasa ber salah. Dan, Fan Ny akan men jadi wanita jahat jika me nolak nya.


"Baik lah. Kalau begitu, bantu aku mengocok adonan ini. Aku akan mengguna kan nya untuk hidangan penutup." Fan Ny men campur kan be berapa bahan ke dalam mangkuk kaca, lalu mem beri kan pengocok kepada Cam. "Muffin tinggal mengocok nya mengguna kan itu hingga adonan nya me ngembang."


Cam me lakukan petunjuk nya dengan patuh. Seandai nya ia tidak men cemas kan reaksi pria itu, Fan Ny ingin sekali memotret Cam yang canggung saat mengerja kan se suatu. Ia mem biar kan Cam larut dalam kesusahan nya dan me lanjut kan mengolah sayuran yang baru selesai di potong. "Aunty Bell meng ajak kita makan malam."


Fan Ny me noleh sejenak. Jadi, ini yang ingin di katakan Cam sejak tadi? "Jika Muffin ingin aku ikut, aku akan datang ber sama mu."


Cam meng angguk, kemudian kembali ber konsentrasi pada adonan nya. Me lihat Cam begitu serius, mem beri Fan Ny kesempatan me mandangi wajah tampan Cam. Tidak di ragukan lagi, tanpa senyum pun Cam sudah begitu mudah di cintai. Maka, Fan Ny tidak bisa mem bayang kan betapa banyak wanita yang akan ter pikat apa bila Cam selalu ter senyum. " Fan Ny...." Cam ber kata, lalu kembali diam.


Fan Ny menebak, masih banyak hal yang ingin di kata kan Cam, tetapi dia ragu. Fan Ny waspada. Mungkin kah pria itu ber ubah pikiran lagi?


"Aku minta maaf."


Tubuh Fan Ny tegang. "Untuk apa...?"


"Kata-kata ku tadi. Aku tidak ber maksud mem bentak. Aku menyakiti mu?"


"Tidak apa-apa. Aku mengerti. Aku pun akan marah jika ada orang yang meng acak-acak barang peninggalan orang yang kita sayangi." Cam ter cenung. "Kata-kata mu semakin membuat ku merasa ber salah."


"Muffin tidak perlu meng khawatir kan ku. Bagi ku yang ter penting adalah bisa melihat mu ter senyum." Fan Ny akhir nya bisa ter senyum tulus. "Kau tahu, Muffin, kau memiliki senyuman yang indah. Me lihat senyum mu saja, merupakan kebahagiaan ku yang paling sederhana."


Kedua mata Cam melebar.


Cam sangat terkesima sampai tidak menyadari tangan nya menekan alat pengocok ter lalu kuat. Akibat nya, adonan yang ada di dalam mangkuk ter ciprat ke mana-mana. Tanpa kecuali wajah Cam. Kejadian itu ter jadi begitu cepat. Ketika Cam sadar, wajah dan baju nya yang tak tertutup apron ter kena titik-titik adonan cair. Cipratan yang lain ber hamburan di atas meja dapur.


Sejenak suasana hening. Fan Ny yang tak kalah ter kejut ber diri beku di sisi Cam. Ter pukau dengan pemandangan yang di lihat nya. Sudut bibir nya ber kedut. Cam yang me-nyadari tanda-tanda Fan Ny akan ter tawa.


Fan Ny tak bisa menahan nya lagi. Wajah kaku Cam menggelitik selera humor nya. Tawa nya me ledak keras memenuhi dapur. Cam kesal. Ia menyabet serbet dengan kasar lalu mengusap kan benda itu ke wajah nya. la men delik ke arah gadis di samping nya. Cam terlalu jengkel karena malu.


"Maaf kan aku, Muffin, tapi wajah mu lucu sekali-ya!" Fan Ny mem belalak kan mata. Karena ter singgung, Cam men colek adonan cair itu lalu mengoles kan nya ke pipi Fan Ny.


"Itu balasan karena kau sangat lancang." Cam ber usaha ter lihat kejam agar Fan Ny takut dan ber henti ter tawa. Namun, tampak nya tidak ber hasil. Mereka ber pandangan selama be berapa saat, saling melempar kan tatapan jengkel. Sedetik kemudian, tawa kedua nya meledak.


Cam tidak tahu jika ter tawa karena hal kecil dan tidak penting bisa mem beri kan efek menenteram kan. Cam men-dapati diri nya santai. la bahkan lupa bila sebelum nya sempat di lema kemudian kesal. Cam me mandang Fan Ny yang masih ter tawa. la sadar, sejak Fan Ny masuk ke hidup nya, ia men jadi lebih sering ter senyum, bahkan ter tawa. Selain itu, Cam pun mulai ber henti ber mimpi buruk dan heran mengapa ia bisa menghabis kan waktu sendiri.


Fan Ny ber henti tertawa menyadari tatapan Cam yang mem buat kaki nya me lemas. la begitu ter pukau pada manik mata Cam seakan tidak ada lagi hal penting di dunia ini untuk di pandangi. Ketika ujung jemari tangan Cam meraba pipi nya, sentuhan itu mem beri sensasi ter bakar dan jantung nya ber degup tak ter kendali seperti yang terjadi di kamar Cam semalam.


Ekspresi Cam pun menyirat kan banyak hal. Ketika Cam men dekat, Fan Ny tahu apa yang akan terjadi. la pikir Cam akan kembali mengecup nya di bibir, tetapi ternyata Cam memberi nya satu kecupan hangat di kening. Meski pun tidak sesuai ekspektasi, perut nya tetap ber golak seakan ribuan kupu kupu beterbangan. Fan Ny mendongak agar bisa me mandang Cam. la ter kesima me lihat Cam memandang nya lembut.


"Aku senang yang menemani ku saat ini adalah diri mu." Cam berkata manis sekali.


Fan Ny seketika me rasa diri nya sudah tidak menapak bumi lagi. Pernyataan Cam membuat nya bahagia dan sedih di saat yang ber samaan. Tuhan, benar kah ia tidak boleh jatuh cinta pada pria ini? Seandai nya keadaan mengizin kan, apa Fan Ny sanggup apa bila kelak mereka ber pisah?


Suara bel me motong debaran jantung Fan Ny. la terkesiap. "Biar aku yang membuka nya. Muffin sebaik nya bersih kan wajah mu dengan benar."


"Tunggu." Cam menahan tangan Fan Ny. Dengan meng guna kan serbet yang bersih, Cam mem bersih kan noda adonan di pipi Fan Ny. "Nah, sekarang kau bisa mem buka pintu."

__ADS_1


Fan Ny menahan diri agar tidak pingsan karena perlakuan super manis Cam, la segera melari kan diri sebelum senyum bodoh nya menyebar ke mana-mana. Ia me lihat layar intercom lebih dahulu untuk mengetahui siapa yang datang. Seorang wanita tak di kenal ber diri di depan pintu dengan senyum mengembang di pipi. Siapa dia?


Karena penasaran, Fan Ny cepat-cepat membuka nya. Begitu pintu terayun mem buka, Fan Ny langsung di sambut teriakan melengking yang tidak lain ber tujuan untuk mengejut kan siapa saja yang mem buka pintu.


"Kak Cam!!"


Senyum heboh dan teriakan sang tamu langsung ter henti saat menyadari yang ber diri menyambut nya di depan pintu bukan lah Cam. Wajah ceria nya langsung di ganti kan tatapan curiga. "Siapa kau?"


"Aku Fan Ny Blair."


"Kenapa kau ada di rumah Kak Cam? Apa yang kau laku kan di sini?"


"Aku akan tinggal di sini."


"Apa? Kau bohong."


"Tidak." Kenapa gadis ini tidak percaya? Memang nya siapa dia? Di lihat dari penampilan nya, usia nya tak jauh ber beda dengan Fan Ny. Mungkin lebih tua satu atau dua tahun.


"Aku ingin bicara dengan Kak Cam!"


Gadis itu meng geser Fan Ny yang tanpa persiapan ke samping, lalu menerobos masuk dengan mudah. Fan Ny sangat terkejut. la mematung selama be berapa saat. Begitu akal sehat nya kembali, Fan Ny ber lari mengejar gadis itu.


...B.E.R.S.A.M.B.U.N.G...


Kasihan juga, Fanny sebagai wanita penghibur tidak diperbolehkan jatuh cinta pada tuannya.


Budidayakan setelah membaca, like dulu atau bisa juga sebelum membaca. Aku tahu, author tidak ada artinya tanpa pembaca, dan sebaliknya, jadi ayo bekerja sama saling memberi kesenangan.


JANGAN LUPA MAMPIR KE CERITA YANG LAIN YA, HEHE.



I'm Pregnant : Rayhan & Lisa (42 Episode : END)


I Hate You : Felix & Hanna (61 Episode : END)


Pasutri Gaje : Haris & Jasmin (94 : END)


Wanita seratus ribu : Wilson & Veila (81 : END)


Suamiku Jenderal : Chandra & Nadia (188 : END)


Menikahi Bad Boy : Azri & Widya (97 : On Going)


Tiba-tiba dilamar : Caesar & Alfira (46 : On Going)


Memories : Bagas & Raline (16 : On Going)

__ADS_1



Dan jangan lupa juga, follow, hehe, terima kasih.


__ADS_2