
Setelah menyiapkan hati dan pikiran, Fanny akhirnya memasuki rumah itu. la berjalan di belakang Gaston dengan langkah ragu. Nanti, jika ia menangkap sedikit saja raut tidak suka, ia akan segera melarikan diri.
Gaston mengajak Fanny memasuki ruang makan. Kehadiran mereka membuat dua orang yang sedang makan malam menoleh. la hampir melompat ke belakang tubuh Gaston ketika pandangan keluarga Rodriguez tertuju padanya.
"Gaston, anakku...." Audie Rodriguez bangkit dengan cepat sampai Fanny berpikir wanita itu melompat untuk tiba di hadapan mereka. "Mama, aku hanya tidak pulang selama seminggu!" Gaston malu ketika menerima pelukan Audie Rodriguez yang begitu erat dan hangat. "Kau seharusnya tinggal di sini!" kukuh wanita itu sambil menepuk lengan Gaston. Perhatiannya teralih pada Fanny yang tertutup tubuh Gaston.
"Tunggu, siapa di-Nona Blair! Kejutan yang menyenangkan! Bagaimana kalian bisa kemari bersama-sama?"
Darren Rodriguez ikut memerhatikan begitu nama Fanny disebutkan. "Mama, Papa, aku berkata bahwa aku sudah menemukan putri kalian yang hilang bertahun-tahun yang lalu, bukan?"
"Ya. Kau mengatakannya sekitar tiga bulan yang lalu."
"Nah, ini dia. Aku membawakan pada kalian malam ini."
Fanny terkesiap ketika Gaston mendorong Fanny ke depan Audie Rodriguez yang mengedip kaget. Fanny canggung, gugup, sekaligus malu. la memaksakan diri menyapa wanita yang diyakini sebagai ibu kandungnya.
"Se-selamat malam."
Pandangan Audie Rodriguez langsung teralih pada Gaston. "Maksudmu, Nona Blair adalah...." Darren Rodriguez berdiri. "Kau pasti bergurau, Nak. Bagaimana bisa...." Dia tampak tidak percaya, tatapannya tidak meninggalkan sosok Fanny.
"Benar, Pa, Ma, Fanny Blair adalah putri kalian yang hilang dahulu."
Kedua orang tua itu berdiri di hadapan Fanny. Ditatap secara bersamaan, Fanny gugup setengah mati. Pandangan mereka tidak merendahkan. Mereka sempat terkejut. Namun, tak berapa lama, mereka menangis gembira.
__ADS_1
"Aku sudah tahu ada yang istimewa ketika pertama kali bertemu denganmu. Itu merupakan firasatku sebagai seorang Mama yang mengenali putrinya. Tuhan, bagaimana bisa aku tidak menyadarinya lebih awal?"
Tubuh Fanny agak terdorong ke belakang ketika Audie Rodriguez memeluknya. Fanny bisa merasakan aliran kebahagiaan memenuhi setiap sudut hatinya. Matanya berkaca-kaca. Inikah rasanya dipeluk seorang Ibu?
"Kami sangat merindukanmu. Selalu merindukanmu!"
"Sayang, dia putri kita. Mengapa kau diam saja di situ?"
Fanny bertatapan dengan wajah ayahnya. Fanny berdebar- debar. Apa dia tidak percaya bahwa ia anaknya? Yah, ia pun tidak percaya pada awalnya.
Darren Rodriguez mengusap kepala Fanny. "Kau sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Aku merasa ada yang familiar ketika pertama kali bertemu denganmu dulu. Mungkin, ini perasaan seorang Papa yang bertemu putrinya."
Perlakuan hangat itu membuat Fanny terharu, hingga ia meneteskan air mata. Awalnya hanya aliran kecil, lama-lama berubah menjadi sedu sedan.
***
Gaston menjelaskan kiat-kiat yang digunakannya untuk menemukan Fanny berikut bukti tertulis yang merupakan hasil uji laboratorium yang membuktikan bahwa Fanny merupakan anak kandung mereka. Keduanya sedih mendengar kisah hidup Fanny yang harus melalui masa kecil dalam kemiskinan. Masa remajanya pun terampas karena dijual pada mucikari. Darren Rodriguez meminta Gaston agar menangkap si penculik.
Dengan cepat Fanny mencegahnya karena meskipun bersalah karena telah menculiknya, ayah yang selama ini Fanny sayangi itu berhak mendapatkan maaf karena merawatnya dengan baik. Orang tuanya mengangguk setuju, meskipun mereka akan sulit memaafkan.
Fanny menolak menyebutkan rumah bordil mana yang menjadi rumahnya selama ini karena ia merasa berutang pada Madame Jasmine. Namun, mereka lega karena Fanny belum sempat disentuh siapa pun.
Lalu, obrolan pun tiba pada topik yang paling dihindari Fanny. la tidak ingin membahas Cam, tetapi orang tuanya ingin sekali mengetahui hubungannya dengan Cam. Fanny pun menceritakan awal pertemuannya dengan Cam yang kemudian berakhir dengan takdir tak terduga. Mereka mendukung hubungan Fanny begitu mengetahui bahwa mereka sudah mendaftar pernikahan. Audie Rodriguez bersikeras mengadakan resepsi.
__ADS_1
Sementara itu, Fanny tidak yakin apakah cintanya pada Cam akan berakhir bahagia. la melirik jam kemudian ponselnya. Hari sudah larut tetapi Cam tidak kunjung meneleponnya. Itu artinya, Cam tidak mencarinya.
"Papa akan bicara dengan Cam tentang pernikahanmu. Kau tak perlu khawatir, kalian pasti akan menikah."
"Papa dan Mama, terima kasih atas perhatian kalian. Tetapi, kumohon tidak mengganggu Cam dulu. Dia sedang dalam kesulitan besar karena gosip yang beredar. Perusahaannya terancam bangkrut. Cam tidak akan sempat memikirkan hal lain selain memulihkan kembali perusahaannya."
"Karena itu kau melarikan diri?" tanya Audie Rodriguez iba. "Gosip itu sungguh kejam. Mama sudah tidak percaya sejak awal ketika mendengar gosip itu. Mama tahu kau gadis baik-baik. Sekarang, ketika tahu gosip itu ditujukan pada putriku, mama marah. Mereka yang menggosipkanmu sungguh terlalu."
Untuk yang satu ini Fanny sangat berterima kasih.
"Tentang perusahaan Cam yang hampir bangkrut, kupikir ini saatnya kita menjalin kerja sama dengan perusahaannya," ujar Darren Rodriguez pada istrinya. "Kita memang sudah mempertimbangkan hal ini sejak lama."
"Terima kasih Pa, Ma. Cam pasti akan senang."
"Kau pasti sangat mencintai Cam."
"Sangat."
"Lalu, bagaimana dengan malam ini? Kau tidak mungkin pulang, bukan? Untuk sementara, tinggallah di sini hingga keadaan kembali normal."
Fanny mengangguk. Ini lebih baik daripada tidur di jalanan.
Bersambung ....
__ADS_1