
Fanny tercengang menatap gaun tidur dengan model seronok di tangan nya. Apa yang harus ia lakukan dengan benda ini? Memakai nya? Tidak, Fanny tidak akan mau memakai baju berbahan tipis yang tidak mampu melindungi nya dari udara dingin. Sebenar nya, apa yang Miranda pikir kan saat mengemas baju semacam ini ke dalam koper nya? Fanny nyaris menjejalkan gaun itu ke dalam koper nya saat teringat pada tugas nya.
Ah, tentu saja. Bagai mana Fanny bisa lupa alasan nya berada di sini? Untuk menyenang kan Cam, bukan? Karena sudah menjadi seorang mist*ess, ia dan Cam pasti akan lebih akrab dari sekadar berpelukan dan berpegangan tangan. Itulah alasan mengapa wanita memakai pakaian semacam ini sebelum bermesraan dengan pasangan nya. Laki-laki senang pada ran****ngan visual.
Apakah Cam suka jika ia memakai nya ataukah justru akan memaki?
Tidak akan tahu jika tidak mencoba nya. Fanny memakai gaun itu dengan pipi memanas lalu keluar dari persembunyian nya, sebuah ruang baca kecil tak jauh dari dapur untuk menemui Cam. Fanny yakin penampilan nya saat ini tampak seperti wanita penghibur betulan.
Cam bahkan belum melihat nya, tetapi Fanny sudah malu setengah mati. Fanny melihat Cam kebingungan seperti sedang mencari sesuatu.
"Kau mencari ku?"
Pertanyaan itu spontan terucap dan respon yang Fanny terima pun begitu cepat. Cam berputar menghadap nya, kemudian terperangah. Mulut nya nyaris menganga dan mata nya memindai Fanny dari ujung kepala hingga kaki.
"Mengapa kau memakai nya?" tanya Cam pelan, tidak takjub atau terkesima sama sekali. Alih-alih, pria itu kebingungan.
Tuhan, reaksi itu sungguh di luar dugaan. Awas kau Miranda! Jelas-jelas saran nya tidak berpengaruh apa-apa. Fanny merasa sangat malu dan ingin menutupi tubuh nya dengan taplak meja yang berwarna putih dan cukup tebal. Tapi, karena sudah telanjur, Fanny memutus kan bertebal muka.
"Cuaca sedikit panas malam ini, karena itu aku memilih memakai pakaian yang sejuk." Fanny mengipasi diri nya dengan tangan. Apa nya yang panas? la menggigil saat mengganti baju tadi. "Bukan kah itu terlalu tipis?"
Fanny menelan ludah. Cam pasti menganggap nya konyol.
"Aku menyukai nya. Apa kau tidak?" Fanny refleks menampil kan ekspresi se***ual seperti yang sering di ajarkan para senior nya untuk menggoda.
Cam tercengang.
"Pergi ke kamar ku. Kita akan beristirahat di sana malam ini," ucap Cam singkat sebelum berbalik pergi meninggal kan Fanny dalam keterkejutan.
Mendengar instruksi itu, Fanny tegang. Jantung nya berdebar kencang. Jadi, malam ini mereka akan tidur bersama? Fanny tidak menyangka Cam tidak membuang-buang waktu. Sekarang apa yang harus Fanny lakukan?
Gila! Semua ini bisa membuat nya gila!
***
__ADS_1
Cam menderap dan nyaris berlari saat ia lagi-lagi melarikan diri dari perasaan yang berusaha di ingkari nya. Cam mengutuk siapa pun yang telah mengajar kan Fanny cara menaik kan h***rat nya dengan cepat. Tentu saja ia harus maklum apa bila Fanny bersikap provokatif sekaligus se***ual seperti tadi.
Yang membuat Cam kesal dan tidak bisa menerima nya adalah, tujuan nya menyewa Fanny bukan lah untuk mencari kesenangan duniawi semata. Tidak! Cam tidak akan melakukan nya. Ia akan merasa bersalah pada Fiona. Karena itu, Cam memilih kabur sebelum ia benar-benar tergoda dan menarik Fanny ke pelukan nya dan melakukan semua hal yang ingin di laku kan.
Tanpa sadar, Cam sudah berdiri di tepi kolam renang, tempat yang paling di favorit kan Fiona di seluruh rumah ini. Seketika Cam langsung teringat pada mendiang istri nya itu.
"Fiona, kata kan, apa kah yang ku lakukan ini benar? Aku ingin melupa kan kenangan buruk itu, tetapi tidak sanggup menyingkir kan semua memori kebersamaan kita." Itu merupakan alasan lain Cam tidak bisa memanfaat kan keberadaan Fanny saat ini. Cam masih belum bisa menentu kan sikap.
***
Cam benar-benar sulit di tebak dan Fanny masih belum berpengalaman untuk mengetahui apa yang harus di lakukan saat menghadapi pria seperti ini. Cam menyuruh nya ke kamar pria itu, lalu apa? la mengamati kamar itu dengan jantung berdebar. Kamar yang luas dan maskulin.
Mata nya melirik ranjang. Apa kah...apa kah... Fanny menangkup pipi nya yang memanas. Ia tidak sanggup membayang kan apa yang akan terjadi malam ini, di kamar ini. Tapi, paling tidak ia memiliki bayangan. Dan semua itu hanya membuat nya semakin tersipu malu. Dan takut.
Sebaik nya, ia tidak terlalu memusingkan nya. Fanny memutus kan menunggu Cam di atas ranjang. la masih tidak percaya dengan posisi nya saat ini. Dahulu, Fanny ketakutan saat pertama membayang kan harus melayani pria yang tidak di kenal.
Tetapi sekarang, mengetahui pria pertama nya adalah Cam, ia Justru berdebar-debar. Fanny berharap Tuhan memaafkan nya. Seandai nya segala nya berbeda.
Ketika pandangan mereka bertemu, Fanny sekilas melihat pergolakan emosi. Tapi, Cam dengan cepat menutupi nya. Pria itu menghampiri ranjang.
"Apa aku membuat mu menunggu?"
"Tidak." Fanny tak bisa berkonsentrasi saat Cam menarik selimut dan bergabung bersama nya di ranjang yang sama. la panik. "Apa yang kau lakukan?" Cam mengedip heran melihat Fanny menurunkan tali bahu gaun nya. Fanny menatap Cam bingung.
"Bukan kah malam ini kita akan...."
Cara Cam menatap nya saat ini membuat Fanny merasa begitu bodoh. Apa ia salah sangka? Apa hanya ia yang berpikiran bahwa malam ini mereka akan bercinta? Jika bukan, lantas apa yang akan mereka lakukan?
Cam pun mengakhiri siksaan rasa malu itu dengan menjawab, "Kita tidak akan melakukan apa pun." Tidak melakukan apa pun? "Bagaimana bisa? Kau menyewa ku untuk ini, bukan?" Fanny gelagapan karena bingung dan kaget.
Cam mendesah. Ia mengakui kesalahan nya karena tidak menjelas kan pada Fanny lebih awal. Ia membantu Fanny membenarkan posisi tali gaun tidur nya. "Benar, aku menyewa jasa mu. Tapi, bukan untuk tujuan itu."
Kini, Fanny benar-benar tidak mengerti. Lalu, apa fungsi nya mereka tidur bersama seperti ini? Apa guna nya keberadaan seorang wanita simpanan?
__ADS_1
Mereka saling bertatapan dalam keheningan. Namun, suasana akan berubah menjadi lebih canggung lagi. Fanny terlalu heran untuk melakukan apa pun. Cam memaklumi keterkejutan Fanny, tetapi ia tidak bisa menjelaskan alasan yang sebenar nya pada Fanny.
"Kita tidak akan be******ta," jelas Cam halus.
"Aku mengerti. Tapi mengapa?"
"Sebelum aku menjawab nya, bisa kah kau berbaring?" Cam menepuk bantal di sisi nya, meminta Fanny agar merebah kan diri di sana.
Dengan patuh Fanny melakukan apa yang di suruh Cam. Fanny mengerjap ketika Cam ikut berbaring, kemudian memeluk nya. Kedua tangan kekar lelaki itu hangat melingkari tubuh nya. Kenyamanan yang Fanny peroleh dari rengkuhan itu membuat jantung nya berdebar tak terkendali. Ini hanya pelukan, mengapa hati nya bereaksi seheboh ini?
"Aku sudah mengatakan sebelum nya pada mu. Gumaman Cam terdengar jelas karena mulut nya berada begitu dekat dengan telinga Fanny. la tidak berani mendongak, hanya terpaku menatap dada Cam yang terbalut kaus. "Aku menyewa jasa mu karena tidak ingin hidup sendirian lagi."
Bahkan, suara bisikan nya pun membuat jantung Fanny melonjak gembira. "Lalu, mengapa kau tidak mencari pacar sungguhan?"
Fanny merasakan tangan Cam melingkari tubuh nya lebih erat. "Aku hanya membutuh kan tubuh hangat yang bisa ku peluk saat akan tidur. Untuk mewujudkan nya tidak perlu dengan kekasih sungguhan. Terlalu merepot kan."
Jadi, Cam hanya belum siap menjalin hubungan serius dengan wanita?
"Mengapa? Apa kau takut menjalin hubungan serius dengan seseorang?" Sungguh sesuatu yang sulit di pahami karena Cam memiliki segala nya. Wajah tampan, harta, dan jabatan untuk menggaet wanita yang di inginkan nya.
"Kau terlalu banyak bertanya."
Fanny merona. Miranda pun pernah berkata bahwa ia cocok menjadi seorang wartawan karena kebiasaan nya mengajukan pertanyaan yang tiada henti.
"Maafkan aku. Mulai sekarang, aku akan membatasi diri."
"Tidak masalah. Aku hanya belum terbiasa. Sekarang tidurlah." Di sini, di pelukan Cam? Mereka akan tidur dalam posisi yang sama hingga pagi? Fanny membayangkan akan pegal-pegal ketika bangun keesokan hari nya. Namun, entah mengapa hal itu tidak membuat nya keberatan.
Siapa yang mengira tidur dalam dekapan seorang pria terasa sangat menyenang kan? Fanny mencari posisi senyaman mungkin di antara lekukan leher Cam dan mendapati diri nya jatuh tertidur dalam sekejap mata.
Bersambung
Jangan lupa like dan komen ya, guys.
__ADS_1