
Fanny menyandar kan pinggul nya ke tepian meja dapur. la merenung sambil menunggu sup nya mendidih. Seharian ini ia sudah berusaha mencari tahu apa yang membuat Cam berduka, tetapi tidak berhasil mendapat kan informasi secuil pun. Beberapa pembantu rumah tangga yang di temui nya enggan berkomentar dan memilih menghindar, alih-alih menjawab rasa ingin tahu nya.
Bibi Brown pun berpura-pura tidak mendengar saat Fanny bertanya siapa Fiona. Seperti nya, semua orang di rumah ini kompak menyembunyi kan hal itu. Mungkin Fanny saja yang bergerak terlalu cepat. Tentu saja, ia orang baru di rumah ini. la tidak akan bisa mendapat kan informasi karena belum di percaya.
Dari pada sibuk memikir kan masalah yang belum pasti, lebih baik Fanny melanjut kan pekerjaan nya. Bukan kah ia sudah berjanji akan menyiap kan Cullen Skink dan Black Pudding untuk makan malam? Kebetulan ia menemu kan sekotak Black Pudding di lemari pendingin sehingga tidak perlu pergi keluar untuk membeli nya.
Fanny mendengar suara gaduh dari arah pintu depan. Ada yang datang? Mungkin Cam. Jika tamu, dia harus membunyi kan bel terlebih dahulu. Bibi Brown dan pembantu lain nya sudah pulang sehingga hanya Fanny yang ada.
"Untung lah makan malam sudah siap." Fanny melepaskan apron lalu meletak kan panci sup di meja makan. la hendak pergi ke depan untuk menyambut Cam, tetapi pria itu lebih dulu muncul. Pria itu tidak sendiri. Cam pulang bersama teman nya, Austin Carter.
"Hai, Nona Blair! Kita bertemu lagi. Kau masih mengingat ku?" Lambaian tangan Austin yang super heboh membuat Fanny mengerjap. Cam memutar bola mata di belakang nya.
"Tentu saja. Anda Tuan Carter." Fanny menunduk kan kepala dengan sopan. Austin tahu siapa diri nya sehingga tidak perlu bersandiwara.
"Panggil aku Austin saja. Sekarang kita adalah teman dekat." Cam menahan bahu Austin yang tampak nya hendak mendekati Fanny. "Jaga tangan mu atau aku akan mengusir mu dari rumah ini."
"Aku tahu. Kau ini benar-benar posesif." Austin tersenyum pada Fanny. "Ku harap aku tidak mengganggu."
"Kau sangat mengganggu."
"Tidak."
Cam dan Fanny saling memandang karena mengucapkan jawaban berbeda secara bersamaan. Pipi Fanny merona ketika bertatapan dengan Cam, sentak mengalih kan perhatian nya ke arah lain. Fanny merutuk dalam hati. Sekarang bahkan menatap mata Cam terlalu lama saja ia tidak sanggup.
"Makan malam sudah siap. Sesuai janji, aku memasak Cullen Skink."
Mata Cam melebar. Fanny sungguh-sungguh membuatkan nya?
Respon hangat justru di tunjuk kan Austin. "Keren.. Kau memasak untuk Cam? Wah, kau benar-benar calon istri idaman." Fanny tidak tahu bagaimana membalas nya. Menjadi istri seseorang tidak pernah masuk dalam daftar keinginan nya sejak memilih pekerjaan haram ini. Ia hanya bisa merona dan menerima pujian itu sebagai hiburan semata. Ia melirik Cam yang tidak berkomentar. Ekspresi nya tak terbaca.
Cam duduk di kursi. Cam sudah dalam tahap menikmati irisan buah yang Fanny siapkan. Mereka mengobrol sambil menikmati makan malam.
"Aku sebenar nya tidak ingin mengundang nya, tapi dia memaksa. Dia berkata ingin mewawancarai mu," kata Cam pada Fanny.
"Nona Blair bekerja pada ku, tentu sudah sewajar nya jika aku mengobrol dengan nya," timpal Austin.
"Bekerja pada mu? Oh...." Fanny mengangguk paham. Cam memberi tahu Bibi Bell bahwa ia seorang sekretaris. Jadi, itu tidak sebatas omongan saja? "Apa kah aku harus benar-benar bekerja?" tanya Fanny.
__ADS_1
"Seperti nya begitu. Sebetul nya aku senang. Kita jadi bisa sering bertemu," jawab Austin antusias.
"Fanny tidak benar-benar melakukan nya," sela Cam tajam.
"Kau bilang dia pegawai ku." Austin berkedip polos. Sebenar nya ia hanya bercanda. Ia terlalu menikmati kesenangan nya mengusik Cam.
"Aku hanya menyuruh mu mengatakan nya jika ada yang bertanya." Cam memaling kan wajah dengan ketus. Austin mengangguk ringan kemudian menyeruput kuah sup dengan nikmat. "Ini enak sekali. Kau bisa masuk daftar calon istri idaman ku."
Cam mengepal kan tangan. Fanny yang tidak menyadari Austin sedang mencoba memancing kecemburuan Cam, dengan tenang berkomentar. "Seperti nya itu mustahil. Aku terikat dengan Cam saat ini."
Pandangan Cam teralih pada Fanny. Pria itu menatap tanpa kata.
"Aku tahu. Karena itu, aku agak menyesal mengapa bukan aku yang memilih mu. Cam sungguh beruntung mendapatkan mu." Lagi-lagi untuk yang ke sekian kali, pipi Fanny memanas. Jika boleh di tambah kan, ia lebih beruntung lagi di pilih oleh Cam.
"Maksud mu, sebenar nya kau ingin memiliki wanita simpanan juga? Mama mu akan membunuh mu. Lagi pula dari pada terus bermain main, mengapa kau tidak kunjung menikah hingga sekarang?" tambah Cam.
"Pertanyaan yang sama ku ajukan untuk mu, terutama sejak Fiona...." Austin mengatupkan bibir. la menghentikan nya di saat yang paling penting.
Austin tidak boleh lupa bahwa mengungkit masa lalu Cam hanya akan membuka kembali luka yang belum sembuh. Fanny menggerutu dalam hati karena gagal mendapat kan info yang membuat nya penasaran. Padahal, ia menantikan nya dengan waspada. Diam-diam ia melirik Cam. Sinar wajah nya meredup. Cam terlihat muram. Sebenar nya, beban seberat apa yang sedang di tanggung Cam?
Dari cerita itu, Fanny tahu mengapa penampilan Cam sebelum nya terlihat culun dan biasa saja. Hal itu di lakukan demi membuat nya tidak terlihat menarik di mata wanita, khusus nya wanita yang di jodohkan. Apa mungkin setiap mereka bertemu, Cam baru selesai menghadiri kencan buta? Sungguh ironis, Fanny tertarik pada Cam karena penampilan nya yang konvensional.
Sepanjang obrolan, Cam hanya menanggapi seada nya. la tampak memikir kan sesuatu dan Fanny tidak berani berta nya. Cam segera pergi ke ruang kerja nya begitu Austin pulang. Setelah selesai membereskan meja makan dan dapur, Fanny membawa kan segelas susu untuk Cam.
Fanny menghela napas. Jika pekerjaan nya hanya berdiam diri di rumah dan menyiap kan makan, ia tidak akan merasa diri nya seorang wanita simpanan lagi, melain kan pembantu atau mungkin... istri.
Kau berkhayal lagi. Fanny mengomeli diri nya sendiri.
***
Cam tidak ada di ruang kerja nya. Jika tidak ada di sana, kemungkinan lain berada di kamar nya. Dugaan nya benar. Fanny menemu kan Cam di beranda kamar. la berdiri tegak dengan pandangan menerawang ke depan, tenggelam dalam pikiran nya. Wajah sendu nya itu entah mengapa membuat Fanny tersayat, la penasaran, apa yang di pikir kan Cam, atau siapa.
"Kau memiliki senyum yang indah. Jangan pernah lupa untuk menunjukkan nya pada dunia."
Kata-kata merdu Fiona menggema dalam keheningan Cam, seakan ia mendengar nya secara langsung. Namun, Cam tahu itu hanya lah kenangan yang tidak akan bisa ia putar ulang. Bayangan hari itu, tidak akan bisa di lupakan begitu saja. Cam tidak mungkin melupakan hari ketika ia dan Fiona secara resmi menjadi istri nya. Kebahagiaan yang di rasakan nya sungguh tak terkira dan sepuluh bulan pernikahan mereka merupakan masa paling indah.
Fiona berpendirian teguh, pekerja keras, dan juga keras kepala, tetapi juga ceria dan menyenang kan. Terlepas dari paras nya yang cantik dan latar belakang keluarga nya yang kaya, Cam tetap mencintai nya. Fiona bercita-cita ingin menjadi seorang sutradara. Cam mendukung nya dengan sepenuh hati. Pernikahan mereka terasa semakin sempurna saat Fiona mengandung anak pertama mereka. Cam semakin mencintai Fiona.
__ADS_1
Keyakinan Cam akan kebahagiaan yang akan terus bertahan pupus ketika kecelakaan itu merenggut nyawa Fiona dan janin dalam kandungan nya. Ia tak pernah bisa memaaf kan diri nya yang telah menyebab kan kematian Fiona. Cam bagai kaca yang hancur berkeping-keping. Untuk kesekian kali nya ia di tinggal kan dan untuk kesekian kali nya pula ia kembali hidup sendiri.
Seolah Tuhan belum puas melimpah kan kemalangan kepada nya, sejak hari itu ia terus di hantui mimpi buruk setiap malam. Rasa bersalah merenggut senyum nya dan kesendirian memupus kepercayaan nya pada cinta. Cam tak mengizin kan diri nya untuk bahagia. Untuk siapa ia bahagia? la tak memiliki siapa pun.
Sekalipun aku tidak ada, berjanji lah untuk tetap bahagia. Suara Fiona menggema di kepala Cam, membuatnya memejam kan mata.
Bagaimana jika aku tidak bisa?
Jika tidak demi diri ku, maka demi diri mu sendiri.
Aku tidak bisa. Fiona, maafkan aku!
"Muffin, kau baik-baik saja?"
Cam terhenyak sadar. Lamunan nya terbuyar kan. Suara Fiona lenyap dan tergantikan oleh suara yang sudah di kenal nya. la menoleh. Di ambang pintu yang memisah kan beranda dengan kamar nya berdiri Fanny Blair. Gadis itu memegang segelas susu di tangan kanan nya. Raut wajah nya terlihat cemas.
Entah mengapa, kali ini Cam merasa bersalah. Demi lepas dari belenggu mimpi buruk, Cam secara sengaja mencari kekasih bayaran dan Fanny telah menjadi korban dari rasa tidak puas nya itu. Jika ia melakukan nya pada wanita panggilan sebenar nya, ia tidak perlu merasa bersalah. Namun, Fanny berbeda. Walaupun Cam mendapatkan nya dari rumah bordil, hati Fanny masih polos dan murni. Cam merasa sangat buruk karena telah menyeret Fanny ke dalam kehidupan nya yang suram.
"Tidak ada apa-apa." Cam memalingkan pandangan. "Aku tahu Muffin berbohong." Fanny Young menyerah kan gelas susu ke tangan Cam. "Minum lah. Mungkin bisa membuat perasaan mu menjadi lebih baik."
Cam tidak langsung meminum nya. la malah memandangi gelas itu. Tangan Fanny yang hangat memegang lengan nya dengan lembut.
"Aku tidak tahu apa yang Muffin khawatir kan. Tetapi, jangan bersedih, bukan kah aku di sini? Menjadi tempat mu bersandar juga bagian dari tugas ku."
Sesuatu mendesir, mengalir, dan menggetarkan hati Cam. Kebaikan dan perhatian Fanny menimbul kan sengatan memilukan di hati. Cam sadar tidak bisa memanfaat kan Fanny lebih lama lagi. Keinginan nya untuk lepas dari belenggu masa lalu yang menyiksa gagal sudah.
Maaf, Fiona. Aku berusaha untuk bahagia. Tapi tanpa kehadiran mu, aku tidak bisa. Aku juga ingin melupakan mu, tetapi aku tidak sanggup melakukan nya.
"Terima kasih," gumam Cam seraya menatap gelas susu di tangan nya. "Dan Fanny, malam ini kita tidak bisa tidur bersama." Fanny tercengang. "Kenapa?" tanya nya gamang.
"Aku ingin sendirian. Kau bisa memakai kamar di seberang kamar ini."
Cam memalingkan pandangan dan Fanny sadar ia sudah di usir dari kamar ini. Gadis itu mengangguk mengerti, lalu pergi tanpa suara.
Sepeninggal Fanny, Cam tersenyum pahit. Pengecut. Lagi-lagi kau melarikan diri. Kau hanya tidak mau gadis itu melihat mu dalam keadaan menyedih kan.
Bersambung .....
__ADS_1