
Rumput hijau membentang sejauh mata memandang, bagaikan karpet tebal yang terhampar di bawah naungan langit. Hari begitu cerah, sangat mendukung permainan mereka hari itu. Fanny duduk di kursi kayu teras resort yang luas sambil menikmati secangkir teh. la sedang mengamati permainan golf Gaston.
"Aku bertaruh dia tidak akan berhasil," gumam Cam di kursi sebelah.
"Jangan remehkan Kak Gaston. Dia hebat melakukan apa pun."
Cam mendengkus. "Jangan puji! Aku tidak ingin anak kita mirip dia."
Fanny mengusap perutnya yang membesar. Usia kandungannya sudah 9 bulan. Dokter memprediksi ia akan melahirkan seminggu lagi. Sebenarnya, Cam sudah melarangnya bepergian. Namun, ia memaksa ikut Cam ke sini.
"Aku yakin dia mirip denganmu."
"Tentu saja. Dia anakku."
Mereka sudah melaksanakan resepsi pernikahan tujuh bulan lalu. Kehidupan mereka berjalan membahagiakan, meskipun kadang masih sering bertengkar. Hubungan Cam dengan Ivy pun membaik setelah Ivy meminta maaf di hari pernikahan mereka. Ivy mengakui kesalahannya. Cam memaafkan Ivy, karena tahu pada dasarnya Ivy gadis yang baik.
Cam tersenyum melihat Fanny mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang. Dia terlihat semakin cantik sejak hamil. Cam mendapati dirinya suka sekali memandangi Fanny kapan pun Fanny berada.
"Dugaanku tentangmu sejak awal terbukti benar."
"Apa?"
"Kau adalah putri seorang konglomerat. Aku selalu merasa pernah melihatmu. Rupanya kau mengingatkanku pada Darren Rodriguez.Yah, siapa sangka. Dalam mimpi pun aku tidak pernah memikirkannya." "Hei, Pak Tua!"
Mereka berdua menoleh. Gaston menghampiri mereka. "Giliranmu."
Gaston masih suka berbicara tidak sopan pada Cam walaupun usianya lebih muda satu tahun. Cam sama sekali tidak keberatan. la sudah tahu karakter Gaston sehingga malas memperingatkan pria itu.
__ADS_1
Cam bangkit untuk mengambil stik golfnya. Tadinya, ia akan membiarkan Gaston bermain sendiri, ia tidak tega meninggalkan Fanny. Namun, karena ada Gaston, ia bisa menyerahkan penjagaan Fanny padanya.
"Aku tidak akan lama." Cam mencium kening Fan Ny lalu bangkit.
Fanny menatap punggung Cam. Suaminya itu sudah tidak pernah terlihat sedih lagi, apalagi bermimpi buruk. Cam lebih banyak tertawa.
"Aku masih tetap berharap!" ujar Gaston.
"Apa?"
"Kau bercerai dengan Cam."
"Kak!" Fanny hampir tersedak tehnya. la tak habis pikir, Gaston masih suka menggodanya dengan lelucon yang sama.
"Bagaimana aku bisa bercerai saat kondisiku seperti ini. Bayiku membutuhkan seorang ayah."
"Huh, sayang sekali."
"Lebih baik kau pergi. Kenapa kau suka sekali mengganggu waktu kami?"
"Aku ingin bertemu adikku."
"Kau Cam dan Gaston berhenti saling mengolok begitu Fanny memukul lengan mereka agar diam.
"Kenapa kalian suka sekali bertengkar! Kalian ini-aduuh," Fanny memegangi perutnya yang mendadak mendapatkan kontraksi.
Kedua pria itu langsung panik.
__ADS_1
"Fanny, apa yang terjadi?" Gaston kebingungan sendiri. la tidak tahu harus berbuat apa melihat Fanny kesakitan. Tangan Fanny mencengkeram bahunya dengan sangat kuat. Sepertinya sakit yang dialaminya sangat menyiksa.
"Dia kontraksi. Dia akan melahirkan," ujar Cam, berusaha tenang. Cam tidak ingin membuat Fanny khawatir. "Cepat siapkan mobil."
Gaston langsung berlari memasuki resort untuk meminta bantuan.
Cam merangkul Fanny, mendudukkannya secara perlahan di kursi. "Sejak kapan kau merasa sakit seperti ini?"
"Sejak kemarin malam."
"Apa? Kenapa kau tidak mengatakannya?"
"Aku tidak ingin membuat Muffin panik. Lagi pula aku masih bisa mengatasinya. Sakitnya tidak sampai separah ini."
"Tapi dokter bilang masih seminggu lagi. "Perkiraan dokter bisa saja meleset."
"Kau benar. Sekarang, kita harus segera membawamu ke rumah sakit." Kebetulan sekali Gaston tiba bersama sebuah mobil. Fanny tiba di rumah sakit terdekat lima belas menit kemudian. Cam terus memberinya dukungan mental agar Fanny siap menjalani proses persalinan. Gaston menelepon kedua orang tuanya sambil menunggu di luar.
Sekitar dua jam penuh perjuangan, anggota baru keluarga itu akhirnya lahir. Seorang bayi laki-laki yang gemuk. Fanny kelelahan, tetapi juga bahagia. la tersenyum melihat Cam menggendong bayinya dengan mata berkaca-kaca.
Anakku, akhirnya kita bertemu.
Cam mendekap anaknya, menempelkan pipi bayi mungil itu ke pipinya sendiri. Kebahagiaan yang dulu hampir dimilikinya, tetapi lenyap karena terpisah oleh kematian akhirnya bisa ia rasakan juga.
"Terima kasih sudah membuat kebahagiaanku sempurna." Cam mengecup kening Fanny.
"Itu merupakan sebuah kehormatan." Fanny tersenyum. Kegembiraan itu semakin terasa dengan kedatangan kedua orang tua Fanny, juga Bibi Bell. Mereka berebut ingin menggendong si kecil. Cam mencoba menenangkan mereka karena suara mereka membuat anaknya menangis.
__ADS_1
Dan, tangisan pertama anggota termuda keluarga Harrison itu membuat segalanya semakin sempurna.
\=\= FIN \=\=