Wanita Penghibur

Wanita Penghibur
Part 18


__ADS_3

"Aku hanya tidak ingin lagi hidup seorang diri."


Fanny tidak berani bertanya lagi melihat Cam mengalih kan perhatian nya ke jalanan. Nada suara nya menyiratkan luka mendalam. Fanny bertanya-tanya, luka macam apa yang meninggalkan bekas yang tak bisa hilang? la yakin hal itu berkaitan dengan alasan Cam mencari seorang kekasih bayaran, alih-alih seorang istri jika pria itu memang tidak lagi ingin hidup sendiri. Aku akan mengetahui nya, cepat atau lambat.


Padahal, belum lama mereka duduk bersama, Fanny sudah ingin mengenal Cam lebih jauh. Sejauh ini, ia lebih sering melihat wajah Cam yang marah atau tanpa ekspresi. Tampak nya Cam jarang sekali tersenyum. Apa hidup nya begitu sulit? Fanny teringat pada mobil Cam saat itu dan gaya busana nya yang ketinggalan jaman.


Namun, melihat nya sekarang, tentu saja tidak mungkin. Cam pasti orang yang sangat kaya karena sanggup menyewa jasa di kantor Madame Jasmine. Apalagi sampai membuat wanita itu membatalkan kontrak nya dengan Tuan Scott. Fanny tidak berani membayangkan berapa uang yang di keluarkan Cam untuk menyewa diri nya. la harus bekerja dengan sungguh-sungguh.


Pipi nya memanas karena tidak tahu bagaimana bekerja dengan sungguh-sungguh. Ini pengalaman pertama nya menjadi kekasih seseorang. Bagaimana jika Cam tidak menyukai sifat nya? la juga belum mengenal Cam sehingga tidak tahu bagaimana cara menyenangkan nya. Sekarang saja, ia tidak tahu apa yang harus di lakukan nya untuk menghibur Cam.


"Kita sudah sampai."


Suasana hening terbuyarkan oleh gumaman Cam. Rupa nya mereka sudah tiba di rumah lelaki itu. Fanny melongok ke luar jendela. la harus menahan diri agar tidak menganga melihat rumah yang luas dan indah. Bangunan itu bercat putih dan di dominasi kaca di beberapa sisi bangunan.

__ADS_1


"Ayo turun."


Fanny menatap tangan Cam yang terulur. Sejenak ia bingung. Kemudian tersadar bahwa sekarang ia adalah milik Cam dan sudah sewajar nya jika mereka berpegangan tangan. Fanny mengapit tangan Cam dengan malu-malu. Ini pertama kali nya ia berpegangan tangan dengan seorang pria. Rasa nya hangat dan mendebarkan.


Cam membantu nya turun dari mobil. Sopir menurunkan satu koper Je Young dari bagasi. la hanya membawa sedikit baju. Fanny mendongak takjub seperti anak kecil yang pertama kali nya melihat istana.


"Apa ini rumah Anda? Indah sekali."


"Terima kasih. Ayo masuk."


"Anda tinggal sendiri di rumah sebesar ini?"


"Iya." Cam berhenti ketika mereka baru melewati pintu utama, lalu berbalik menghadap Fanny. "Ada satu hal yang perlu kau ingat. Singkirkan formalitas di antara kita. Karena itu, berhenti memanggil ku Anda."

__ADS_1


"Baiklah." Fanny mengangguk. "Lalu, aku harus memanggil mu apa?"


"Apa pun yang kau suka." Cam mengendik kan bahu.


Fanny kembali mengangguk. la akan memikirkan panggilan yang tepat untuk Cam. Ia mendongak hendak bertanya di mana ia harus meletakkan koper nya ketika tiba-tiba Cam memeluk nya kemudian m*e*n*c*i*u*m b*i*b*i*r*n*y*a.


Waktu seakan berhenti. Fanny hanya bisa merasakan material selembut sutra, tetapi hangat menempel di bibir nya dan suara detak jantung yang menggila. Fanny terkesima dengan tubuh mematung. Inikah rasa nya di cium laki-laki?


Ciuman itu berakhir. Cam menjauhkan wajah nya perlahan. Mata mereka bertemu. Fanny bisa melihat pantulan dirinya di mata Cam. la bisa melihat pusaran berbagai emosi di manik mata indah milik Cam. Fanny ingin mengatakan sesuatu, tetapi bibir nya terkunci. Lidah nya kelu.


"Sekarang kau resmi menjadi kekasih ku." Cam mengatakan nya dengan lembut. Ekspresi nya masih tak terbaca.


Debaran di d*a*d*a Fanny semakin tak terkendali. Sebelum la sempat memberikan respon apa pun, Cam melepaskan nya, kemudian pergi. Fanny merasakan pipi nya terbakar. Pertama kalinya seumur hidup, ia merasakan kegembiraan seorang wanita yang baru saja menerima pernyataan cinta.

__ADS_1


Bersambung ....


Eh Cam, main nyosor aja!


__ADS_2