Wanita Penghibur

Wanita Penghibur
Part 40


__ADS_3

Sua sana di dalam mobil itu sepi. Tidak ada yang men coba mem buka percakapan. Tipe seperti mereka pasti sulit di ajak ber gurau dan Fan Ny sudah ter lalu tegang juga ke takut an untuk me mulai obrolan apa pun. Benak nya masih me mikir kan Cam yang ia tinggal kan dalam keadaan pingsan.


Fan Ny tidak tahu ia sedang di bawa ke mana. Sejak di paksa naik mobil itu, ia men coba meng hafal kan jalan, tetapi tidak bisa. Mobil me laju ter lalu kencang. Lima menit per tama ia masih ber konsentrasi meng ingat setiap gedung dan halte bus yang di lalui nya. Namun, pada akhir nya, Fan Ny menyerah dan me mutus kan untuk duduk diam. Untung saja orang-orang barbar itu baik.


Mereka tiba di sebuah hotel mewah. Mengapa ke hotel? Bukan kah biasa nya para pen culik mem bawa korban nya ke tempat ter pencil? Bukan tempat umum dan ramai se macam hotel? Lagi lagi Fan Ny tidak di beri kesempatan untuk me lihat nama hotel itu. Mereka sengaja masuk me lalui basement agar tidak me narik per hatian. Fan Ny ketakutan. Lenyap sudah harapan nya me minta tolong. Pada hal, ia sudah be rencana akan ber teriak jika mereka masuk me lalui lobi hotel.


Fan Ny di dorong masuk ke dalam lift. Jalan nya langsung di halangi pria-pria ber jas itu. Dalam kesunyian yang menegang kan, ia ingat adegan se buah film saat salah satu tokoh nya di culik dan di sekap untuk kemudian di bunuh. Fan Ny sangat me nyesal karena tidak mengidah kan peringatan Miranda. Apa Tuan Scott sungguh ber niat men celakai nya?

__ADS_1


Mereka tiba di depan pintu se buah kamar. Fan Ny me nolak di desak kali ini. la masuk atas kemauan nya sendiri. la di per silakan duduk di ruang tengah kamar royal suite hotel itu. Salah se orang bodyguard meng hidang kan teh untuk nya dan se potong kue tart. Situasi yang di alami nya sungguh aneh. Fan Ny yakin ia di culik, tetapi me ngapa ia tidak me rasa ber ada di situasi ber bahaya?


"Minum lah, Nona, selagi Anda me nunggu. Tuan Scott akan segera tiba."


"Apa teh ini di bubuhi racun?" Fan Ny me lirik cangkir teh yang masih mengepul kan asap itu dengan ragu. Sejujur nya ia haus. Namun, ia tidak akan sudi me nyentuh apa pun se belum ber temu Tuan Scott dan ber tanya akan maksud nya.


Tak berapa lama, Fan Ny men dengar suara derap sepatu. Para pengawal yang ber jaga di sekitar Fan Ny ber balik ke arah suara itu, lalu mem bungkuk kan badan. Mereka jelas tahu siapa yang datang, dan Fan Ny pun bisa me nebak nya. Yah, siapa lagi kalau bukan Tuan Scott.

__ADS_1


Fan Ny men dongak. Tadi nya ia hendak me layang kan sederet kalimat protes di sertai makian, tetapi bibir nya men jadi ter katup rapat begitu ber tatapan dengan sosok pria muda yang tampan.


Tubuh nya yang tinggi dan tegap me maksa Fan Ny benar-benar men dongak. Kenyataan itu mem buat Fan Ny ter ke siap.


Pria itu ter senyum manis me lihat Fan Ny me longo. "Ah, aku lupa mem per kenal kan diri. Aku ada lah orang yang me nyewa mu se belum nya."


Tanpa sadar, Fan Ny mengeluar kan pekikan kaget. Akhir nya. se telah sekian lama, ia ber temu dengan Tuan Scott juga. Fan Ny se lalu mem bayang kan sosok Tuan Scott seorang pria ber umur 40 tahun. la tidak me ngira Tuan Scott se muda ini. Dari penampilan nya, ia ter lihat sebaya dengan Cam. Mungkin lebih muda satu atau dua tahun.

__ADS_1


"Kau Tuan Scott?"


Bersambung ....


__ADS_2