Wanita Penghibur

Wanita Penghibur
Part 37


__ADS_3

Cam me lirik jam nya. Ia sudah ber siap untuk pergi. Sesuai janji, hari ini ia akan ber jalan-jalan dengan Fan Ny. la jarang se kali ber kencan, bah kan saat ber pacaran dengan Fiona dahulu. Hari-hari mereka guna kan untuk belajar di perpustakaan kampus. Setelah me nikah pun, mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing se hingga bisa di kata kan ini me rupa kan kali per tama Cam ber kencan. Ia tidak tahu apa yang harus di laku kan. la serah kan sisa pekerjaan nya pada Edward. Yah, Cam sangat ber tanggung jawab dengan pekerjaan nya. Ia tidak bisa me ninggal kan nya begitu saja walau pun sudah ber janji akan bolos.


Ketika me nyusuri lorong kantor yang sepi, langkah Cam ter henti karena sosok Ivy meng hadang jalan nya. Ekspresi wajah Ivy serius. "Ada apa?"


"Ada yang ingin ku bicarakan."


"Bicara saja. Aku harus pergi. Aku ada janji yang tidak boleh ku lewat kan."


Kedua mata Ivy menyipit. "Apa itu janji dengan Fan Ny Blair?"


Cam mem balas nya dengan tatapan datar. "Kau harus me ninggal kan tunangan mu itu sekarang," rengek Ivy.


"Topik ini lagi." Cam men desah letih. "Aku sudah me ngata kan tidak. Ber henti lah merecoki ku dengan hal yang tidak akan ku tanggapi."


"Apa kau menyukai nya?"


"Itu adalah privasi ku. Jika tidak ada yang ingin kau bicara kan lagi, aku pergi." Cam ber jalan me lewati Ivy. Gadis itu tidak menyerah. la kesal, me narik napas, dan mengeluar kan isi hati nya dengan suara keras.

__ADS_1


"Tapi kenapa harus dengan seorang wanita penghibur?"


Kaki Cam ber henti me langkah. Ivy tahu! la me noleh dengan keryitan dalam di kening nya. "Kau...."


"Kau penasaran bagai mana aku mengetahui nya?" Ivy meng angkat dagu nya dengan angkuh.


Jika Cam me ladeni nya, Ivy akan semakin ber ulah. Lebih baik ia mengabaikan nya. Lagi pula ia yakin Ivy tidak akan me laku kan sesuatu yang ekstrem. "Aku tidak peduli. Mulai sekarang, ber henti lah menemui ku jika kau hanya ingin mengguna kan omong kosong itu untuk me rusak hubungan ku."


Ketika Cam kembali me langkah, Ivy ber lari meng hampiri lalu me motong jalan nya. Raut wajah nya hampir me nangis."Kau tidak boleh me lakukan nya. Aku ingin Kau bahagia. Tapi, jika kau men jalin hubungan dengan orang yang lebih baik dari kak Fiona, aku lebih bisa menerima nya."


Tarikan napas Cam men jadi tajam. Ia tidak suka di ingat kan pada Fiona. Ia me rasa kan dorongan untuk mem bentak Ivy, tetapi ia tahan. Bagai mana pun Ivy ada lah adik Fiona. "Mengapa aku harus peduli dengan pen dapat mu itu? Ini ada lah hidup ku. Sekarang pulang lah."


Cam yang sudah lelah akhir nya mem peringat kan Ivy dengan nada tinggi. "Cukup Ivy! Semua ini bukan urusan mu."


"Tentu saja urusan ku! Kau ingin tahu kenapa? Karena aku menyukai mu!"


Sekujur tubuh Cam mem beku, la tak percaya, juga sangat tidak senang men dengar nya. Pengakuan Ivy mem buat nya tidak nyaman.

__ADS_1


"Ivy, jangan ber canda pada ku."


"Aku tidak ber canda!" tegas Ivy. Mata nya ber kaca-kaca. "Aku sudah menyukai mu sebelum aku tahu kau kekasih kakak ku. Saat Kak Fiona mengenal kan mu sebagai pacar nya hingga kalian me nikah, aku harus menyerah dengan perasaan ku. Aku tahu kau tidak akan melirik ku. Kak Fiona lebih cantik dari ku, aku tidak sebanding dengan nya. Aku selalu men doa kan kalian bahagia."


Benar kah? Cam tak pernah menyadari nya. Jika di ingat ingat, ia memang mengenal Ivy lebih dahulu. Cam pernah me ngajar di sebuah tempat kursus yang di ikuti Ivy dan ia baru mengenal Fiona karena mereka kuliah di universitas yang sama. Cam tak pernah me lihat cinta di mata Ivy sebelum nya karena ia mabuk kepayang akan cinta nya pada Fiona. Sekarang, entah mengapa Cam bisa melihat nya. Ivy tidak hanya men cintai nya, tetapi juga tampak putus asa dan sakit hati.


"Tapi sekarang aku tidak bisa menerima nya. Kau ada lah pria baik yang pantas men dapat kan wanita yang lebih baik dari sekadar wanita penghibur. Kau se harus nya men cari se seorang yang lebih baik, atau paling tidak se harus nya kau me lirik ku. Aku sudah memerhatikan mu sejak lama. Mengapa kau me milih Fan Ny Blair, seorang wanita penghibur yang bahkan usia nya lebih muda dari ku!"


Aku sudah me lukai nya. Cam sungguh menyesal tidak menyadari nya lebih awal. Namun, ia tidak bisa mem balas perasaan Ivy karena sudah me miliki Fan Ny Blair. Cam tidak bisa me lepas kan Fan Ny.


Cam me ngerjap. Mungkin kah ia sudah menyimpan perasaan untuk gadis itu tanpa di sadari nya? Cam mem berani kan diri me natap Ivy. Wajah nya sudah ber simbah air mata. la sungguh menyesal.


"Aku tidak bisa. Kau ada lah adik Fiona. Bersama mu hanya akan mengingatkan ku pada nya. Aku ingin me lupa kan nya. Aku ingin lepas dari masa lalu. Jika kau memang menyukai ku, tidak bisa kah kau membiarkan ku bahagia?"


Ivy ter paku. la melepas kan tangan nya yang masih memegang tangan Cam, lalu menunduk kan kepala dan mem biar kan diri nya menangis ter sedu-sedu. la benar-benar sudah di tolak oleh Cam. Tidak ada harapan lagi bagi nya.


Pada akhir nya, cinta yang sudah di jaga nya sejak lama, hancur ber keping-keping dan hilang di terbang kan angin bagaikan debu.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2