
Richi mengambil kunci mobilnya yang ia taruh di atas meja kerjanya. Dengan langkah gontai Richi keluar dari ruangan kerjanya.
"Richi kamu mau kemana?" teriak Vini mengejar Richi. Namun, Richi malah acuh dan terus melangkah hingga sampai ke tempat mobilnya yang terparkir.
Richi masuk kedalam mobilnya, Richi menghidupkan mesin mobilnya. Vini menggedor-gedor kaca mobul. Namun, Richi tetap tidak menyahut dan tetap melajukan mobilnya.
"Richi," teriak Vini.
"Ish... " Vini geram. Vini menginjak-nginjak jalanan. Pada akhirnya Vini memutuskan untuk pulang. Vini masih tinggal di rumah Richi.
Di dalam Kampus di ruang kelasnya Ayumi tampak sangat murung. Sabrina menghampiri Ayumi dan duduk di sebelah Ayumi.
"Kenapa pagi-pagi sudah di tekuk?" tanya Sabrina.
"Sabrina," seru Ayumi yang langsung memeluk Sabrina. Ayumi sangat rindu dengan sahabatnya itu.
"Rin kamu kenapa jadi berbeda sikapnya?" tanya Ayumi yang masih memeluk Sabrina.
"Yum, aku minta maaf! Aku iri sama kamu. Dengan mudahnya kamu memberikan tubuhmu kepada Tuan Richi. Sedangkan aku tidak bisa. Karena Tuan Richi tidak tertarik padaku," kata Sabrina tanpa sungkan.
__ADS_1
"What?" Ayumi terbelalak. Ayumi membuka mulut dan matanya lebar-lebar.
"Biasa aja kali Yum. Gak usah kaget seperti itu," kata Sabrina.
"Rin, Richi itu suamiku. Aku adalah istri simpanannya," bisik Ayumi kepada Sabrina.
"What?" Dan kini Sabrina yang lebih terkejut mendengarnya.
"Serius?" tanya Sabrina dan di anggukan oleh Ayumi.
"Awalnya terpaksa untuk melunasi hutang-hutang alm bapak. Tapi lama kelamaan aku jatuh cinta padanya. Dan Tuan Richi juga memiliki perasaan yang sama. Mantan istrinya itu lagi sakit kanker serpiks dan sekarang lagi pengobatan di luar negri. Eh sekarang muncul pelakor baru," jelas Ayumi kepada Sabrina. Ayumi kembali di tekuk.
"Dika cuman terobsesi sama tubuhku," lirih Ayumi.
Sepertinya menarik jika aku jadi istri simpanan juga. Aku harus mencari Tuan Muda yang kesepian seperti Tuan Richi. Dika? Kelaut sajalah.
Richi sudah tiba di halaman kampus Ayumi. Richi menunggu Ayumi di dalam mobilnya.
"Semoga dengan sebuket bunga cantik ini bisa membuat Ayumi tidak marah lagi," harap Richi seraya mencium sebuket bunga tersebut.
__ADS_1
Setelah hampir 1 jam lamanya Richi menunggu. Richi melihat Ayumi yang baru keluar. Richi pun keluar dari dalam mobilnya dan berlarian kecil menghampiri Ayumi. Di sebelah Ayumi ada Sabrina juga. Kini Sabrina mulai kembali jadi sahabat Ayumi lagi.
"Sebuket bunga cantik untuk istri simpananku yang paling cantik," goda Richi seraya menyodorkan sebuket bunga itu kepada Ayumi. Richi sedikit membungkuk. Tanpa suangkan, Ayumi meraih sebuket bunga itu dari tangan Richi.
Ayumi tersenyum seraya mencium sebuket bunga tersebut. Pandangan Richi beralih kepada Sabrina. Richi masih mengingat Sabrina yang waktu itu mencoba untuk merayunya.
"Kamu kan-?" Richi menunjuk kearah Sabrina.
"Mas, iya ini Sabrina teman aku yang waktu itu menggoda Mas Richi kan ya? Maaf ya Mas itu aku yang nyuruh," kata Ayumi berkata bohong kepada Richi demi menutupi niat buruk Sabrina.
"Hehee... " Sabrina nyengir kuda dan menggaruk-garuk pelipisnya yang sama sekali tidak gatal.
"Dasar ya." Richi menarik hidung Ayumi.
"Ampun Mas," rengek Ayumi.
Hemm~
Richi dan Ayumi kini berada di area taman kampus.
__ADS_1
"Sayang kamu jangan marah dan cemburu sama Vini. Dia itu sahabat kecilku? Wanita yang aku cintai sekarang itu adalah kamu," ucap Richi seraya menggenggam tangan kiri Ayumi.