
Di ruang bersalin Ayumi kini di temani oleh Ibu Ningsih. Ayumi memegang erat tangan Ibunya saking tidak kuatnya merasakan kontraksi yang begitu nikmatnya. Ibu Ningsih terus mengelus-ngelus pinggang Ayumi yang mulai terasa panas. Kini Ayumi tidur miring.
"Bu, sakit! " Ayumi terus merintih kesakitan.
"Semua wanita yang mau melahirkan emang begini nak rasanya. Semangat Ayumi, kau pasti bisa. " Ibu Ningsih terus memberikan semangat kepada Ayumi.
Sssshhhhttt...
Ayumi berusaha untuk tegar dan kuat agar tidak histeris. Tak lama kemudian Dokter datang tentunya bersama dengan suster. Sang Dokter menyuruh Ayumi untuk tidur terlentang dan menekukan kedua lututnya.
"Di buka ya Bu, " titah Sang Dokter kepada Ayumi untuk melebarkan sedikit lututnya.
Ayumi menurut, tangannya terus memegang tangan Ibu Ningsih. Sang Dokter segera memeriksa jalan lahirnya.
"Sudah pembukaan sempurna. Apakah Ibu Ayumi sudah merasakan ada dorongan untuk beden? " tanya Sang dokter kepada Ayumi.
Ayumi mengangguk.
"Tarik nafas ya bu, " seru Sang dokter.
Ayumi menarik nafas panjang, kemudian perlahan-lahan di buang. Ayumi menekan bok*ng nya ke bawah. Ada dorongan dari Sang janin untuk Ayumi neden. Keringat dingin terus keluar.
__ADS_1
Euuu.... Euu....
"Ayo bu, semangat. Keluarkan tenaganya, " seru Dokter Dini.
Hemmm_
Sementara Rendra kini tengah berada di ruang rawat Richi. Ada Tiara dan Reza juga. Hellena yang merasa bosan memutuskan untuk pulang. Tak pernah Hellena bayangkan kalau dirinya akan mempunyai suami yang penyakitan seperti Richi.
"Apa? J-jadi benar, kalau anak yang di kandung Ayumi itu anakku? " seru Richi dengan raut wajah yang tampak berbinar-binar.
"Iya. Sekarang Ayumi lagi berjuang untuk mengeluarkan anak kamu Richi, " kata Rendra.
"Ren, aku sudah penyakitan kek gini. Tidak ada niat sedikit pun untuk aku merebut hak asuh. Aku percaya kepadamu Ren, kalau kamu bisa menjadi ayah dan suami yang baik tidak seperti ku, " sahut Richi.
"Richi, apa-apaan sih kamu!"sentak Tiara yang kesal karena Richi tidak mau merebut hak asuh anaknya.
Richi tersenyum tipis, Richi cukup senang karena akhirnya dia sudah mempunyai anak. Hanya karena kesalahannya di masalalu pada akhirnya Richi terpisah dengan anak dan wanita yang Richi cintai.
Sudah cukup mama dan papa mengatur dan mengurusi semua urusanku. Biarkan anakku tumbuh besar bersama Ayumi dan Rendra.
Richi meminta Rendra untuk mengantarnya ke ruang bersalin. Rendra pun menuruti permintaan Richi. Rendra menuntun Richi berjalan menuju ke ruang bersalin.
__ADS_1
Oa... Oa... Oa...
Akhirnya Ayumi melahirkan putrinya dengan cara normal.
"Alhamdulilah, bayinya perempuan, sehat cantik dan sempurna, " seru Dokter Dini.
Ayumi dan Ibu Ningsih begitu gembira mendengarnya. Dokter Dini menyerahkan bayi mungil itu dalam dekapan Ayumi agar Sang bayi merasakan kehangatan ibunya.
"Masya Allah Nak, kau begitu cantik. Matamu, hidungmu mirip sekali dengan ayahmu, " seru Ayumi yang mencium puncak kepala bayi perempuannya.
Setelah itu suster meraih kembali bayi itu untuk di bawa dulu ke ruang bayi.
"Selamat Ayumi, atas kelahiran anakmu nak, " ucap Ibu Ningsih penuh haru. Ibu Ningsih menciumi wajah Ayumi dirinya begitu bahagia atas kelahiran cucunya.
Rendra dan Richi sudah berada di dalam ruang bersalin.
"Ayumi mana anak kita? " tanya Richi ketika sudah bertatap muka dengan Ayumi.
Saat Rendra mau keluar, Ayumi mencegahnya. Ayumi menarik tangan kanan Rendra. "Tetap di sini. Jangan pergi Mas, " pinta Ayumi.
"Ayumi benar Ren, kau tak perlu keluar, " sahut Richi.
__ADS_1