Water Ripple

Water Ripple
1


__ADS_3

Ki..Putri Yuki....


Putri Margitha ?


Aku mendengar suara Putri Margitha memanggilku. Suaranya berasal dari kegelapan didepanku. Aku memandang sekeliling dan bertanya, Dimana Aku ?.


Aku tidak mungkin salah mendengar, Aku cukup yakin akan pendengaranku. Aku berjalan menyusuri kegelapan yang seolah tak berujung disekelilingku.


"Putri Margitha" Teriakku memanggil.


"Putri Yuki"


Aku berbalik. Terkejut ketika mendapati ruangan di belakangku. Sebuah kamar dengan dinding dari batu berwarna kehitaman, menonjolkan kesuraman abadi. Tidak ada kehidupan yang baik diruangan itu. Sebuah rantai tertancap didindingnya, Menyambung pada belenggu yang melingkari kaki kiri dari Putri Margitha. Dia duduk diatas tempat tidur dari kayu dengan wajah yang penuh derita. Tubuhnya lebih kurus daripada yang kuingat. Tidak tampak segar seperti bunga yang seharusnya mekar merona.


Yang lebih mengejutkanku, Di pangkuannya ada Ratu yang tertidur dengan nafas kepayahan. Dia tampak sakit dan membutuhkan pertolongan.


Aku memperhatikan sekeliling, ini bukan istana Raja Argueda. Kami berada di sebuah menara yang tinggi, Ada sebuah cendela berjeruji. Satu-satunya sumber cahaya yang ada diruangan ini. Dari cendela ini Aku melihat sebuah patung wanita setinggi dua meter sedang menuang air di tengah sungai.


"Apa yang terjadi, Ada apa dengan kalian ?" Kataku masih dilanda kebingungan.


"Tolong Kami Putri Yuki" Pinta Putri Margitha dengan suara serak. Ada lingkar hitam dibawah matanya. "Raja Trandem dari Rasyamsah menawan Kami saat Kami dalam perjalanan kembali ke istana. Dia ingin menjadikanku sebagai salah satu selir yang menghasilkan keturunan untuknya dan memanfaatkan Kami untuk menguasai Argueda."


"Apa.." Kataku terkejut.

__ADS_1


"Kami ditawan di istananya, Di menara barat. Aku khawatir kesehatan Ibu semakin menurun. Tolonglah Kami Putri Yuki.."


Kegelapan perlahan mendekati Kami. Memudarkan cahaya disekitar Putri Margitha dan Ratu.


"Putri Margitha" Panggilku panik. Aku berusaha menyentuhnya, Namun tanganku tembus.


"Tolong selamatkan Kami Putri..Tolong ...sebelum terlambat..."


"Putri Margitha"


Kegelapan menelannya. Menghilangkan sosoknya didepanku.


"Putri Margitha" Teriakku nyaring.


Sontak gelak tawa terdengar di seluruh gedung olahraga. Membuat wajahku memerah menahan malu.


"Kau ini" Guru Olahraga memukul kepalaku dengan gulungan kertas. Aku mengaduh kesakitan. Mengelus kepalaku. Raymond -mantan pacarku dulu memandangku dari seberang sembari menggelengkan kepala. Rasanya jika ada lubang Aku ingin masuk dan bersembunyi ke dalamnya.


"Siapa Putri Margitha ? Apa itu peran yang akan Kau mainkan di filmmu" Tanya Pak Jacklin-guru olahragaku. "Kau menjiwai peranmu sampai mengigau dengan keras seperti itu dalam mimpi"


Tawa kembali terdengar. Betapa malunya Aku. Ternyata Aku telah tertidur disaat Pak Jacklin memberi arahan mengenai olahraga Volly hari ini. Sungguh memalukan Aku mengigau dengan keras seperti itu.


"Ma..Maafkan saya" Ucapku menyesal.

__ADS_1


"Sudah sebagai hukuman Kau pergi ke gudang ambilkan keranjang bola yang tertinggal"


Aku lekas berdiri dari dudukku. Dan berlari menuju gudang yang berada di lantai bawah.


"Hey Yuki..." Aku kembali berbalik saat Pak Jacklin kembali meneriakiku. "Jangan tidur di gudang ya"


Tawa kembali berkumandang. Aku membungkukan badan, lalu pergi dengan wajah merah menahan malu.


Namaku adalah Yuki Orrie Olwrendho, Aku baru saja merayakan ulang tahunku yang ke delapan belas. Sebentar lagi kelulusan Kami. Aku berhasil lolos di salah satu perguruan tinggi negeri di ibukota. Prestasi yang membuatku bangga, Karena untuk mendapatkannya ditengah kesibukanku sungguh tidak mudah. Selain sebagai pelajar Aku juga bekerja sebagai model sekaligus penyanyi.


Sebelum kembali kedunia ini, Aku pernah berjanji kepada Pangeran Riana bahwa tidak akan melakoni pekerjaan yang melibatkan hubungan dengan lawan jenis. Oh ya, Aku mempunyai rahasia, Aku bukanlah orang dari dunia ini. Aku berasal dari dunia yang berbeda dimensi dengan dunia ini (Baca buku pertama : Morning Dew). Aku kembali kemari setelah Aku berhasil membujuk Pangeran Riana untuk memulangkanku. Untuk menemukan jawaban kemanakah hatiku akan diletakkan (Baca buku kedua : Win Direction).


Sudah enam bulan berlalu semenjak Aku kembali kedunia ini. Sialnya Aku belum berhasil mengetahui jawaban atas pertanyaan dalam diriku. Aku belum bisa memilih kepada siapakah Hatiku ini seharusnya berada.


Pangeran Riana yang dingin dan misterius bagaikan bulan di malam hari ataukah Pangeran Sera yang hangat dan menyenangkan seperti matahari yang terbit di pagi hari.


Tidak mudah menentukan siapa diantara keduanya yang sangat kuinginkan dalam hidupku, Dimana mereka semua sangat berati dalam hidupku. Mereka memiliki jasa tersendiri dalam setiap langkahku didunia sana. Pangeran Riana, Dia memiliki jasa yang cukup besar ketika Aku harus menghadapi kematian Ayahku. Dia sudah menyelamatkan nyawaku beberapa kali. Aku banyak berhutang nyawa padanya. Pangeran Sera, Dialah penyelamatku dari kehancuran akibat kematian Bangsawan Dalto. Aku tidak ragu kepadanya, Dia bagaikan malaikatku. Seperti Seorang sinterklas yang selalu membawakan hadiah-hadiah untuk anak baik di malam natal. Cintanya padaku begitu besar, Aku dapat merasakannya. Membayangkan Aku akan menyakitinya itu sungguh membuatku sakit.


Aku menghela nafas. Berjalan dengan langkah gotai. Mimpiku bukan mimpi biasa. Jika Aku bermimpi seperti itu, Sesuatu yang buruk telah terjadi. Aku memegang cincin di


jari manisku. Pemberian dari Pangeran Riana sesaat sebelum Aku kembali ke dunia ini. Mata cincin itu berpendar ringan tertimpa cahaya lampu ruangan.


"Apa sekarang waktunya ?" Bisikku lirih pada cincin itu.

__ADS_1


__ADS_2