
Pangeran Arana berdehem ringan. Dia tampak salah tingkah. "Kakak, Putri Yuki, Setelah ini Aku ada rapat. Jadi Aku permisi lebih dahulu." Ujar Pangeran Arana terburu-buru. Dia bangun dari duduknya. Menunduk tidak berani menatap Pangeran Sera dan kemudian pergi.
"Ada apa dengan Pangeran Arana ?" Tanyaku kebingungan.
"Apa Dia mengatakan sesuatu yang aneh ?"
"Soal apa ?"
Pangeran mendesah. Dia mengacak-acak poniku lembut. "Lupakan saja" Ujarnya semakin membuatku binggung.
Aku duduk seorang diri di kamar. Tampaknya situasi makin genting. Aku melihat dari cendela tempatku berada, Bagaimana Para Prajurit hilir mudik keluar masuk istana. Berbagai macam peralatan perang disiapkan. Kuda-kuda sudah dipilih. Bahkan persenjataan sudah diasah semua. Aku dengar Pangeran Sera pun sudah mengeluarkan pakaian perangnya. Sekarang pakaian itu berada di kamar dipajang sedemikian rupa. Terbuat dari besi baja yang begitu kuat dan kokoh. Aku setiap hari memandangnya dan membuat perasaanku tidak nyaman.
Membayangkan Pangeran Sera bertempur membuat hatiku terasa sakit. Ada semacam rasa tidak rela yang menyeruak.
Karena penasaran akan situasi yang terjadi, Aku memberanikan diri bertanya pada pelayan yang menemaniku berganti pakaian. "Kerajaan Rasyamsah membunuhi orang Argueda yang berada di negaranya setelah mereka mengetahui bahwa kerajaan sudah tau Putri Margitha dan Ratu berada di Rasyamsah" Jelas Pelayan dengan ekpresi ketakutan.
Dia pada akhirnya mau menceritakannya ketika Aku memaksanya. Ternyata Pangeran Sera masih melarang siapapun untuk menceritakan mengenai Rasyamsah kepadaku. Aku curiga ada sesuatu yang Pangeran sembunyikan. Ini menambah keyakinanku akan keanehan sikap Pangeran Arana terakhir kali Kami bertemu. Jika diingat semenjak itu Pangeran Arana tidak pernah terlihat lagi didepanku. Situasi semakin genting. Dia waktu itu ingin mengatakan sesuatu padaku tapi urung ketika Pangeran Sera datang. Apa yang ingin diceritakan Pangeran Arana.
Aku mendesah. Masalah satu belum selesai datang masalah lain. Aku mencoba memfokuskan diriku. Mengesampingkan masalah lain yang tidak penting. Mengesampingkan Pangeran Riana dari pikiranku. Aku berusaha membohongi diriku sendiri, padahal dalam kenyataannya sampai sekarang pun Aku masih dapat mengingat dengan jelas ketika Pangeran Riana dan Putri itu berciuman. Rasanya menyakitkan.
Aku berdiri, sementara Pelayan masih di kamar mandi membersihkan kamar mandi karena Pangeran Sera akan datang. Aku melihat sebuah gelas berisikan teh diatas nampan yang diletakan di atas meja kecil di tengah ruangan. Aku sangat haus. Pikiranku juga kacau. Tanpa pikir panjang Aku meneguk habis teh tersebut. Rasanya seperti ada sesuatu perasaan yang seolah menguyur kepalaku dengan air dingin.
__ADS_1
"Putri Yuki...anda..." Aku terkejut ketika seorang pelayan berteriak kaget dibelakangku. Gelas ditanganku otomatis jatuh membasahi gaunku. Aku mengerjap binggung.
"Ada apa ?" Tanyaku tidak mengerti.
"Minuman yang putri minum" Pelayan itu membungkuk dan mengambil sisa minuman di gelasku dan menciumnya. Pelayan itu tampak panik.
"Bukankah ini hanya teh biasa ?" Tanyaku tak mengerti.
"Tidak putri, Tapi ini..ini adalah obat perangsang yang disediakan untuk Pangeran Sera"
Apa ?
Aku langsung membuka cendela dan berusaha memutahkan apa yang telah Aku minum. Pantas saja rasanya berbeda dari teh yang biasa disajikan para pelayan. Tapi tetap saja Aku tidak dapat mengeluarkannya apa yang sudah tertelan di tenggorokanku.
" Bagaimana itu ada di sini. Aku kira itu teh biasa ?" Tuntutku marah sembari mengelap mulutku.
"Mohon maaf Putri, Karena Putri dan Pangeran telah lama bersama tapi belum juga berhubungan, pada akhirnya kerajaan mengambil inisiatif untuk menyediakan ramuan perangsang didalam kamar untuk Pangeran Sera"
Apakah kerajaan begitu menginginkan hubungan Kami sejauh ini sampai menyediakan obat perangsang segala.
"Untuk apa mereka melakukan ini ?"
__ADS_1
"Ampun Putri,Karena Pangeran hanya akan menikahi Putri, maka kerajaan sangat ingin Putri dan Pangeran Sera secepatnya mendapatkan keturunan agar kesetabilan negeri lebih terjamin"
Apakah soal keturunanpun harus sekali ditentukan oleh kerajaaan.
"Lalu apa efeknya jika obat perangsang ini Aku minum ?" Tanyaku was-was
"Obat itu adalah yang terbaik yang didatangkan dari negeri lain. Efeknya akan sama jika diminum Pangeran Sera. Hanya dengan berhubungan dengan lawan jenis yang dapat meredakan efek dari obat itu"
Sial.
Aku menyuruh Para pelayan untuk membiarkanku berada di dalam kamar seorang diri. Tidak menyenangkan jika mereka melihat kondisiku ketika Aku harus mati-matian menahan efek dari obat perangsang. Badanku mulai terasa gerah. Aku membuka pakaianku, Melemparkannya ke samping tempat tidur dan hanya memakai pakaian tipis tanpa lengan yang memperlihatkan seluruh lekuk tubuhku secara transparan. Badanku terasa kaku semua. Aku mencoba fokus agar akal sehatku tetap berjalan sebagaimana mestinya. Para pelayan sudah kuperingatkan untuk mencegah siapapun lawan jenis termasuk Pangeran Sera untuk memasuki kamar malam ini.
Aku masuk ke dalam kolam mandi berisi air dingin. Rasanya tidak menyenangkan. Aku ingin seseorang menyentuhku. Pikiran liarku terus menghantamku.
Anehnya Aku malah membayangkan kebersamaanku bersama Pangeran Riana. Bagaimana Dia ketika menyentuh setiap inci kulitku. Ketika Dia berada diatasku, memelukku begitu kuat. Aku memejamkan mata, mencoba melupakan kenangan bersamanya.
Kenapa saat seperti ini Aku justru mengingatnya.
Aku mengigit pergelangan tanganku. Mencoba mengembalikan kesadaranku. Rasanya sangat panas. Aku merasa seluruh Pakaian yang melekat ditubuhku membuatku kegerahan. Tercium bau darah. Sakit.
Rasa perihnya sedikit membantuku untuk mengembalikan kesadaranku. Jika nanti Aku sudah tidak bisa mengendalikan diriku lagi, Aku akan menggigit tanganku kembali. Aku tidak boleh kalah dengan perasaan ini.
__ADS_1