Water Ripple

Water Ripple
29


__ADS_3

Aku berjalan mendongakan dagu. Kepercayaan diriku terlihat ketika Aku melangkahkan kaki. Semua mata memandang kearahku. Pakaian yang kukenakan bergerak ketika Aku melangkah, sesekali tersingkap dan memperlihatkan lekuk tubuhku. Gemerincing suara perhiasan mengikuti pergerakanku.


Pangeran Arana disampingku. Wajahnya sangat muram. Dia menentang keras rencana Rafael, wajahnya semakin tidak enak ketika Aku malah menyetujui.


Aku menyamar sebagai wanita penghibur yang sedang singgah di negeri Rasyamsah. Mengenakan pakaian tipis dan sexy. Pangeran Sera pernah memintaku untuk tidak pernah lagi mengenakan pakaian seperti ini ketika Aku usai bertanding menari dengan Putri Norah, Aku benci melanggarnya.


Tapi..ini semua terpaksa Aku lakukan untuk menyelamatkan Ratu dan Putri Margitha. Aku harap Pangeran Sera akan mengerti.


"Kalian mau kemana ?" Tanya penjaga gerbang perbatasan ketika kepada Pangeran Arana dan Rafael yang berdiri dibarisan depan saat rombongan Kami mendekati mereka. Wajah mereka garang. Menatap Kami satu persatu dengan pandangan menilai.


Aku maju, menyungingkan senyum terbaikku.


"Kami dengar kerajaan mencari penghibur untuk menari disetiap pesta. Mungkin Kami bisa melamar pekerjaan itu ?"


Prajurit itu melihatku dari atas ke bawah. Membuatku risih.


"Bagaimana tuan, Jika tidak, Kami akan pergi dari sini ?"


"Apa yang Kau bisa persembahkan kepada Yang mulia ?"


"Hamba pandai menari. Jika Yang Mulia melihat Dia pasti senang"


"Raja Tardem tidak akan kecewa, Dia ini wanita spesial. Bisa jadi Tuan juga akan mendapat imbalan cukup besar dari Raja nantinya" Bujuk Rafael membantu.


"Hmm.." Penjaga itu tampak berpikir sejenak. "Baiklah Aku akan sampaikan dulu kepada kepala penjaga"


Seorang penjaga berjalan menjauh, menaiki tangga di dekat gerbang Rasyamsah. Tak berapa lama seorang Prajurit lain yang merupakan atasan mereka melongokkan kepalanya untuk melihat Kami. Aku kembali memasang senyum menggoda.

__ADS_1


"Kalian lolos, Ayo ikut Kami" Kata Penjaga yang tadi pergi melapor ketika kembali didekat Kami. Aku memandang Pangeran Arana puas. Berhasil.


Pangeran Arana maju, memberikan mantelnya untukku untuk menutupi pakaianku. Aku menerima. Kami berjalan mengikuti penjaga itu pergi.


Seperti kata Rafael. Alih-alih berkendara sendiri, Kami malah mendapat tumpangan kereta kuda yang membawa Kami ke istana. Hawa disini sangat pengap. Hawa panas terasa menyengat, sebentar saja Aku sudah mandi keringat. Rambutku menjadi lembab. Aku mengikat rambutku ke belakang, menarik minuman yang berada di sampingku. Rasanya haus sekali.


Di sepanjang jalan Aku melihat bagaimana Rakyatnya. Hidup menderita. Badan mereka kurus dan penampilan mereka lusuh. Padahal negeri ini negeri yang subur dulunya. Tapi mengapa sekarang menjadi seperti ini.


Kemarahan dewanya akibat pemimpin yang zolim membawa kesengsaraan bagi Rakyat yang tidak bersalah. Aku sangat berharap semua dapat berakhir dan Negeri ini kembali menjadi negeri yang subur dan makmur seperti sedia kala.


Kami menempuh perjalanan tiga hari dari gerbang utama. Ketika sampai di ibukota, Aku melihat bagaimana kesengsaraan rakyatnya yang lebih parah daripada daerah pinggiran. Traden sangat kejam. Dia menyiksa rakyatnya, Bahkan dari kereta Aku bisa melihat banyak mayat-mayat yang masih digantung. Tradem melarang tubuh mereka dimakamkan dengan layak. Dia membiarkan burung pemakan bangkai memakan mereka yang telah mati akibat ulahnya. Aku tidak habis pikir, Bagaimana ada orang yang sangat kejam seperti itu di dunia ini.


Kami ditempatkan ke kamar kosong sembari menunggu giliran dipanggil. Aku mandi dan menganti pakaianku dengan pakaian baru yang disediakan pihak kerajaan. Ketika Aku sedang berdandan, terdengar gulf di sakuku.


Bangsawan Voldermon memasukan gulf di bungkusan roti yang diberikannya tempo hari. Dia rajin menghubungiku. Beberapa hari ini Aku sengaja membiarkan Gulfku. Tidak mengangkatnya, Karena jika tidak Bangsawan Voldermon maka Pangeran Seralah yang menghubungiku.


Ketika Aku melirik kearah Gulf. Aku melihat Bangsawan Voldermon terpampang disana. Aku harus mengangkatnya. Jika tidak, Dia bisa ke Argueda dan mengkronfontasi Pangeran Sera. Mengira Pangeran Sera melarangku berkomunikasi dengannya. Aku tidak mau terjadi masalah yang tidak perlu.


"Yuki.." Panggil Bangsawan Voldermon ketika Aku mengangkat gulf.


"Maaf, Aku baru selesai mandi" Kataku menunjukan rambutku yang masih basah.


"Kenapa Kau tidak pernah mengangkat gulfmu beberapa hari ini. Apakah terjadi masalah ?"


Aku mengernyit. Tidak tahu apakah Aku harus berkata jujur atau tidak.


"Kau ada dimana sekarang ?" Tanya Bangsawan Voldermon curiga.

__ADS_1


"Kenapa ?"


"Kamar tempatmu sekarang bukan kamar disalah satu istana Argueda. Katakan apa yang terjadi"


"Aku...Aku tidak bisa mengangkat Gulf karena sedang berkuda"


"Kemana ?"


"Rasyamsah"


"Apa ?!, Yuki kondisi negara disana sedang tidak aman. Untuk apa Kau kesana. Apa Sera mengizinkanmu ?"


Aku menggelengkan kepala. "Tidak..Aku ke sini atas inisiatif sendiri, Pangeran Sera tidak tahu jika Aku kemari"


Aku menceritakan kepada Bangsawan Voldermon awal perjalananku dengan Pangeran Arana. Pembicaraanku dengannya dan Bagaimana Pangeran Sera melarang Pangeran Arana untuk bertemu denganku karena sudah menduga apa yang akan dibicarakan Pangeran Arana nantinya.


Aku menceritakan pertemuanku dengan Rafael. Bagaimana Kami bisa memasuki negeri Rasyamsah dengan mudah.


Bangsawan Voldermon mengatupkan rahangnya ketika mendengar ceritaku di bagian Aku menyamar menjadi wanita penghibur,merayu penjaga gerbang dan akan menari di depan Raja Trandem.


"Kau..." Kata Bangsawan Voldermon tidak sanggup berkata apapun seusai mendengar ceritaku.


Terdengar pintu diketuk dari luar.


"Ada orang" Kataku kemudian langsung menutup Gulf dan menyimpannya dalam saku.


Aku membuka pintu dan mendapati Pangeran Arana sudah berdiri didepan.

__ADS_1


"Kita sudah menemukannya" Kata Pangeran Arana pelan.


__ADS_2