
"Aku sengaja mengikuti pergerakan mereka dengan bersandiwara. Agak sulit mengelabui salah satu pengawalmu yang berambut hitam itu" Aku tahu yang dimaksud Rafael adalah Pangeran Arana. Dia masih mengira Pangeran Arana adalah pengawalku. Karena itulah Dia tidak mengejarnya dan membiarkannya pergi. Aku bersyukur akan hal itu.
"Memancingmu masuk ke negara ini dan menghindari bertemu dengan Prajurit Argueda. Rencanaku nyaris berhasil ketika Kau malah menghilang didalam kamar tanpa jejak bersama tawanan Kami. Aku tidak mengerti bagaimana Kau bisa melakukannya"
Aku tidak mungkin bercerita mengenai pintu rahasia di kamar Raja. Pangeran Arana sangat tidak ingin Raja Trandem dan pengikutnya mengetahui ruangan rahasia itu. Dia pasti memiliki alasan sendiri.
"Sudah Rafael, Aku sudah tidak sabar. Bawa Dia ke sini. Aku ingin segera merasakan seperti apa Wanita yang diperebutkan Dua kerajaan itu. Riana Bardansah dan Sera Madza ternyata menyukai gadis kecil. Sebagai penerus tahtah kerajaan selera Mereka kekanakan sekali"
Aku mengepalkan tanganku marah. Dia boleh menghinaku tapi tidak Pangeran Riana maupun Pangeran Sera.
"Jika Kita memilikinya, Otomatis kerajaan Garduete akan hancur karena telah kehilangan Ratu yang ditunjuk dewa. Mereka akan kehilangan kejayaan negerinya. Sera Madza telah melakukan sumpah ksatria. Jika Dia melanggar sumpahnya, Argueda akan kehilangan satu Pangerannya. Sekali menepuk Kita mendapat dua lalat sekaligus" Raja Trandem terawa kesenangan.
"Paman benar, Kita akan menguasai Dua negara itu dengan memanfaatkannya. Tapi...Dengan Aku sebagai Rajanya"
Tanpa peringatan, Rafael mencabut pedangnya dan langsung menebas kepala Raja Trandem hingga terpental ke lantai. Dua gadis yang menemani Raja mundur, teriakan ketakutan terdengar. Aku membeku di tempatku.
Kepalanya mengelinding, didepanku.
Tatapan mata Rafael dingin. Benar kata Pangeran Arana, Kemenakan Raja Trandem lebih sadis ketimbang Raja Trandem sendiri. Sebenarnya, Dia memanfaatkan Pamannya, membantu setiap pergerakan Pamannya sampai naik tahtah ini adalah semata untuk memperoleh kedudukannya yang sekarang. Dialah Raja yang sebenarnya.
"Sudah Aku bilang, Dia tidak akan menyentuhmu"
Rafael memberikan pedangnya pada salah seorang pengawal.
__ADS_1
"Kenapa.." Bisikku dengan suara bergetar.
Sekejam apapun Raja Trandem, Bukankah Dia adalah pamannya sendiri. Orang yang mengambilnya dan menyelamatkannya selama ini. Raja Trandem memberinya penghidupan yang layak, pendidikan yang baik dan posisi tinggi. Tapi kenapa Dia tega membunuhnya.
"Aku sudah muak dengan tua bangka ini. Dia sangat bodoh dan serakah. Setiap hari kerjanya hanya mabuk dan wanita. Pergerakanku terhambat jika Aku terus jadi bayangannya. Tapi..Dia akan mati dengan tenang karena Aku akan menjadikan Rasyamsah ini negeri yang paling kuat didunia. Tidak ada satupun negara yang bisa menghancurkannya"
"Tapi Dia adalah Pamanmu"
"Paman...Itu tak lebih dari sekedar status bagiku" Rafael berjongkok, mengambil kepala Raja Trandem dengan kasar. Kemudian Dia menghanpiriku. "Berdiri" Perintahnya.
Aku berjalan terseok mengikuti langkahnya. Sementara Dia terus menarikku. Kami sampai di mimbar yang tinggi, di halaman istana sudah berkumpul para Prajurit. Berbaris rapi dengan jumlah mencapai ribuan.
"Dengarkan semua. Mulai hari ini Aku adalah Raja Kalian. Siapapun yang menolak perintahku, Akan Mati seperti Dia" Rafael mengangkat kepala Raja Trandem tinggi-tinggi. Seluruh Prajurit berlutut memberi hormat. Tidak ada satupun yang bersedih akan kematian Raja Trandem. Justru mereka memancarkan kekaguman yang nyata pada Rafael.
"Hidup Raja Rafael..Hidup Raja Baru Kami....Hidup Negeri Rasyamsah" Seruan nyaring terdengar membahana diseluruh istana. Genderang ditabuhkan nyaring dengan irama yang konstan. Rafael berdiri dengan angkuhnya. Dia memandang para prajurit dengan penuh kepuasan.
"Semuanya dengarkan" Suasana langsung hening saat Rafael kembali memberi komando. "Aku perkenalkan pada kalian semua. Calon Ratuku, Putri Yuki dari negeri Garduete"
Apa.
Aku menatap Rafael tidak percaya. Rafael mengangkat tangan tinggi-tinggi disambut tepuk tangan yang meriah.
Dia bagaikan seekor macan liar yang tidak bisa dikendalikan. Kejam dan berbahaya.
__ADS_1
Aku ditarik paksa menyusuri lorong. Setelah menuruni tangga. Kami tiba di taman tengah. Seorang Prajurit membuka pintu sebuah kamar. Rafael menarikku masuk ke dalam kamar. Aku terjerembab ke lantai. Lututku terasa sakit. Dia duduk diatasku. Menekan tubuhku sedemikian rupa.
Sakitt.." Rengekku menahan tubuhnya di tubuhku. "Lepaskan Aku.."
"Memohonlah...seperti ketika Kau merayu Pamanku"
"Lepaskan Aku Rafael" Kataku marah. Aku berusaha memberontak. Tapi kedua tanganku terikat kuat di belakang sementara Dia duduk di atasku. Aku terbaring dengan posisi tengkurap. Membuatku tidak bisa banyak berkutik.
"Melepaskanmu...Rayu Aku dulu seperti Kau merayu pamanku tempo hari baru Aku akan melepaskanmu"
Rafael memeriksa kantungku. Dia menemukan Gulf milikku. "Tampaknya ini saat yang tepat untuk memberikan kabar kepada kedua Pangeranmu"
"Tidakk !!"
Aku tidak bisa membiarkan Dia menghubungi Garduete. Aku dan Pangeran Riana sudah berakhir. Akan sangat menyedihkan jika Dia mengetahui kabarku dan Dia bahkan tidak peduli. Aku tidak ingin mengetahui hal itu. Tidak. Tapi walaupun Aku memberontak, Rafael bisa meredam perlawananku dengan mudah.
Rambutku ditarik kencang seolah akan tercabut dari kepalaku. "Jangann !!!"
"Yuki" Aku terdiam ketika mendengar suara Bangsawan Voldermon yang memanggilku dengan nada terkejut.
"Halo" Sapa Rafael dengan nada mengejek. Dia kembali menjambak rambutku, memaksaku untuk memperlihatkan wajahku.
"Yuukii" Bangsawan Voldermon tampak terkejut. Melihat Bangsawan Voldermon membuatku merasa malu, Aku merasa terlalu bodoh sehingga bisa tertangkap dan bahkan Rasyamsah sampai menghubungi Bangsawan Voldermon untuk mengabarkan penangkapanku.
__ADS_1
"Diam" Rafael membenturkan kepalaku ke lantai membuat dahiku lecet.
"Apa yang Kau Mau ?, Siapa Kau ?" Tanya Bangsawan Voldermon dingin.