Water Ripple

Water Ripple
23


__ADS_3

Aku melangkahkan kaki menjauhi Pangeran Riana. Berjalan kembali keluar kamar. Terdengar suara benda pecah dari dalam kamar dan teriakan amarah Pangeran Riana. Aku terus berjalan. Menuju Gazebo. Menangis disana. Menumpahkan kesedihanku seorang diri.


"Putri, Kami membawakan sup untuk Putri" Dua orang pelayan datang sambil membawa nampan berisi sup yang aromanya langsung membuatku merasa lapar. Aku duduk di tengah ruangan, menunggu pelayan meletakannya di depanku.


"Wanginya enak sekali" Kataku senang. Tanpa menunggu terlalu lama, Aku memakan sup itu. Perutku terasa hangat. Aku menghabiskan seluruh sup yang disajikan pelayan dalam waktu singkat.


"Sup apa ini" Kataku sambil mengelap mulutku.


Pelayan itu menundukkan kepala kebingungan. Membuatku curiga.


"Ada apa ?"


Aku ingin berdiri. Tapi tiba-tiba perutku terasa melilit yang sangat hebat. Pelayan langsung meraihku ketika Aku nyaris terjatuh di lantai.


"Putri" Panggil mereka panik.


"Perutku...Sakit..." Aku meringis. Pelayan itu membantuku berdiri dan memapahku ke tempat tidur. Rasanya sakit sekali sampai untuk berjalanpun membuatku tidak nyaman. "Sakit...Ada apa ini.."


Ada cairan merembes di kakiku. Aku melihatnya dan panik. Darah..darah mengalir. Pintu terbuka. Tabib dan para perawat masuk. Mereka datang terlalu cepat. Tidak ada yang keluar kamar ini sebelumnya. Kalau begitu..Kalau begitu...

__ADS_1


Kesadaran menghantamku dengan kuat. "Sup itu...Apa yang kalian berikan padaku" Teriakku marah sembari menahan sakit. Dua orang perawat datang memaksaku untuk kembali tidur di tempat tidur. Aku meronta. Berusaha membebaskan diri. Jarum jarum digelar di meja samping tempat tidur.


"Maafkan Kami Putri, Kami hanya menjalankan perintah"


"Tidak...Anakku...Tidak..."


Aku tersadar. Entah berapa lama Aku pingsan. Para perawat dan pelayan berada di dekatku. Aku langsung menepis tangan mereka ketika mencoba menyentuhku. Aku bangun, meraba perutku yang kosong. Tidak ada lagi kehidupan. Anakku sudah pergi.


"Putri tenangkan diri Putri, Jangan bergerak terlalu banyak terlebih dahulu" Cegah pelayan ketika Aku hendak turun dari tempat tidur.


"Pergi...Pergi kalian..pergi..."


Pintu terbuka dengan kasar. Bangsawan Voldermon masuk bersama Ibu Suri.


"Lepaskan Dia, Apa Kalian pikir Dia ini hewan dengan terus membiusnya ?" Kata Bangsawan Voldermon keras. Dia mendorong perawat yang memegang jarum tadi menjauhiku. Para pelayan dan perawat berdiri ketakutan.


"Hazel" Panggil Ibu Suri pada kepala pelayan istana Pangeran Riana. Pelayan itu maju dengan penuh hormat. "Kau yang mendidik mereka atau Aku yang mendidikmu ?" Tanya Ibu Suri tegas.


Pelayan itu membungkukkan badan memohon pengampunan diikuti pelayan lain. Bangsawan Voldermon mengangkat tubuhku ke dadanya. "Aku tidak mau berada di sini" Kataku masih menangis.

__ADS_1


"Bawa Dia ke istanaku. Jika Riana memprotes suruh Dia langsung menghadapku" Ujar Ibu Suri tanpa kompromi. Aku dibawa Bangsawan Voldermon keluar kamar, Diikuti Ibu Suri Kami berpapasan dengan Bangsawan Xasfir bersama Putri Marsha.


"Nenek..Apa yang nenek lakukan disini" Tanya Putri Marsha lembut.


"Menyingkir dari hadapanku. Apa Kau tidak lihat, Aku membawa calon Ratu negeri ini. Dimana hormatmu" Tanya Ibu Suri tegas. Bangsawan Xasfir langsung menundukkan kepala memberikan penghormatan. "Xasfir, Jika temanmu ini tidak punya adap, Jangan biarkan Dia berkeliyaran di istana dan bermimpi mendekati keluarga kerajaan. Dia bukan siapa-siapa disini. Suruh Dia untuk melihat jelas apa posisinya"


Setelah berkata seperti itu, Ibu Suri melenggang pergi diikuti Bangsawan Voldermon, meninggalkan Putri Marsha yang berdiri dengan wajah masam.


Aku dibawa Ibu Suri ke salah satu kamar di istananya. Para pelayan merawatku dengan lebih baik. Setelah selesai mengurusiku, Aku dibiarkan seorang diri di kamar. Air mataku terus membanjiri wajahku, Aku memegangi perutku yang telah kosong. Mereka tega sekali. Mereka telah membunuh bayiku. Anakku. Aku menangis tergugu.


Hatiku hancur. Mama benar, Kehidupan istana sangat kejam. Tanpa memikirkan perasaanku, Mereka memutuskan seenaknya sendiri. Membunuh bayiku. Mengorbankannya untuk kepentingan negeri ini.


Aku dengar dari para pelayan, Ibu Suri sangat marah kepada Pangeran Riana dan Raja. Bahkan Dia tidak melarangku ketika Aku tidak ingin bertemu dengan Pangeran Riana saat Pangeran datang untuk membawaku kembali ke istananya.


"Jika Yuki tidak ingin kembali, Maka Kau harus melangkahi mayatku dulu untuk membawanya bersamamu" Kata Ibu Suri ketika Pangeran memaksanya untuk mengizinkan membawaku pergi.


Aku jatuh sakit. Panas tinggi dan nyaris semua makanan tidak dapat masuk dengan benar kedalam tubuhku. Raja dan Pangeran Riana kabarnya beberapa kali datang untuk menemuiku. Tapi atas perlindungan Ibu Suri, Aku tidak harus menemuinya. Bangsawan Voldermon hampir setiap hari datang dan memeriksa keadaanku. Menghiburku dan mencoba menenangkan hatiku. Suatu kali Dia datang dengan wajah lebam namun saat kutanya Dia tidak mengakui lebam itu sebagai bekas berkelahi. Dari pelayan Aku tau akhirnya bahwa Bangsawan Voldermon terlibat perkelahian dengan Pangeran Riana. Bangsawan Voldermon mengkronfontasi Pangeran Riana. Dia merasa kecewa dengan Pangeran Riana yang lebih mempercayai gosip ketimbang Aku sendiri.


"Apa yang Kau baca ?" Tanya Bangsawan Voldermon ketika Dia masuk kamar. Aku menutup buku yang sedang kubaca. Bangsawan Voldermon mengambil buku di tanganku dan mengangkat alisnya. "Apa Kau mau jadi Pendeta mengikuti Serfa ?" Tanyanya ketika melihat judul bukunya.

__ADS_1


__ADS_2