
Akan ada seorang wanita yang datang dengan didampingi dua kekuatan besar yang akan menyebabkan kekalahan besar di negeri Rasyamsah tapi Kemenangan bagi Rakyatnya. Gunung-gunung akan menghijau kembali dan sungai akan mengalir.
"Ratu percaya, Putri Yukilah orangnya. Putri adalah wanita yang dilindungi dua kekuatan besar. Walau Rasyamsah akan kalah tapi Rakyatnya akan kembali hidup sejahtera"
Tidak mungkin itu Aku. Aku sudah bukan calon Ratu kerajaan Garduete lagi. Bahkan Aku tidak yakin kerajaan Garduete mau membebaskanku. Siapa Aku ?. Ada atau tidaknya Aku sekarang ini tidak berpengaruh apa-apa pada kerajaan Garduete. Aku tidak berharap Bangsawan Voldermon kemari. Dia bisa celaka seorang diri disini.
Aku melihat ke cendela. Ada pemandangan ketika Ratu ditandu dalam upacara yang cukup sederhana. Rafael sungguh kejam. Dia tidak memberikan upacara yang layak untuk orang paling berjasa di negeri ini. Namun, Walaupun hanya sederhana Aku bisa melihat banyaknya bunga yang diletakan di sepanjang sungai. Bunga dari Rakyat yang mencintai Ratunya.
Rafael tidak mau menunggu lama. Dia langsung memerintahkan istana untuk mempersiapkan upacara penobatan untuknya. Dia juga membunuhi semua kaki tangan Raja Tradem. Lebih gilanya lagi Dia memberikan semua wanita yang pernah ditiduri pamannya kepada prajuritnya bukan untuk dinikahi. Tapi sebagai pemuas nafsu saja. Mereka semua dijadikan wanita penghibur para prajuritnya yang jumlahnya ribuan.
Aku tidak pernah bertemu dengan Rafael selama seminggu Aku ditawan. Menurut pelayan Dia sibuk dengan urusan negara dan para wanita yang dihadiahkan untuknya.
Aku sedikit terhibur ketika mendapat kabar Putri Margitha dan Ratu sudah berada Argueda dan sedang dikawal menuju istana oleh Pangeran Arana. Setidaknya usaha Kami tidak sia-sia.
"Apa itu ?" Kataku pada Pelayan yang menemaniku berkeliling istana. Rafael tidak mengurungku, Tapi Dia memberikanku pengawalan yang ketat. Kemanapun Aku pergi, Aku selalu dikawal dan diawasi. Gulfku sudah dirampas olehnya. Sehingga semua informasi Aku dapat dari pelayan yang melayaniku.
"Mereka tawanan yang bertugas menggali sumur untuk mendapatkan persediaan air istana"
Aku melihat Banyak pekerja dibawah pengawasan yang begitu ketat, bahu membahu ditengah teriknya matahari yang seolah membakar kulit. Mengangkat tanah dan bebatuan dengan menggunakan keranjang. Ada seorang tawanan yang terjatuh. Seorang penjaga datang dan mencambuknya. Namun karena Dia tidak juga bisa bangun , Dua penjaga datang dan menyeretnya pergi.
"Akan dibawa kemana Dia ?" Tanyaku langsung.
"Jika nasibnya baik Dia akan dibawa ke rumah singgah. Jika tidak, Dia akan langsung dieksekusi"
__ADS_1
"Bagaimana bisa menghilangkan nyawa orang seperti itu. Dia kelelahan di udara sepanas ini. Apa Dia mendapat tempat tidur dan makanan yang pantas ?"
"Sesuai perintah Raja Rafael, Tawanan hanya mendapat jatah makan sekali saja berupa sepotong roti dan setengah gelas air bersih. Bagi tawanan yang sudah tidak mampu bekerja lebih baik disingkirkan untuk mengurangi beban negara. Tapi bagi yg hanya terluka, Akan dibawa ke rumah singgah"
"Apa itu rumah singgah ?"
"Rumah bagi para tawanan yang sakit yang dibuat oleh Raja sebelum Raja Tradem"
"Penjaga, Bawa Aku ke sana"
"Mohon maaf Putri, Raja memerintahkan untuk tidak membiarkan Putri keluar istana tanpa izinnya"
"Dimana Raja kalian ?"
"Raja berada di istana teratai"
Penjaga itu tampak salah tingkah. "Raja..Raja sedang bersantai bersama para selirnya"
Apa ?. Bersantai. Dia bisa santai sedangkan banyak rakyatnya yang menderita.
"Bawa Aku ke Raja kalian" Perintahku langsung.
Aku membuka pintu lebar dengan keras. Para penjaga dan pelayan tampak ketakutan dibelakangku. Saat Aku memasuki ruangan,Aku tertegun melihat pemandangan didalamnya. Ada sekitar sepuluh atau lima belas wanita muda dan cantik disini, Pakaian mereka nyaris tidak menutupi apapun dari tubuh mereka. Rafael duduk selonjoran di permadani ditemani beberapa gadis. Mereka sedang melayani hasrat Rafael secara bersamaan.
__ADS_1
Ruangan ini tampak seperti rumah bordil bagiku.
"Untuk apa Kau ke sini ?, Kalau Kau ingin bergabung sayang sekali, Aku lebih suka menikmati waktu hanya berdua denganmu" Kata Rafael ketika Aku mendekat.
"Aku tidak menemuimu untuk menyerahkan diriku. Aku ingin pergi ke rumah singgah"
"Untuk apa Kau ke sana ?, Apa Kau merencanakan sesuatu"
"Aku ingin pergi melihat tawanan yang terluka. Kau sangat kejam. Membunuh mereka seperti seekor lalat dan membiarkan Mereka yang terluka mati sia-sia tanpa pertolongan"
"Sifatmu yang penentang ini yang Aku suka. Aku sedang tidak ingin berdebat dengamu. Tapi ingat Kau tidak boleh pergi tanpa pengawasan. dan jika Kau mencoba melarikan diri, Aku tak segan akan merantai kakimu di kamar"
"Terimakasih. Saya permisi dulu Raja Rafael" Kataku dingin.
Para penjaga dan pelayan mengikutiku berjalan kaki menuju rumah singgah. Udara sangat panas. Rasanya matahari bisa membakarku sewaktu-waktu. Butuh waktu sekitar dua puluh menit ketika Kami akhirnya tiba di rumah singgah.
"Apa-apaan ini ?" Aku melihat bangunan tua yang tidak terawat. Banyak lubang di dindingnya dan sudah miring di sisi kirinya. Bangunan yang siap rubuh sewaktu-waktu.
"Putri lebih baik kita kembali. Tempat ini bisa rubuh kapan saja. Terlalu berbahaya" Saran pelayan disampingku.
Aku mendengar suara erangan samar dari dalam bangunan. Aku sudah sampai sini. Tidak mungkin Aku berbalik pergi hanya karena Bangunan yang rubuh ini. Dengan langkah mantap Aku menuju pintu masuknya. Tangga berderit nyaring ketika Aku memijakan kakiku dirumah itu.
Atapnya sudah bolong di beberapa tempat. Keterlaluan sekali Rafael. Dia benar-benar orang yang tidak punya hati.
__ADS_1
Aku memegang gagang pintu, dan membukanya.
Seketika Aku mundur. Aroma tidak sedap dan hawa pengap dari dalam menguar. Aku langsung mundur sembari menutup hidungku.