Water Ripple

Water Ripple
8


__ADS_3

Aku langsung berganti pakaian dibantu dua orang pelayan. Aku sengaja meminta mereka untuk tidak mengenakan banyak perhiasan. Aku tidak ke sana untuk jamuan, melainkan untuk membicarakan masalah Putri Margitha dan Ratu. Sangat tidak sopan jika Aku datang dengan penuh perhiasan ditubuhku. Setelah cukup yakin dandananku tidak terlalu membuat malu, Aku pergi ke halaman menyusul Pangeran Sera yang telah menunggu.


Saat Aku datang, Dia sedang berbicara dengan serius dengan tiga orang kepercayaannya. Mereka mendengarkan segala perintah Pangeran Sera. Tampaknya Pangeran langsung menyuruh orang untuk menyelidiki negeri Rasyamsah. Baguslah..semakin cepat Pangeran Sera membuktikan omonganku semakin cepat Putri Margitha dan Ratu selamat.


Kami menaiki kereta bersama dengan Pendeta Naru dalam keheningan. Pangeran dan Pendeta Naru tampak sibuk dengan pikirannya sendiri. Di luar salju kembali turun dengan derasnya. Aku merapatkan pakaianku, sedikit menggigil. Lututku terasa beku. Aku menahan mati-matian agar tidak terlihat Pangeran Sera. Dia sudah penuh dengan masalah Putri Margitha, Aku tidak mau menambah masalahnya kembali dengan hal-hal sepele seperti ini.


"Bagaimana Naru, Apakah Kau sudah bisa melakukannya" Tanya Pangeran Sera tiba-tiba, memecahkan keheningan.


"Saya masih berusaha menembusnya Pangeran" Ujar Pendeta Naru penuh hormat


"Ada apa ?" Kataku binggung dengan arah pembicaraan mereka berdua. Pangeran mendesah pelan.


"Maafkan Aku, Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri sehingga mengacuhkanmu. Lihat dirimu, Kau pasti kedinginan" Pangeran mengambil selimut di sampingnya dan lalu menyelimutiku.


"Apakah ada informasi baru" Aku mengabaikan lututku yang gemetaran.


"Belum, Aku sudah menyuruh orang untuk menyelidiki negeri itu"


Aku menundukkan kepala terpekur. Mana mungkin Kami mendapat informasi secepat ini. Sudah berapa hari sejak mimpi itu. Apa selama itu Putri Margitha bisa melewati hidupnya dengan aman.


Pangeran menyentuh pipiku, lalu mencubitnya. Aku menoleh padanya terkejut. Tidak sadar ternyata Dia memperhatikanku. "Apa yang Kau pikirkan, Tenanglah semua akan baik-baik saja. Margitha putri yang kuat"

__ADS_1


Pangeran seperti sedang menghibur dirinya sendiri. Aku merasa tidak berguna sama sekali. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat ini.


"Mana senyummu Yuki" Ujar Pangeran kembali mencubit pipiku.


"Sakit" Rengekku melepaskan cubitannya.


"Tetaplah tersenyum seperti biasa, Kau tau..Kau adalah penyemangatku. Jika Kau bersedih bagaimana Aku bisa mendapatkan semangat Yuki ?"


Aku menatap Pangeran sejenak. perlahan memberikan senyum padanya. Dia balas tersenyum, bibirnya tipis dan kemerahan. Membuat wajahku memerah membayangkan bibir itu pernah beberapa kali menciumku. Aku langsung memalingkan wajahku. Tidak enak karena sekarang ada pendeta Naru didekat Kami. Nanti jangan-jangan Dia mengira Aku putri yang mesum.


Kami memasuki gerbang istana. Ketika akhirnya kereta berhenti, jantungku tiba-tiba berdebar kencang.


"Bagaimana jika Istana tidak mempercayaiku ?" Tanyaku ragu pada Pangeran Sera ketika Dia membantuku turun dari kereta kuda.


Aku menganggukan kepala lega. Pangeran Sera menggengam tanganku erat. Kami berjalan bergandengan memasuki istana Raja.


Ketika Kami memasuki aula istana Raja, Suasana tegang tampak menyelimuti seluruh isinya. Raja duduk sembari memijit keningnya. Dia tampak tidak seperti biasanya. Tekanan atas kehilangan istri dan putrinya sangat mempengaruhinya. Konon kabarnya Putri Margitha adalah anak kesayangan Raja Jafar. Kami menunduk memberi hormat kepada Raja. Ada Pangeran Arana dan Putri Nadira. Kehadiran Putri Nadira mengingatkanku untuk bertanya soal Putri Alena nanti. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya Karena Pangeran Riana sudah membawaku kabur ke Garduete. Setelah itupun Aku langsung kembali ke duniaku yang lama.


"Selamat datang kembali Putri Yuki, Maafkan karena Aku belum bisa menyambutmu sebagaimana mestinya" Ujar Raja menerima hormat kami.


"Terimakasih yang mulia" Aku tidak berani mengatakan lebih dari itu. Aku rasa Raja sangat sensitif sekarang, Jika Aku salah ucap bisa fatal akibatnya. Apakah dengan keadaan Raja yang seperti ini Dia mampu menerima informasi yang akan kami sampaikan ?. Aku merasa ragu. Apalagi dengan Putri Nadira yang terus melotot tajam kearahku.

__ADS_1


"Ayah, Kami datang kemari untuk menyampaikan informasi yang penting mengenai Putri Margitha dan Ibu" Ujar Pangeran Sera langsung. Sontak seluruh hadirin yang ada dalam ruangan memandang ke arah Kami dengan wajah yang serius. Mereka semua tampak tegang penuh pengharapan.


"Apa Kau sudah menemukan keberadaan Mereka ?"


"Kita harus menyelidiki Negeri Rasyamsah. Saat ini Margitha dan Ibu ditahan oleh Raja Trandem"


"Trandem ?, Itu adalah sekutu kita. lagipula Rasyamsah sangat jauh dari sini. Bagaimana caranya Mereka bisa membawa Margitha dan Ratu tanpa seorangpun mengenalinya" Tanya Raja tidak percaya. "Bawa Prajurit yang memberikan informasi. Aku ingin berbicara langsung dengannya"


Pangeran Sera terdiam.


"Kenapa Sera ?"


Aku menundukkan kepala sekali lagi. "Hamba mohon maaf yang mulia, Tapi sayalah yang memberikan informasi mengenai keberadaan Ratu dan Putri Margitha kepada Pangeran"


"Putri Yuki" Tanya Raja semakin kaget. Dia memandangiku dan Pangeran Sera bergantian menuntut penjelasan.


"Ayah, Aku mohon dengarkan Yuki terlebih dahulu" Bela Pangeran Disampingku.


"Ceritakan Putri"


"Sebenarnya alasan hamba datang kembali ke dunia ini adalah karena hamba bermimpi mengenai Putri Margitha. Dia muncul dalam mimpi dan menyampaikan pesannya..."

__ADS_1


"Apa mimpi, Jadi Kau ingin mengatakan bahwa Kau tau dimana Margitha dan Ratu dari mimpimu. Memang Kau ini siapa ? Dewa ?" Tanya Putri Nadira memotong ucapanku dengan nada sengit.


__ADS_2