Water Ripple

Water Ripple
28


__ADS_3

"Jika Kalian tertarik, Ayo ikut ke perkemahanku" Rafael meloncat menghampiri ular yang telah mati. Aku menduga ada racun di dalam panah yang ditembakan Rafael yang membuat Ular itu terbunuh. Aku memalingkan wajahku ketika Rafael menebas kepala Ular dengan pedangnya.


"Apa yang Kau lakukan ?" Tanyaku merasa jijik. Bau anyir darah dari ular itu membuatku mual. Dengan acuh Rafael memasukan tubuh ular ke dalam karung yang dibawanya. Tiga orang temannya muncul dari balik pohon dan langsung mengangkat karung-karung itu pergi.


"Aku seorang pemburu Putri, Jadi apa lagi yang kulakukan selain berburu untuk mencari makan. Ular ini akan jadi makan malam yang cukup untuk Ku dan teman-temanku" Katanya saat melihat reaksiku. "Jadi bagaimana, Kalian mau ikut atau bermalam disini dengan ular lain yang menunggu ?"


Pangeran Arana tampak sekali tidak setuju. Rahangnya terkatub rapat. Tapi Aku merasa ini adalah kesempatan yang baik. Kami tidak mempunyai bantuan atau dukungan apapun sekarang ini. Hanya berempat tanpa membawa persiapan yang berarti.


Rencana awal Kami hanyalah bagaimana Kami bisa memasuki negeri Rasyamsah tanpa ketahuan terlebih dahulu. Baru menyusup ke istana Raja dan terakhir menyelamatkan Ratu dan Putri Margitha. Pangeran Arana pernah bercerita bahwa sangat sulit menembus penjagaan Rasyamsah di perbatasan dengan jalur biasa. Jika mau Kita dapat melewati gunung terjal dan penuh jurang untuk memasuki wilayah Rasyamsah. Tapi selain resikonya cukup besar, Juga waktu yang digunakan jauh lebih banyak. Putri Margitha dan Ratu sudah lebih dari empat bulan dalam tawanan semenjak Aku bermimpi mengenainya. Aku semakin khawatir akan keadaan Ratu dan Putri Margitha. Jika Kami punya kesempatan untuk memasuki wilayah Rasyamsah lebih cepat tanpa harus melewati gunung terjal, Maka Kami makin cepat untuk menolong Mereka.


Yang paling sulit dari rencana Kami hanyalah memasuki negeri Rasyamsah. Jika Kami sampai Istana Raja, Pangeran Arana sudah hafal seluk beluk istana dan tempat-tempat rahasia yang memungkinkan pelarian. Membawa Putri Margitha dan Ratu adalah hal yang mudah.


"Kita coba saja. Tapi tolong jangan sampai Dia juga mengetahui identitas Pangeran Arana" Bisikku ketika Rafael agak jauh untuk mendengarkan Kami.

__ADS_1


"Aku tidak mempercayainya" Ujar Pangeran Arana dengan bibir terkatub.


"Aku tahu, Tapi Kita coba dulu. Siapa Tau keberuntungan di pihak kita" Kataku menenangkan.


"Bagaimana, Hari sudah semakin sore. Kalian jadi ikut atau tidak ?" Tanya Rafael nyaring dari atas batu besar.


"Ya Kami akan mendengarkan dulu apa rencanamu baru bisa memutuskan apakah Kami akan ikut atau tidak nantinya"


Rafael mengangkat bahunya acuh. Tiga orang prajurit kembali untuk mengambil kuda yang kami tinggalkan. Tak berapa lama mereka kembali. Aku mengkuti langkahnya. Kami tidak bisa menggunakan kuda karena medannya tidak memungkinkan. Rafael bergerak dengan lincah didepanku, Dia sangat hafal dengan keadaan hutan ini. Beberapa kali Aku tergelincir karena lumut dibebatuan. Untung saja ada Pangeran Arana yang selalu membantuku.


"Jelas Kau tidak punya pengalaman hidup di hutan. Tapi Kau nekat melarikan diri kemari"


Aku mencembik mendengar sindiran Rafael. Akhirnya Kami telah tiba di perkemahan kelompoknya. Beberapa orang tampak membakar daging diatas api. Mengingatkanku untuk tidak makan itu nantinya. Aku lebih memilih menjadi herbivora ketimbang harus makan daging ular.

__ADS_1


Kami mendirikan tenda sedikit terpisah dari kelompok Rafael. Pangeran Arana masih merasa tidak nyaman jika terlalu dekat dengan mereka. Aku mencoba meyakinkannya bahwa Apa yang kita lakukan sekarang ini semata-mata hanya untuk mempercepat jalan masuk ke dalam negeri Rasyamsah.


Rafael memberiku tempat aman dan tertutup untuk membersihkan diri. Ada bilik kecil yang dibangunnya, dengan tong yang diletakan sedemikian rupa untuk penampungan air. Aku membuka semua pakaianku. Mengguyurkan air di badan dan rambutku. Menyabuni mereka. Sudah beberapa hari Aku tidak mandi. Sekarang dapat mandi seperti ini adalah suatu mukzizat. Setelah selesai mandi dan berganti baju. Aku keluar menemuinya yang telah menunggu sambil mengintari api unggun. Rafael memberikanku sepiring penuh ubi yang telah dibakar sebelumnya. Sepertinya Dia tau, Aku tidak akan mau makan daging ular meskipun Aku sekarang ini sangat lapar. Pangeran Arana menyusul didekatku. Dia tidak membiarkan Aku sendiri apalagi bersama Rafael.


Aku mengupas ubi itu. Masih agak panas. Tapi ketika Aku memakannya, Perutku terasa lebih hangat. Ubi ini sangat manis dan enak.


"Jadi apa rencanamu ?" Tanyaku sembari memakan ubi di tanganku.


"Kita tidak bisa memasuki wilayah Rasyamsah secara sembarangan selain melewati gunung itu. Kau tau Raja Trandem sangat menyukai wanita cantik. Selama ini Aku mencari wanita yang tepat untuk membantu kami"


"Dan.." Tanyaku mulai curiga.


"Jika Kau mau membantu, Kita akan bisa melewati Penjagaan dengan mudah, malah kemungkinan besar Kau bisa langsung menuju istana Raja dengan lebih cepat daripada perkiraan"

__ADS_1


"Katakan padamu, Apa yang Kau perluhkan dariku ?" Kataku tanpa mau berbasa basi lagi. Aku merasa pandangan Rafael menyusuri seluruh badanku. Kadang ada perasaan bahwa Dia ini pria berbahaya yang harus kuhindari. Sesuatu didalam dirinya membuatku tidak nyaman. Tapi...Aku tidak punya pilihan lain.


"Sangat mudah" Rafael mengangkat bungkusan di sampingnya. Dia melemparkan bungkusan itu kepangkuanku. Aku refleks menangkapnya. Membuat ubi ditanganku jatuh ke tanah. "Kau hanya perlu berganti pakaian dengan itu dan sedikit berdandan untuk bisa membantu kita"


__ADS_2