
Aku membuka mata, Pangeran Sera masih tidur pulas di sampingku. Hari sudah cukup terang. Tidak ada pelayan yang masuk ke dalam kamar. Pelan, Aku mengeser tangan Pangeran Sera yang memelukku. Aku menggapai handuk di lantai samping tempat tidur yang digunakan Pangeran Sera semalam untuk mengeringkan rambutnya. Menggunakannya untuk membalut tubuhku yang tanpa busana. Aku meraih gaunku yang ku tinggalkan semalam, berjalan menuju kamar mandi. Aku membiarkan air mengguyurku. Rasanya pedih mengetahui kenyataan ini, Aku bukan lagi milik Pangeran Riana. Tubuh ini sudah dinikmati lelaki lain selain Dia. Aku sudah sangat kotor. Aku memejamkan mataku, berusaha agar tidak menangis. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri semalam, Aku tidak akan lagi menangisi takdirku ini. Aku sudah memutuskan Aku harus tabah.
Aku terkejut ketika ada seseorang memelukku dari belakang. Ketika menoleh Aku melihat Pangeran Sera di belakangku.
"Pangeran.."
Dia tersenyum senang. Mengecup leherku dari belakang. Air mengguyuri Kami. Pangeran membalikkan tubuhku menghadapnya. Tanpa basa basi Dia langsung menciumku.
Seluruh negeri tampak bersiap menyambut pesta pernikahan Kami. Undangan telah disebar jauh hari. Gaun-gaun telah dipersiapkan. Aku telah mengikuti berbagai upacara kerajaan dan adat untuk pengesahanku sebagai istri dari Pangeran Sera.
Besok adalah hari pernikahan Kami. Aku mendengar Pangeran Riana sudah tiba di Argueda. Aku cukup bersyukur Dia dapat kembali dengan selamat, Raja Bardansah sangat marah saat melihat Pangeran diantar ke perbatasan dalam kondisi terluka sehingga nyaris terjadi perselisihan antara kedua negara.
__ADS_1
Pangeran Riana baru saja pulih dari lukanya, Tapi Aku mendengar begitu Dia mendapatkan undangan pernikahan Kami, Dia langsung pergi kembali ke Argueda. Apakah luka di tubuhnya itu tidak Dia jadikan pengalaman, Bahwa sangat berbahaya datang kemari. Harusnya Dia melupakan ini semua. Dia sudah bebas menentukan pasangannya. Apakah Dia tidak memikirkan keselamatannya, Tidak memikirkan negerinya jika terjadi sesuatu padanya.
Enam orang pelayan khusus untuk pernikahanku mengelilingiku. Mereka telah selesai memandikanku, memberiku perawatan dari setiap inci tubuhku. Sekarang, Mereka mengukir tangan dan kakiku dengan heina. Ada setiap doa dari simbol-simbol yang Mereka tulis. Nama Pangeran Sera diselipkan diantaranya. Di luar keramaian terus saja terjadi. Tamu undangan dari berbagai negara sudah memasuki ibukota. Ini adalah pernikahan kerajaan. Selain itu fakta bahwa Aku sebelumnya ada Calon Ratu Negeri Garduete menarik perhatian orang banyak.
Aku berada di kamar pengantin seorang diri. Sudah satu minggu ini Aku dikurung disini. Ada tradisi pengantin perempuan tidak boleh bertemu dengan pengantin Pria selama seminggu sebelum pernikahan. Kedua mempelai diharuskan berada di kamar dan tidak boleh keluar selama satu minggu sampai hari pernikahannya. Dan malam sebelum hari pernikahan, Pengantin Wanita akan dibiarkan sendirian di kamar pengantin untuk berdoa memohon pada dewa agar pernikahan dan kehidupan rumah tangganya berjalan baik.
Alih-alih berdoa, Aku berdiri menatap pemandangan dari cendela dan melamun.
Entah kabar dari mana, Tapi ada gosip yang berhembus bahwa Aku bersedia menikahi Pangeran Sera dan melepaskan posisiku sebagai Calon Ratu Negeri Garduete dengan dibantu pendeta Naru, ketika melihat Negeri Argueda telah menjadi negeri terbesar didunia. Aku meninggalkan Pangeran Riana demi jabatan dan kekayaan yang lebih besar. Aku tidak peduli berita buruk seperti itu.
"Jika Kau memang ingin pergi, Aku bisa membantumu kalau Kau mau"
__ADS_1
Aku berbalik. Terkejut saat mendapati seorang pemuda yang usianya mungkin lebih tua dua atau tiga tahun dari Pangeran Riana duduk sembari menyilangkan kaki, di sofa yang berada di dekatku. Dia bersandar santai tanpa beban. Rambutnya berwarna putih susu, bola matanya berwarna coklat sepertiku. Dia tersenyum memandangku, Seolah Aku menantikan kehadirannya selama ini. Pemuda ini sangat tampan, gerak-geriknya mampu menarik perhatian siapapun didekatnya, terutama lawan jenis. Penampilannya mampu memikat wanita yang melihatnya. Aku dapat menebak sudah banyak wanita jatuh ke pelukannya. Tapi bukan itu masalahnya, Aku melirik pintu kamar. Tidak ada suara pintu terbuka sebelumnya. Lalu dari mana Dia masuk. Tidak mungkin Dia lewat cendela, Aku berada di sini pasti akan menyadarinya.
Bagaimana Dia bisa masuk kemari sedangkan di luar penjagaanya begitu ketat.
"Kau tahu Yuki, jika Kau berdiri disana dengan wajah seperti itu, Kau terlihat sedang menangis bersama hujan. Untuk ukuran wanita yang akan menikah Kau terlihat menyedihkan" Selorohnya lagi tanpa tendeng aling-aling.
"Siapa Kau ?" Kataku lirih. Aku tidak tahu siapa Dia. Tapi Dia bersikap seolah mengenalku. Ada sesuatu didalam dirinya yang menakutkan, Dia pemuda yang berbahaya, yang mampu membunuh orang lain tanpa menyesal, tapi anehnya Aku tidak takut padanya. Justru Aku seperti merasa Dia adalah jawaban dari segala doaku selama ini.
"Kita belum pernah bertemu secara langsung sebelumnya, Namun setidaknya salah satu dari orang tuamu sudah menceritakan siapa diriku ?" Kata Pemuda itu lagi sambil menatapku dengan keyakinan penuh
Aku mengenyit, meneliti lagi wajahnya untuk kesekian kali. Kulitnya pucat, Tapi Dia...Dia memiliki mata ayah yang juga kumiliki. Ada Ayah didalam dirinya. Aku melihatnya dengan jelas tanpa keraguan.
__ADS_1
Kemudian Aku teringat akan surat yang ditulis Mama untukku. Di surat itu selain menceritakan soal kisah cintanya Dia juga menceritakan hal lain, Anak laki-laki Ayah dari pasangan sebelumnya.
"Aku tahu siapa Kau..." Bisikku pelan namun Dia cukup mendengarnya. "Kau Lekky, Kakakku"