Water Ripple

Water Ripple
2


__ADS_3

Aku bersandar di tembok. Saat ini Aku berada di kamar mandi sekolah. Aku menatap ke cermin didepanku. Pikiranku terus menimbang, Ini adalah penentuan hidupku. Pangeran Riana memberikan cincin ini padaku, Dia mengatakan ini adalah cincin pembuka pintu penghubung dengan dunia sana, Tapi juga pengunci sehingga Aku tidak akan dapat kembali lagi untuk selamanya ke dunia yang sekarang kutempati.


Siapkah Aku ?.


Aku tidak bisa mengabaikan mimpi yang baru saja kulewati. Aku masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana nafas Ratu yang terputus-putus. Aku juga masih bisa mengingat bagaimana ekpresi ketakutan dari Putri Margitha. Apakah Aku tega membiarkan mereka menderita seperti itu.


Aku menghela nafas. Keputusan sudah kuambil. Aku mengambil Handphone dan menghubungi Bibi Sheira. Bibi Sheira menjawab di dering ke dua.


"Bibi.."


Aku menceritakan mimpiku dan keputusanku untuk kembali lagi ke dunia itu. Bibi akan mengurus segala keperluanku. Dia juga meminta Phil untuk pulang. Sekarang siap tidak siap Aku harus kembali ke dunia itu.


Aku menutup telephoneku. Memasukkan kembali kedalam saku. Aku menunduk dan membilas wajahku dengan air mengalir. Tidak ada yang perlu kusesali. Aku berusaha menguatkan hatiku.


Bibi sheira telah menelephone sekolah sehingga Aku bisa kembali lebih awal. Setelah berganti baju dan mengambil tas di kelas, Aku membuka loker dan memasukkan beberapa barang yang kubutuhkan ke dalam tas. Sisanya biar Bibi Sheira yang mengambilnya nanti.


"Kau akan pergi lagi" Aku berbalik terkejut. Raymond sudah berdiri di belakangku. Menatapku dengan pandangan yang sukar kujelaskan. Ada kesedihan dimatanya, membuatku tidak mampu berkata apa-apa.


"Asa apa Raymond" Kataku pura-pura tak mengerti.


"Kau akan kemana ?"


"Bibi memintaku kembali segera, Aku harus segera pulang karena ada keperluan" Aku menunduk tidak berani menatapnya.


"Kapan Kau akan kembali"


Gerakanku terhenti. Aku menatap Raymond merasa bersimpati padanya. Aku adalah Ciel. Jika ada seseorang yang jatuh cinta dengan seorang ciel, Dia akan mencintainya seumur hidupnya. Aku merasa Raymond adalah salah satunya. Sebenarnya Aku mempunyai pilihan lain dalam hidupku jika Aku mau, Bersama Raymond dan tidak akan kembali ke dunia itu lagi. Tapi Aku tidak mungkin setega itu dengannya, Pangeran Riana tidak mungkin membiarkan Kami bersama. Bisa-bisa Dia malah menyakiti Raymond atau malah membunuhnya.


"Aku tidak tahu"


"Apa maksudmu tidak tahu"


Aku berbalik dan menatapnya dalam

__ADS_1


Aku berbalik dan menatapnya dalam. "Mungkin Aku tidak akan kembali Raymond"


Hening.


Kami saling bertatapan dalam diam.


"Apa Kau akan pergi bersama Pria itu ?" Tanya Raymond mengejutkanku. "Aku sempat melihatnya waktu itu, Ketika Dia menarikmu paksa ke sebuah lubang aneh di rumah kaca. Setelah itu Kau kembali menghilang tanpa jejak selama delapan bulan "


Aku berbalik dan menatapnya dalam. "Mungkin Aku tidak akan kembali Raymond"


Hening.


Kami saling bertatapan dalam diam.


"Apa Kau akan pergi bersama Pria itu ?" Tanya Raymond mengejutkanku. "Aku sempat melihatnya waktu itu, Ketika Dia menarikmu paksa ke sebuah lubang aneh di rumah kaca. Setelah itu Kau kembali menghilang tanpa jejak selama delapan bulan "


"Ya..." Bisikku akhirnya. Aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa padanya. Semua kata didalam mulutku seolah terkunci rapi.


"Ya"


"Apakah Kau mencintainya"


Apakah Aku mencintai Pangeran Riana ?


Aku bertanya pada diriku sendiri dan tidak menemukan jawabannya. Namun, Aku merasa nyaman saat bersamanya. Saat Pangeran Sera membawaku pergi ke Argueda Aku merasa itu bukan rumahku. Bukan tempatku yang seharusnya. Aku merasa bahagia yang amat sangat ketika Pangeran Riana membawaku kembali ke garduete. Apakah ini yang dinamakan cinta ?. Aku masih belum mengerti dengan benar.


Raymond melihat keraguan dimataku. "Kau masih belum tau apa Kau mencintainya atau tidak ya"


"Ya.."


"Tapi Kau akan tetap pergi ke sana ?"


"Ada seseorang yang harus kuselamatkan"

__ADS_1


"Apakah orang itu penting untukmu ?"


"Ya"


"Seberapa penting ?"


"Dia keluargaku" Kataku Akhirnya. Raymond terdiam lagi.


"Jadi ini terakhir kita bertemu" Bisiknya akhirnya setelah Diam yang cukup lama. Aku merasa suaranya sedikit bergetar.


"Maafkan Aku, Tapi Aku memang harus pergi"


"Bolehkah Aku mengantarmu ?"


"Ini masih jam sekolah, Kau tidak bisa membolos. Ingat siang ini Kau ada wawancara untuk beasiswamu" Kataku mengingatkan. Dia akan diterima sekolah di salah satu universitas bergensi diluar negeri. Aku tidak ingin mengacaukan hidupnya kembali.


"Sampai gerbang sekolah. Apa Kau setuju"


"Ya, tentu"


Aku selesai merapikan barang-barang yang kubutuhkan dalam tas ku. Aku menutup loker dan menguncinya. Raymond berjalan disampingku. Dia menggengam tanganku, terasa hangat. Mengingatkanku ketika Kami masih sepasang kekasih. Dia selalu mengandengku seperti ini ketika Kami berjalan bersama. Aku menahan mati-matian keinginanku menangis. Ini sudah keputusanku. Aku harus tegar.


Beberapa murid berdehem menggoda saat melihat Kami. Tapi Raymond sama sekali tidak terpengaruh dan tetap berjalan sembari mengandeng tanganku.


Kami berjalan dalam diam setelah Aku menceritakan asal usulku dan kemana Aku pergi selama ini. Kami tenggelam dalam pikiran masing masing. Akhirnya tanpa Kami sadari, Kami telah tiba di gerbang sekolah. Bel pelajaran kembali berdering. Suara riuh rendah para murid yang berlari agar tidak ketinggalan jam pelajaran terdengar di berbagai sudut. Kami hanya berdiri menunggu dengan tenang sampai semuanya pergi.


"Segera temukan wanita yang baik untukmu" Kataku akhirnya.


"Tidak ada yang sebaik dirimu"


Aku tertawa canggung. "Hentikan merayuku seperti ini. Aku sudah tidak lagi terpengaruh rayuan buayamu"


Sekarang halaman benar-benar sepi. Hanya tinggal Kami berdua. Tapi teman-teman kelas Kami yang kebetulan melihat Kami di cendela kelas, mengintip sembari sesekali menyoraki Kami.

__ADS_1


__ADS_2