
Ketika Aku keluar pintu, Aku menemukan Putri Marsha memandangku penuh kebencian.
"Tujuanmu sudah tercapai, Sekarang Jaga Dia dengan baik" Kataku tanpa menggubriskan tatapannya kepadaku.
Aku tidak menunggu jawabannya atau semburan kemarahannya, berjalan dengan gotai menuju kereta yang telah menunggu. Pangeran Sera berdiri disamping kereta. Menungguku. Pintu kereta dibuka, Pangeran Sera mencekal tanganku ketika Aku akan memasuki kereta.
"Aku tahu cintaku ini terlihat sangat gila bagimu, Tapi ini juga cinta Yuki...ini cinta"
Aku diam, menepis cekalannya. Pintu di tutup. Pangeran Sera berkuda didepanku. Aku bersyukur Dia membiarkanku sendiri didalam kereta. perasaanku kacau. Aku menangis.
Sesampainya di Argueda, Pangeran Sera langsung menemui Raja untuk mempersiapkan pernikahan. Dia tidak ingin menunggu lagi.
Raja menyetujui.
Pendeta Naru melakukan upacara untuk mendapatkan hari baik. Dan ternyata Kami bisa menikah di bulan ini. Menurut Naru bulan ini sangat baik untuk pernikahan Kami. Segera Raja memerintahkan istana untuk segera membuat persiapan pernikahan. Aku diukur untuk membuat gaun pernikahan. Putri Margitha yang telah pulih dari trauma tampak sangat antusias membantu memilih model,warna dan bentuk gaun pernikahan, perhiasan dan segala aksesorisnya. Seolah Dia yang akan menjadi pengantinnya.
Aku duduk di pinggir tempat tidur. Pangeran Sera datang lebih sore hari ini. Dia tidak mengatakan apapun. Tapi pelayan mendandaniku malam ini. Mereka memberiku gaun malam dari sutra yang bahkan hampir tidak menutupi seluruh tubuhku dengan benar. Membuatku tersadar, Pangeran menginginkanku malam ini.
Jantungku berdegub dengan kencang. Aku tau hal ini pasti akan terjadi suatu hari. Tapi Aku tidak menyangka akan secepat ini.
Di ruangan lain dalam kamar, Pangeran Sera sedang mandi. Para pelayan sudah keluar kamar sembari tadi. Tidak ada seorangpun di kamar ini kecuali Kami berdua.
__ADS_1
Terdengar suara pintu dibuka. Pangeran keluar dari kamar mandi dengan hanya bertelanjang dada. Rambutnya basah. Dia memegang handuk ditangannya untuk mengeringkan rambutnya. Aku meremas kedua tanganku di pangkuan. Merasa tidak nyaman dengan situasi yang terjadi.
Pangeran tidak mengatakan apapun. Dia berjalan mengambil anggur di meja dan meminumnya. Kemudian berjalan dan duduk di sampingku, Tubuhnya terlihat langsing dari luar, Namun ketika Dia tidak memakai pakaian Aku bisa melihat otot tubuhnya yang terlatih sempurna. Aku mencium wangi sabun dari Pangeran Sera.
Kami hanya berdiam diri. Aku merasa gugup dan binggung. Aku tidak tahu harus bagaimana. Perasaanku bercampur aduk.
Pangeran mengusap lembut bahuku, membuat bulu kudukku berdiri. Tangannya naik menelusuri wajahku, menyibakkan rambutku ke telinga. Tangannya yang lain memegang bahuku, menuntunku untuk menghadapnya. Aku terus menunduk, Tidak berani menatap Pangeran Sera. Pangeran Sera mendekatkan wajahnya, Dia menciumku.
Ciumannya terasa lembut dan hangat, Namun hatiku tetap saja terasa dingin. Aku hanya diam ketika Dia menciumku. Tidak membalas, juga tidak menolak. Seperti patung. Tangan Pangeran menelusuri tubuhku, Entah kenapa saat ini Aku teringat Pangeran Riana. Aku merasa seperti wanita yang buruk. Tanpa sadar air mataku mengalir. Pangeran menghentikan ciumannya. Dia menatapku, melihat air mata di wajahku.
"Apa yang harus kulakukan padamu Yuki, Apa yang harus kulakukan ?" Tanya Pangeran frustasi. Aku memalingkan wajahku, Tidak mau menatapnya.
Tapi Pangeran mencengkram bahuku kuat, Menggoyangkan tubuhku dengan kasar membuatku terkejut. Aku belum pernah melihatnya seperti ini. Terasa kemarahan di matanya. "Lihat Aku Yuki...Lihat Aku" Katanya lagi.
Ada nada yang sangat dalam dalam ucapannya. Seolah berkata agar Aku bisa melihat cintanya yang begitu besar, Melihat dirinya dan bukan orang lain di pikiranku.
Pangeran berdiri dengan marahnya. Dia mengambil kembali gelas anggurnya dan mengisinya. Gelas itu kembali kosong dalam sekejap.
"Seharusnya Aku tidak mendengarkanku dan membunuhnya saat itu"
Aku terkejut mendengar perkataan Pangeran Sera.
__ADS_1
"Seharusnya Aku menyingkirkannya saat itu juga"
"Tidak, Kau sudah berjanji padaku" Kataku menolak. Aku berdiri dan berjalan mendekatinya.
"Lalu, Apa Kau sudah memenuhi janjimu ?" Tanya Pangeran membuatku terdiam.
Aku telah berjanji pada Pangeran Sera, Jika Aku menikah dengannya Dia tidak akan membunuh Pangeran Riana Atau menyentuh Garduete. Aku percaya dengan kekuatannya sekarang besar kemungkinan untuk meruntuhkan negeri itu. Aku dengar Romawa, satu dari empat negara terbesar sebelumnya, juga sedang bergesekan dengan Garduete, Jika Argueda bekerja sama dengan Romawa maka Garduete akan hancur. Aku tidak bisa membiarkannya.
"Aku milikmu..Aku milikmu" Kataku pada Pangeran Sera kemudian.
Jika Aku harus menikah dengan Pangeran Sera demi menyelamatkan Pangeran Riana Aku akan melakukannya. Jika Aku harus tidur dengannya demi melindungi negaraku dari keruntuhan maka Aku akan melakukannya.
"Beri Aku waktu sebentar" Kataku pelan. Pangeran Sera diam, Masih ada emosi didalam dirinya yang belum reda. Tanpa menunggu jawaban Aku menuju kamar mandi. Aku mencuci wajahku. Menghapus sisa-sisa air mata di sana. Mengurai rambut dan menyisirnya. Setelah yakin akan perasaanku Aku kembali ke kamar.
Pangeran masih berdiri sembari memegang anggurnya ketika Aku berjalan mendekat. Aku menatap matanya, Menunjukan tekadku. Keseriusanku.
Sambil terus menatapnya, Aku menurunkan gaunku hingga terlepas di lantai. Aku mendekatinya dalam jarak yang begitu dekat. Mengambil gelas anggur ditangannya dan meletakan di meja. Aku memegang tangannya, menekannya di dadaku dengan tanganku.
"Lakukanlah, Sekarang Aku milikmu" Bisikku sembari menatap mata Pangeran Sera.
Pangeran Sera diam. Aku sadar kemudian, Dia menungguku yang memulainya sekarang untuk melihat keseriusanku. Aku mengalungkan tanganku di lehernya, berjinjit lalu mendekatkan bibirku di bibirnya.
__ADS_1
Aku membalas semua ciuman Pangeran Sera. Merespon setiap hasrat yang di suarkannya. Saat sadar Aku sudah di baringkan ke atas tempat tidur, Pangeran Sera diatasku. Aku menariknya mendekat, merengkuhnya kembali dalam pelukanku.
Di luar lonceng bergema mengisi setiap sudut istana. Seolah menyuarakan kekalahanku.