
Aku menghela nafas. Menatapnya dalam. Inilah Akhir pertemuan Kami. Rasanya berat. Aku dan Dia sudah mengenal sangat lama, Walau hubungan Kami sering tidak baik, Tapi Dia selalu menjadi orang yang percaya padaku ketika ada yang mencelaku.
"Sekarang ya.." Tanyanya lirih. Aku menganggukan kepala pelan.
Aku melepaskan gengaman tangannya. Mengambil gelang tali yang selalu kugunakan setiap hari lalu memberikannya pada Raymond.
"Belum-belum Aku sudah sangat merindukanmu. Bisakah Kau tidak pergi Yuki"
Aku menggelengkan kepalaku.
"Selamat tinggal Raymond. Terimakasih sudah ada di hidupku selama ini"
Aku berjinjit mendekatkan wajahku. Raymond menunduk. Aku memberikan ciuman di pipi Raymond sebagai salam perpisahan. "Aku tidak akan pernah melupakanmu" Bisik Raymond sedih.
Aku juga
__ADS_1
Namun Aku tidak mengungkapkannya langsung. Aku tidak ingin memberinya harapan sekecil apapun. Itu akan semakin melukainya.
Teman-teman bersorak nyaring dari kelas dilantai tiga. Menimbulkan keriuhan sendiri. Mereka tidak menyadari bahwa ini adalah perpisahan. Bukan kebahagiaan seperti yang mereka bayangkan. Aku mendongak memandang satu persatu wajah yang kukenal. Ini terakhir kali Aku bisa melihat mereka. Sepertinya Aku wisuda lebih dulu dari Mereka.
"Aku pergi" Pamitku pada Raymond. Perlahan...Aku melangkahkan Kaki menjauhinya. Genggaman tangan Kami terlepas. Aku menunduk, menguatkan hatiku agar tidak menoleh kebelakang. Mereka adalah masa laluku di kemudian hari.
Bulir-bulir air mata membasahi pipiku. Aku tak tahan dan berbalik. Raymond masih berdiri di sana. Dengan latar belakang gedung sekolah tempatku menimba ilmu selama ini. Daun-daun berguguran diantara Kami. Seperti sebuah kenangan.
Aku melambaikan tangan padanya sebentar, berusaha menyungingkan senyum terbaikku. Kelak..Jika Aku merindukan dunia ini. Aku pasti akan teringat Dia untuk pertama kalinya. Cinta pertama dan sekaligus pacar pertamaku. Aku tak akan melupakannya
Ketika tiba dirumah, Aku mendapati Bibi sheira sudah meletakkan satu tas besar ransel yang biasa Kami gunakan jika berpergian ke gunung di dekat pintu penghubung.
"Semua adalah barang-barang yang bisa jadi Kau butuhkan sewaktu-waktu. Kau hanya perlu menyeretnya masuk ke dalam pintu penghubung sebentar. Tidak akan terlalu berat untukmu" Seloroh Bibi sheira puas. Di tangannya Aku mendapati sebuah catatan dengan banyak sekali centang. Bibi sheira memang orang yang terstruktur. Tapi ini..
Aku mengerutu. Tidak akan terlalu berat apanya. Ini bisa lebih dari sepuluh kilo. Tapi Aku memutuskan untuk tidak berdebat dengan bibi sheira karena Aku tau pasti Aku akan kalah nantinya. Aku membuka tas dan memasukkan barang-barangku yang lain. Memasuki kamar dan mengemasi apa yang Aku butuhkan. Aku meninggalkan semua kartu bankku. Aku tidak membutuhkannya. Diam-diam juga Aku telah menghubungi pengacara untuk menyerahkan semua hartaku dan semua warisan mama pada Bibi sheira. Aku sudah mempersiapkan sejak lama jika hal ini terjadi padaku. Hanya saja, Aku tidak menyangka akan secepat ini datangnya.
__ADS_1
Phil datang ketika Aku sedang menarik tas ransel itu masuk ke dalam kamar penghubung. Aku tidak ingin Bibi Sheira melakukannya, mengingat Dia sedang hamil muda diusianya yang sudah tidak muda lagi. Aku tidak mau terjadi sesuatu padanya atau bayinya.
"Apa Kau yakin akan keputusanmu ini sweet heart ?" Tanya Phil ketika Kami sudah berada di ruang penghubung. Aku menganggukan kepala. Kami bertiga sama-sama tercenung beberapa saat. Mata Bibi sheira sudah memerah menahan tangis. Rasanya Aku ingin sekali tinggal disini dan melupakan dunia itu. Namun Aku tidak bisa. Nyawa Ratu dan Putri Margitha dalam bahaya. Mereka butuh bantuan secepatnya.
"Ya Phil, Aku harus kembali sekarang"
"Kau tau kan setelah ini Kau tidak akan bisa kembali kemari ?" Tanya Phil lagi untuk lebih meyakinkanku. Aku menganggukan kepala mengerti. "Baiklah Kalau itu maumu. Kau jaga diri baik-baik disana sweet heart"
Aku memeluk Phil erat. Dia adalah penganti ayahku selama ini. Sosok yang lembut dan penuh perhatian. Isak tangis terdengar dari Bibi sheira. Aku melepaskan pelukanku dan memeluk Bibi.
"Aku menyayangi Kalian berdua" Bisikku sedih. Kami berpelukan bertiga. Berat rasanya meninggalkan keluarga ini. Keluarga yang telah memberiku kehangatan yang kubutuhkan hingga Aku jadi seperti sekarang. Aku tidak akan bisa bertemu mereka lagi. Ini adalah harga mahal yang harus kubayar. Apakah Aku yakin Aku akan pergi dan meninggalkan kehidupanku. Apakah Aku benar-benar siap untuk ini. Aku tidak tahu.
Tapi...Aku tidak punya pilihan.
Kami melepaskan pelukan. Aku melangkah mundur dengan mantap. Ini sudah keputusanku. Aku tidak boleh menyesalinya. Memang belum terlambat untuk merubah niatku. Tapi Aku tidak punya waktu bermain-main dengan nyawa seseorang. Putri Margitha sudah banyak membantuku selama ini. Aku tidak boleh egois. Aku berbalik ke cermin dibelakangku.
__ADS_1
Dengan tekad yang kuat, Aku melepaskan cincin beemata biru di jari manisku. Menempelkan matanya pada permukaan cermin. Sontak sebuah sinar menyilaukan keluar ketika cincin beradu langsung dengan cermin. Aku mundur selangkah. Perlahan pusaran putih seperti Blackhole muncul. Awalnya hanya sekepal tangan orang dewasa. Namun lama kelamaan Dia membesar seukuran pintu. Aku berbalik dan menatap Phil dan Bibi Sheira untuk terakhir kalinya. Aku pasti akan sangat merindukan mereka. Bibi sheira menangis. Phil memeluknya, mencoba menenangkannya. Aku dan Phil saling bertatapan. Phil menganggukan kepala pelan, Seolah memberiku isyarat Dia ikhlas melepaskanku. Seperti seorang Ayah yang melepaskan anak gadisnya di hari pernikahannya.
Aku kembali menatap pintu di depanku. Perlahan Aku melangkah masuk kedalamnya.