Water Ripple

Water Ripple
38


__ADS_3

Rafael terpental jatuh kebelakang. Aku turun dari tempat tidur ketika Pangeran Riana kembali menerjang Rafael. Namun kali ini Rafael telah siap. Dia berhasil melawan. Keduanya bergumul. Saling memukul dan menyerang. Wajah keduanya babak belur penuh luka. Pangeran Riana berhasil mengunci Rafael, mendorongnya hingga terlempar keluar cendela. Terdengar suara berdebam yang cukup keras dan keributan di luar.


Pangeran Riana melihat ke cendela. Dia lalu berbalik kearahku. Tangannya langsung meraihku begitu Dia didekatku. Aku mendengar detak jantungnya di telingaku. Menangis terharu.


"Maaf, Aku terlambat"


Aku menggelengkan kepala.


"Apakah Kau baik-baik saja" Pangeran merengkuh wajahku. Meneliti luka di wajahku. "Apakah Dia sudah.."


"Aku menggelengkan kepala. "Dia akan berhasil melakukannya jika Pangeran tidak mendobrak pintu itu tepat waktu"


Pangeran kembali merengkuhku. Terdengar ledakan cukup keras di luar. Suara lonceng sebagai alarm berbunyi nyaring berulang kali. Pangeran beringsut dari posisinya. Melepaskan pakaiannya dan memakaikan pakaian itu kepadaku. Dia tampak tenang ketika melihat bekas ciuman Rafael di leher dan dadaku.


"Aku.." Kataku langsung menutup dadaku. Merasa malu dengan semua tanda di tubuhku.


"Aku tidak peduli apa yang terjadi padamu. Asal Kau selamat itu sudah cukup"

__ADS_1


"Kenapa Pangeran ada disini ?"


"Tentu saja menyelamatkan wanitaku" Katanya cepat. Aku menangkap kepedulian di matanya. Dia membantuku mengenakan pakaian untuk menutupi tubuhku. Terdengar ledakan lagi...dan lagi...


"Ada apa di luar sana ?" Tanyaku binggung. Semburat warna merah mewarnai langit di malam hari. Terdengar keributan diluar. Derap langkah dan rikikan kuda menyatu dengan denting logam.


"Xasfir dan Vold sedang memimpin pemberontakan para tawanan di luar. Yuki Ayo kita pergi. Sebentar lagi akan terjadi pertempuran besar antara dua negara. Asry memberi informasi, di luar gerbang Ibu kota, Sera dengan dua puluh ribu pasukannya sedang mencoba menembus benteng kota. Tempat ini akan jadi medan pertempuran hidup dan mati"


Apa ?. Pangeran Sera sedang berada disini dengan dua puluh ribu pasukannya. Kenapa semuanya terjadi secara kebetulan.


Seolah mengerti jalan pikiranku Pangeran Riana kembali berkata "Sepertinya Dia melihatmu dibawa oleh Rafael dari cermin"


"Bagaimana Pangeran ada disini" Aku tidak bisa menahan rasa penasaranku. Bagaimana Dia bisa ada di sini dan datang di waktu yang tepat. Jika Dia terlambat sedikit saja, Rafael akan berhasil memperkosaku. Setelahnya, Aku pasti tidak akan tahu bahagimana Aku bisa menjalani hidup jika sampai itu terjadi. Kami terus berlari, Pangeran menggengam tanganku erat seolah Aku bisa saja menghilang sewaktu-waktu.


"Aku langsung bergerak kemari ketika Rafael menghubungi Voldermon untuk pertama kali. Aku berhasil menyusup masuk ke rumah singgah ketika Aku tahu Kau sering ke sana setiap harinya. Mengawasimu sembari menunggu informasi dari Xasfir dan yang lainnya. Saat Aku melihatmu dibawa paksa oleh Rafael, Aku membongkar penyamaranku dan para tawanan mendukungku. Sekarang mereka bergerak dibawah panduan Xasfir dan Voldermon, bergabung dengan Rakyat yang memberontak untuk melawan Rafael"


"Tawanan dirumah singgah ?" Aku tidak melihat siapapun yang mirip dengan Pangeran Riana di sana. Jika ada, Aku pasti akan langsung mengenalinya.

__ADS_1


"Kau ingat tawanan yang menutupi rambut dan tubuhnya dengan kain, Saat Kau mencoba mengintip wajahnya Dia langsung berbalik memunggungimu ?"


Ah..Aku ingat. Tawanan itu. Jadi itu Pangeran Riana. Aku sempat curiga dengan tawanan itu, Tapi Aku tidak mengira Dia adalah Pangeran Riana.


Terdengar genderang berbunyi dengan nyaring. Kami telah sampai di bukit yang tinggi. Pangeran menarikku untuk bersembunyi. Beratus-ratus pasukan berbaris rapi untuk berperang. Rafael berdiri didepan pasukan itu, Memimpin barisan. Dia masih hidup rupanya. Suatu keajaiban Dia dapat selamat ketika dilempar Pangeran Riana dari lantai dua. Aku memperhatikan semua luka lebam di wajah Rafael. Di belakangnya, Istana tampak mengepulkan asap. Letusan berulang kali terdengar dari istana maupun luar ibukota.


Apa yang akan dilakukan Rafael sekarang. Rakyat yang selama ini ditindas melawan, Para tawanan memberontak sementara itu di luar ada pasukan dari Argueda mengepung, siap menyerang. Apa yang akan dilakukannya sekarang.


Inilah hasil dari apa yang dilakukannya. Pemberontakan, perlawanan dan perperangan. Buah dari semua tindakan yang dilakukannya tanpa hati nurani. Dia berpikir dengan menindas Dia bisa menguasai semuanya. Namun Dia salah. Yang lemah akan menjadi kuat jika bekerja sama. Sebesar apapun musuhnya Dia akan kalah.


Terdengar gemuruh nyaring yang mengejutkan dari perbatasan ibu kota. Asap membumbung tinggi. Suara dentingan pedang terdengar sampai tempatku. Aku seperti mencium bau darah yang begitu pekat dari angin yang berhembus kearah Kami. Inilah perang antar dua negara. Siapapun yang kalah, Negaranya akan menjadi milik pemenangnya. Perang yang mempertaruhkan segalanya.


"Sepertinya Sera telah berhasil menerobos masuk. Ayo Yuki.." Pangeran Riana kembali menarik tanganku. Mengajakku untuk bergegas sebelum situasi menjadi sangat kacau.


Tapi...


"Riana..." Sebuah panggilan lembut dari seorang wanita. Ketika Aku berbalik. Putri Marsha muncul. Dia berlari ke arah Pangeran Riana, memeluknya hingga genggaman tangan Pangeran terlepas.

__ADS_1


Melihat Putri Marsha memeluk Pangeran, menyadarkanku bahwa Aku seharusnya tidak bersamanya. Aku bukan lagi Calon Ratunya. Kami sudah tidak ada hubungan apapun. Dia sudah memiliki kekasih. Aku hanyalah orang ketiga dalam kisahnya.


Perlahan Aku mundur menjauhi mereka. Ketika jarak Kami sudah cukup jauh. Aku berbalik dan berlari pergi.


__ADS_2