Water Ripple

Water Ripple
21


__ADS_3

"Aku tau perlakuanmu sangat berbeda ketika bersama Yuki. Kau tidak pernah mengizinkanku naik kereta atau mengendarai kuda bersamamu, Kau tidak pernah mau makan malam berdua denganku. Bahkan Kau tidak pernah mengizinkanku masuk ke kamarmu. Semua hal yang Kau lakukan kepada Yuki tidak pernah Kau lakukan padaku"


Pangeran Riana memicingkan mata dengan wajah dingin. Dia tidak membantah tuduhan Putri Marsha. "Aku tidak pernah mencintaimu Marsha. Hubungan Kita di masa lalu jelas kesalahan. Tanpa adanya Yuki sekalipun, Aku tidak akan kembali padamu. Jadi pergi dan lanjutkan hidupmu sendiri"


Plak


Putri Marsha menampar Pangeran Riana marah.


"Karena memandang Xasfir Aku tidak mempermasalahkanmu hari ini. Tapi Aku ingatkan untuk tidak melewati batasmu lain kali"


Putri Marsha berjalan cepat, menjauhi Pangeran Riana. Wajahnya terlihat sangat sedih. Aku jadi bersimpati padanya. Dia mengingatkanku pada Putri Alena. Aku belum sempat menanyakan bagaimana kabar Putri Alena pada Pangeran Sera. Cinta Putri Alena sama dengan Putri Marsha saat ini.


Aku hendak berbalik mundur tanpa ketahuan, Namun tanpa sengaja Aku malah menendang guci tembaga di dekatku sehingga mengeluarkan suara keras. Pangeran menoleh, Dia menyadari kehadiranku.


"Apa yang Kau lakukan malam-malam begini disini ?" Tanya Pangeran sembari menghampiriku.


"Aku terjaga dan ingin menuju dapur" Kataku menjelaskan mengapa Aku berada di taman tengah. Aku tidak ingin Dia menganggapku telah sengaja mengupingnya. Pangeran melepaskan jubahnya dan menyelimutiku. Mantelnya terasa hangat.


"Terimakasih" Kataku tulus.


"Apa Kau lapar ?" Tanya Pangeran sembari memperhatikanku.


Aku menganggukan kepala.


"Ayo kita kembali ke kamar dulu, Aku akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan makanan"


"Tidak perlu" Tolakku langsung.

__ADS_1


Pangeran menatapku binggung.


"Aku akan memasak sendiri" Kataku akhirnya.


"Aku tidak menyangka Kau ternyata pandai memasak Yuki" Aku dan Pangeran duduk berdua di kamar. Aku membuat nasi goreng. Masakan sederhana yang biasa disajikan Bibi Sheira dipagi hari.


"Bibi Sheira dan juga Mama harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan kami. Aku sudah terbiasa mandiri"


Aku meniup nasi goreng di piringku dan mulai memakannya. Terasa hangat di cuaca yang dingin seperti ini. Entah karena hatiku sudah ringan ataukah memang Aku sangat lapar. Aku menghabiskan nasi gorengku dalam waktu sekejap.


"Setelah ini apa Kau mau tidur ?" Tanya Pangeran tenang di sampingku.


"Entahlah. Tapi Aku belum mengantuk"


"Aku juga. Kalau begitu bagaimana kalau kita melakukan sesuatu untuk mengisi kekosongan"


Aku menatap Pangeran Riana dan wajahku langsung memerah. Aku melihat ada hasrat yang tersirat di matanya. Dia berdiri dan langsung mengangkatku ke dadanya. Membawaku ke ranjang di kamar. Aku direbahkan diatas tempat tidur.


Malam itu, Kami saling menyentuh, saling memeluk tanpa ragu. Seperti sepasang kekasih yang dimabuk asrama. Aku menerima semua cinta yang diberikan Pangeran Riana. Perasaanku melambung tinggi. Aku berharap semua ini akan abadi.


Aku..Dia..dan anak kami nantinya.


Kami menghabiskan beberapa hari diistana Utara. Aku melewatinya dengan penuh kegembiraan. Aku merasa inilah akhir ceritaku. Tapi Aku salah....


Ketika Aku kembali ke istana. Aku melihat para pelayan dari kejauhan berbisik sembari menatapku sinis. Tidak ada rasa hormat. Mereka terlihat membenciku bahkan jijik padaku.


Apakah ini hanya perasaanku saja.

__ADS_1


Kemudian Aku tahu apa penyebabnya. Saat Kami pergi berlibur. Ada gosip tidak sedap berhembus diistana mengenai kehamilanku.


Gosip itu mengatakan mungkin juga anak tang kukandung bukan anak Pangeran Riana melainkan anak Pangeran Sera. Hal ini terkait insiden Aku meminum obat perangsang yang seharusnya untuk Pangeran Sera.


Awalnya Aku tidak terlalu mengubriskan gosip itu. Aku tidak pernah berhubungan dengan Pangeran Sera dengan sangat intim seperti yang mereka tuduhkan. Pangeran Sera mempunyai pengendalian diri yang hebat. Aku yakin Pangeran Riana tidak akan terpengaruh gosip ini.


Namun....


Aku mulai ragu...


Pangeran Riana tidak pernah kembali ke kamar semenjak liburan itu. Dia memilih menempati kamar lain. Aku baru sadar, Dia menghindariku. Dia mempercayai gosip itu tanpa bertanya terlebih dahulu padaku.


Aku mulai melihatnya kembali bersama Putri Marsha. Bahkan Aku mendengar Putri Marsha bermalam bersama Pangeran Riana saat Pangeran sedang mabuk berat.


Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Dia mengatakan mencintaiku. Tapi ..Sedikit berita seperti ini..Tanpa bertanya apapun padaku...tanpa mengkronfontasiku. Dia mempercayainya. Dan lari kepelukan wanita lain.


Aku merasa bodoh jika mempercayai bahwa Kami akan berakhir bahagia.


Aku merasakan perutku melilit. Dengan lembut Aku mengelusnya. "Maaf sayang, Kau lapar ya...Kita turun dan mencari makan ya" Kataku pada Bayiku. Aku beringsut dari dudukku. Berjalan pelan menuruni tangga menara. Akhir-akhir ini Aku menyukai tempat ini. Sunyi. Tidak ada yang menganggu. Aku bisa berpikir seorang diri.


Ketika Aku sampai di lantai dasar menara, Aku berbelok dan mendapati Pangeran Riana berjalan bersama Putri Marsha. Aku memalingkan wajah saat Kami berpapasan. Tidak ingin melihat ataupun mendengar mereka. Hatiku sudah mati.


Yang Aku inginkan hanya pergi dari sini secepatnya. Aku akan mempunyai anak yang harus kujaga. Aku tidak mau memikirkan hal-hal yang tidak penting yang akan mempengaruhi kehamilanku. Anak ini...Dia adalah anakku. Darah dagingku. Tidak peduli apa yang orang lain katakan. Aku akan mempertahankannya di sisiku.


"Rupanya setelah menjadi beruang kutub sekarang Kau menjadi burung gereja Yuki"


Aku berbalik dan menemukan Bangsawan Voldermon berjalan ke arahku. Dia membawa bungkusan ditangannya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan keponakanku hari ini, Apakah Ibumu memberi makanan yang cukup hari ini ?" Tanya Bangsawan Voldermon sembari mengelus perutku gemas.


__ADS_2