Water Ripple

Water Ripple
30


__ADS_3

"Masuklah" Kataku mempersilahkannya masuk ke dalam.


Pangeran Arana duduk di bangku dekatku. Dia memperlihatkan denah yang dibentangkannya di meja. "Kita berada di sini. Dan margitha disini."Tunjuknya pada denah itu.


Jarak dari tempat Kami dan Putri Margitha berada di sisi yang berlawanan.


"Aku baru saja mengecek semua pintu rahasia yang ada diistana. Sepertinya Trandem tidak mengetahui sebagian besar tempat-tempat rahasia diistana ini. Ada saluran pembuangan air disini. Melalui ini kita bisa dengan cepat mencapai daerah sini. Aku ingat ada kamar disana yang memiliki ruangan rahasia dengan tangga menuju ke dinding menara tempat Margitha berada"


"Maksudmu kita akan memanjat menara dari luar"


"Ya"


"Seperti cicak ?"


"Kami sudah terlatih untuk ini. Aku akan membawa semua pengawal. Nanti setelah Margitha dan Ratu berhasil kita selamatkan, Aku langsung akan menjemput Putri. Apakah Putri bisa bertahan sampai saat itu ?"


Aku tidak tahu apakah Aku bisa bertahan atau tidak. Sendirian di tempat seperti ini sungguh membuatku tertekan. Tapi Aku tidak bisa bermanja dengan meminta Pangeran Arana meninggalkan salah satu pengawalnya untukku. Pangeran membawa mereka semua pasti karena keadaan yang tidak memungkinkan. Aku juga tidak bisa ikut. Aku tidak punya pengalaman memanjat dinding menara. Jika Aku nekat ikut, Aku pasti akan sangat merepotkan. Salah-salah Kami ketahuan dan malah berakhir menjadi tawanan Rasyamsah.


Pangeran Arana tidak boleh tertangkap. Karena pasti Dia akan langsung dibunuh. Pangeran Arana adalah orang kedua dalam garis keturunan yang bisa menjadi penerus tahtah, jika terjadi sesuatu dengan Pangeran Sera. Karenanya Pangeran Arana tidak diperbolehkan meninggalkan istana saat Pangeran Sera pergi untuk mengatur pertempuran. Sebelum Pangeran Sera mempunyai anak lelaki yang bisa menjadi penerusnya, Nyawa Pangeran Arana sama berharganya dengan Pangeran Sera. Membunuh Pangeran Arana sama saja dengan mengoyangkan negeri Argueda.


Aku tidak bisa membiarkan Pangeran Arana dalam bahaya karena keegoisanku.


"Ya, Jangan cemas" Jawabku dengan nada meyakinkan.

__ADS_1


"Aku sudah memasukan obat tidur ke dalam minuman yang akan dihidangkan sore ini. Mereka akan tertidur lebih cepat daripada biasanya. Putri Aku pergi dulu" Pangeran Arana melipat kembali kertas di tangannya dan memasukannya ke dalam saku. Dia kemudian dengan langkah yang berhati-hati berjalan pergi.


Pintu ditutup.


Hanya Aku sendiri.


Aku sebenarnya sangat takut. Tapi tujuanku kemari untuk menyelamatkan Ratu dan Putri Margitha. Untuk apa Aku kemari kalau hanya membuat susah saja.


Aku berbalik ke meja rias. Mulai mengeringkan rambut dan berdandan. Aku memakai lipstik merah menantang dengan Pakaian menari yang dipersiapkan Rafael. Rasanya pakaian ini tidak bisa menutupi tubuhku dengan benar.


Terdengar ketukan pintu ketika Aku sedang mengikat tali sepatuku. Aku beranjak bangun dan membuka pintu. Rafael berdiri didepan pintu. Matanya bersinar melihatku.


"Kau terlihat berbeda"


"Apakah ini cukup" Tanyaku masam.


"Kau mengatakan Aku hanya perlu menyamar melewati perbatasan sebagai wanita penghibur. Tapi Kau tidak bilang Kalau Aku harus menari didepan Raja Trandem"


"Tenang saja, Raja Trandem sudah begitu mabuk sekarang. Kau hanya perlu maju sebentar dan menari lalu pergi. Aku tidak akan membiarkannya menyentuhmu" Rafael melongok melihat kedalam kamar. Matanya berkeliling mencari "Kemana penjagamu, Mengapa Aku tidak melihat mereka di kamarnya"


"Aku menyuruh mereka untuk mencarikanku makan. Aku sangat lapar dan tidak ada makanan apapun disini. Sisanya Aku minta untuk mencarikanku Pakaian yang layak dan mengurusi kuda. Aku tidak mau mengenakan pakaian ini sepanjang waktu" Kataku beralasan. "Ada apa mencari mereka ?"


"Tidak ada. Tapi mereka ceroboh juga meninggalkanmu seorang diri. Bagaimana dengan Ratu dan Putri Margitha apa Kau sudah menemukan keberadaan mereka ?"

__ADS_1


"Tidak. Mereka kesulitan untuk mendapatkan informasi"


Aku tidak mau Rafael mengetahui bahwa Kami sudah mengetahui dimana Putri Margitha dan Ratu disembunyikan. Sebaik apapun Rafael, Aku baru mengenalnya. Aku tidak bisa mempercayainya seratus persen. Ada perasaan kuat dalam hatiku yang menyuruhku lari darinya. Aku menahan mati-matian perasaan itu, mengingat bahwa Putri Margitha dan Ratu belum diselamatkan.


"Penjagaan Rasyamsah begitu ketat. Kalian tidak akan menemukannya dengan mudah"


"Kami harus berusaha" Kataku meyakinkan diri. "Untuk apa Kau kemari ?"


"Raja menyuruh mu segera bersiap. Dia ingin melihat tarianmu lebih awal. Apa Kau sudah siap ?"


"Ya. Ayo kita segera selesaikan. Aku sudah tidak nyaman mengenakan pakaian ini"


Aku mengikuti Rafael menuju aula kecil. Dari cendela yang kami lewati, Aku melihat seorang wanita cantik berdiri didekat sungai yang kering airnya. Dia sedang berdoa dengan khusuknya. Tidak peduli udara hari ini cukup panas. Uban di setiap rambutnya memperlihatkan bagaimana beban hidupnya.


"Siapa Dia ?" Tanyaku pada Rafael.


"Dia adalah Ratu negeri ini"


Ratu. Jadi Dia adalah Ratu yang terus dan terus peduli dengan rakyatnya itu. Dialah satu-satunya pemimpin yang masih berusaha menyelamatkan negerinya seorang diri. Aku melihat guratan kesedihan di matanya. Sudah berapa lama Dia melewati malam dengan air mata ?. Kepedihan karena Dia salah memutuskan sesuatu sehingga menyebabkan penderitaan bagi Rakyatnya.


Ratu tidak bergeming. Dia terus berdoa.


Ketegarannya tidak bisa kupelajari dalam waktu singkat.

__ADS_1


Aku terus memperhatikannya ketika Dia tiba-tiba mendongak. Matanya terlihat letih. Dia menoleh. Kami tanpa sengaja saling bertatapan. Aku melihat sirat terkejut di matanya yang berubah menjadi permohonan. Ada sesuatu yang membuatnya merasa takut. Ada apa ?.


Aku ingin mengatakan sesuatu, Tapi Rafael sudah menyentakan lenganku. "Kita sudah ditunggu" Ujarnya mengingatkan.


__ADS_2