
Wajah semua orang pucat pasi. Raja tampak lemas. Ibu Suri menangis dalam diam.
Wangi itu masih terus tercium. Menusuk kedalam hidung, menyiarkan kebenaran yang tak terbantah kepada semuanya.
"Apa Kau bisa menciumnya sekarang Riana...Ketahuilah, Yuki tidak pernah mengizinkanku menyentuhnya sepertimu...Dia tidak pernah mengizinkanku. Apa sekarang Kau puas ?" Tanya Pangeran Sera lantang kepada Pangeran Riana yang masih terdiam.
Aku memalingkan wajahku, Butiran air mata kembali memenuhiku.
Aku membunuh cucuku sendiri" Kata Raja tergugu.
"Kasihan sekali negeri ini, Calon Ratunya sudah mengandung anak yang mungkin akan jadi penerus tahtah selanjutnya. Tapi Dia malah digugurkan hanya karena gosip murahan" Celetuk Naru dengan nada mengejek.
"Aku akan membawa Yuki ke negeriku" Kata Pangeran Sera membuatku kaget. Aku menatap Pangeran Sera tak percaya dengan pendengaranku.
"Ikutlah denganku Yuki. Kita buka lembaran baru di sana"
Aku menganggukan kepalaku. Aku tidak punya apapun di negara ini. Semua sudah hancur berkeping. Aku tidak bisa tinggal disini lagi. Ini bukanlah tempatku lagi.
"Tidak bisa, Putri Yuki adalah calon Ratu negeri ini. Anda tidak bisa membawanya pergi" Tolak Serfa langsung
"Aku bisa melepaskannya Serfa, Posisi ini Aku bisa melepaskannya. Kau tahu kan Aku bisa melakukannya"
"Yuki" Raja memandangku terkejut. Tapi ini keputusanku. Ku sudah cukup mengalami banyak kepahitan disini. Untuk apa lagi Aku bertahan. Memberi kesempatan kepada Pangeran Riana ? Aku sudah memberinya banyak kesempatan namun Dia tetap tidak percaya dan menggugurkan kandunganku.
"Maaf Yang Mulia, ini adalah keputusanku. Walaupun Saya dikurung atau dimanapun saya ditempatkan, Saya tetap akan berdoa pada dewa untuk mengabulkan keinginan saya dan Tidak ada yang bisa menghalanginya"
"Kalau begitu Kami permisi yang mulia" Pangeran Sera mengulurkan tangannya. Aku menerimanya. Kami berjalan menuju pintu keluar.
"Apa Kau akan pergi walau Aku memintamu tinggal" Aku menoleh, memandang Ibu Suri yang berdiri. Dia tampak renta. Membuatku ingin memeluknya.
__ADS_1
"Maafkan Aku Nenek, Tapi disini bukan lagi tempatku. Aku harus pergi"
Ibu Suri terdiam. Aku melangkahkan kaki, mengikuti Pangeran Sera.
Kami berjalan di lorong dalam diam. Aku menguatkan hatiku. Seseorang menarikku dari belakang, Memaksaku untuk melihatnya.
Pangeran Riana.
"Jangan pergi Yuki. Tetaplah disini"
Aku menatapnya. Kesempatan untuknya telah habis. Aku telah kehilangan anakku. Entah kapan Aku bisa memaafkannya. Hatiku seolah mati.
Aku melepaskan pegangannya dengan kasar. Berbalik pergi tanpa mengatakan apapun. Tanpa menoleh. Tanpa air mata. Aku melangkahkan kakiku ke depan dengan mantap. Untuk apa Aku menyerahkan hatiku pada seseorang yang tidak mempercayaiku.
Sekarang, Kami sudah benar-benar berakhir. Takdir Kami cukup sampai disini saja.
Ketika Kami sampai di kereta kuda. Bangsawan Voldermon sudah ada di sana. Dia membawa bungkusan di tangannya.
Pangeran Sera menganggukan kepala mengerti. Dia lebih dulu masuk ke dalam kereta. Meninggalkan Kami berdua untuk berbicara.
"Jadi Kau akan pergi meninggalkanku kucing kecil" Kata Bangsawan Voldermon membuka keheningan diantara Kami.
"Maafkan Aku" Kataku menyesal.
"Aku membelikan Kue untukmu. Makanlah nanti diperjalanan" Aku menerima bungkusan Kue.
"Terimakasih" Jawabku lirih.
"Istana pasti sunyi tanpamu. Aku tidak punya mainan untuk bisa kukerjai lagi" Seloroh Bangsawan Voldermon dengan wajah sedih yang dibuat-buat.
__ADS_1
Aku meninju dada Bangsawan Voldermon. Bangsawan Voldermon meringis.
Air mataku mengenang di mataku. Inilah saatnya, Aku harus segera pergi. Bangsawan Voldermon merentangkan tangan. Tanpa di komando Aku menghamburkan diri ke pelukannya. Dia sudah menjadi teman yang baik untukku.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu kucing kecil. Jagalah dirimu baik-baik disana" Bisiknya ditelingaku. Aku menangis. Air mataku tak terbendung lagi. "Apa Kau mengerti ?"
Aku hanya mampu menganggukan kepala.
"Jika suatu saat Kau memerluhkanku, Katakan saja padaku. Aku pasti akan datang membantumu. Nanti Aku juga akan sering-sering mengunjungimu"
"Ya.." Kataku dengan suara parau.
Aku melepaskan diri dari pelukan Bangsawan Voldermon. Bangsawan Voldermon membantuku membuka pintu kereta. Pangeran Sera mengulurkan tangannya. Aku naik kedalam kereta.
"Jaga Dia baik-baik" Ujar Bangsawan Voldermon kepada Pangeran Sera.
Pangeran Sera menjabat tangan Bangsawan Voldermon. Pintu ditutup. Kereta mulai berjalan. Aku menatap istana. Entah kapan Aku mampu melangkahkan kaki kemari lagi. Kisah cintaku telah usai. Kandas begitu saja dengan luka yang membekas cukup besar dalam diriku.
Aku memejamkan mata. Menutup buku antara Aku dan Pangeran Riana.
Kami telah usai.
Di pertengahan perjalanan menuju Argueda, Aku mampir ke kuil untuk berdoa. Aku tidak ingin menunda-nunda lagi. Aku harus menyelesaikan semuanya secepatnya.
Aku menggengam Batu Amara di tanganku. Berdiri didepan altar sambil berdoa. Aku sudah berdoa sepanjang hari ini. Berlutut untuk memohon. Lututku terasa kebas. Tapi, tekadku mengalahkan semua hambatan yang ada. Sinar orange mulai menghiasi kuil. Hari hampir petang. Aku masih berlutut memejamkan mataku. Memohon agar Permohonanku dapat dikabulkan.
Pendeta Naru berada didekatku, mendampingiku sambil merampalkan doa-doa sembari memukul lonceng kecil dengan nada berirama. Aku tidak begitu jelas mendengar apa yang diucapkannya.
Ketika akhirnya Aku membuka mata, Aku mendapati Batu Amara sudah tidak lagi bersinar di tanganku. Doaku dikabulkan. Sekarang, Pangeran Riana sudah bebas memilih dengan siapa Dia akan menikah. Ikatan antara Aku dan Dia sudah terlepas. Tidak ada alasan lagi Aku dan Pangeran Riana untuk kembali.
__ADS_1
Aku sudah bukan lagi Calon Ratu negeri Garduete.