Water Ripple

Water Ripple
9


__ADS_3

Beberapa hadirin tampak menyetujui ucapan Putri Nadira. Ada tatapan meremehkan yang ditujukan mereka padaku.


"Nadira jaga ucapanmu" Kata Pangeran Sera tak suka.


"Tapi kakak, Aku tau Kakak tergila-gila padanya. Tapi hal itu bukan jadi alasan Kakak mau mempercayai omong kosongnya"


"Nadira cukup" Ujar Raja menghentikan pertikaian yang terjadi. seluruh hadirin langsung diam.


"Mohon maaf yang mulia, Putri Yuki juga memiliki instuisi yang tajam seperti Putri Ransah ibunya. Bukankah karena mempercayai Putri Ransah, Ratu dan Putra Mahkota dapat selamat dari marabahaya" Pendeta Naru ikut menimpali di sampingku. Beberapa hadirin yang lain menganggukan kepala setuju.


"Ayah, ada baiknya Kita dengarkan dulu apa yang ingin Putri Yuki sampaikan. Setelahnya Kita bisa memutuskan apa Kita akan percaya atau tidak" Ujar Pangeran Arana yang sembari tadi diam berbicara dengan Baginda Raja.


Raja menganggukan kepala menyetujui. Aku lega Raja mau mendengarkanku dan tidak terpengaruh ucapan Putri Nadira. "Lanjutkan Putriku." Perintah Raja kemudian.


"Didalam mimpi, Hamba melihat Putri Matgitha dan Ratu berada di sebuah kamar diatas menara yang cukup tinggi. Putri Margitha mengatakan pada Hamba Dia ditawan oleh Raja Trandem ketika kembali dalam perjalanan menuju istana"


"Apa Margitha juga mengatakan apa tujuan Trandem menawan Dia ?"


Aku menganggukan kepala Ragu. Menatap Pangeran Sera sejenak untuk.meminta dukungan. Pangeran Sera menganggukan kepala. Tangannya erat menggengam tanganku.


"Dia...selain ingin menggunakan mereka untuk menguasai negeri, Raja Trandem juga ingin menjadikan Putri Margitha sebagai salah satu selir yang bisa menghasilkan keturunan untuknya"


"Ayah...apa Ayah mempercayai ini" Tanya Putri Nadira geram.

__ADS_1


"Putri Yuki bisakah Kau menceritakan secara spesifik apa saja yang Kau lihat di mimpimu ?" Tanya Pangeran Arana tiba-tiba.


Aku menatap ke arah Pangeran Sera. Pangeran Sera menganggukan kepala. "Ceritakan saja apa yang Kau lihat. Arana pernah sepuluh tahun tinggal di Rasyamsah. Dia dekat dengan Raja terdahulu"


"Aku berada di sebuah menara yang cukup tinggi, kamarnya kecil hanya ada satu tempat tidur dan meja dengan kamar mandi tanpa pintu. Seperti sebuah penjara. Pintunya terbuat dari besi yang kokoh. Jika melihat warnanya, Pintu itu baru di pasang di sana. Dari cendela, Aku melihat sebuah sungai yang cukup panjang diluar istana, dekat dengan hutan. Ada patung wanita yang sedang menuangkan air di tengah sungai. Wajahnya menghadap ke arah menara"


"Itu pasti menara barat. Aku tidak mungkin salah" Ujar Pangeran Arana yakin.


"Kalian mempercayai ucapan yang tidak ada buktinya ?" Tanya Putri Nadira sinis. Aku tidak tahu kebenciannya padaku begitu besar. Dia memandangku seolah Aku barang yang menjijikan, yang harus segera disingkirkan.


Terdengar suara gong berbunyi cukup nyaring. Seorang Prajurit masuk ke dalam dengan sikap tergesa-gesa. Memutus obrolan.


"Lapor Baginda, Pangeran...Utusan sudah mendapatkan informasi yang Pangeran inginkan" Ujarnya penuh hormat.


"Baik"


Penjaga itu melangkah mundur, kemudian berbalik menuju pintu aula. Tak berapa lama Dia kembali dengan dua orang kepercayaan Pangeran Sera.


Setelah memberi hormat, dengan sikap takjim mereka memberikan gulungan kertas kepada Pangeran Sera. Seorang pengawal Raja berdiri dan mengambil gulungan kertas yang lain yang kemudian di serahkan kepada Raja.


"Yang mulia Raja, Pangeran, Kami telah meminta Prajurit yang kebetulan berada disana untuk menyelidiki. Dan dari informasi terpercaya, Putri Margitha dan Ratu memang berada di istana Rasyamsah"


Suara gemuruh terdengar memenuhi aula. Putri Nadira tampak mencibir tak puas. Tapi Dia tidak berkomentar banyak.

__ADS_1


"Kurang ajar Trandem Dia berani bermain-main denganku. Sudah Kita perang saja. Siapkan pasukan" Ujar Raja sembari berdiri dengan marahnya. Pangeran Arana membungkuk mengambil kertas yang terlepas dari tangan Raja. Wajahnya tampak mengeras saat memperhatikan isi kertas itu. Membuatku penasaran. "Aku akan memenggal kepalanya dan menyeret bangkainya di jalanan agar Dia tau dengan siapa Dia bermain api"


Aku melirik kearah kertas yang dipegang Pangeran Sera. Sebuah foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi. Mungkin seorang pelayan yang mengambilnya. Putri Margitha dan Ratu duduk berdampingan dengan kaki terikat rantai. Wajah Ratu tampak sangat pucat. Putri Margitha menundukkan kepala. Tidak ada keceriaan yang biasa diperlihatkan.


"Ayah tenanglah"


"Sera Apa Kau tidak marah ibu dan adikmu diperlakukan seperti itu" Ujar Raja masih penuh amarah.


"Bukan begitu Ayah, Saya akan membunuh Trandem dengan tanganku sendiri jika Dia berani menyentuh Margitha seujung rambut saja. Tapi, Jika kita mengirim pasukan dan mengajak bertempur sekarang tanpa persiapan yang matang, Aku khawatir itu hanya akan membahayakan nyawa Margitha dan ibu. Sampai saat ini mereka belum melakukan tuntutan artinya Mereka tidak berniat ada perdamaian Ayah"


Raja mencerna ucapan Pangeran Sera. Dia kembali duduk. Emosinya sudah mulai bisa dikuasainya. "Kau benar" Kata Raja akhirnya. Raja mendongak memandang Prajurit yang memberi laporan. "Teruskan menyelidiki dan laporkan setiap hal padaku"


"Baik yang mulia"


"Sera siapkan Pasukan untuk berjaga-jaga, Arana bantu kakakmu menyusun langkah"


"Baik Ayah"


Aku menatap Pangeran Sera yang juga melihatku. Merasa lega karena pada akhirnya Aku bisa sedikit membantunya.


Semenjak itu, Pangeran Sera dan Pangeran Arana sangat sibuk untuk menyusun rencana menyelamatkan Putri Margitha. Setiap hari mereka mengadakan rapat di istana Pangeran.


Aku masuk ke ruang kerja Pangeran saat Pangeran tidak ada dan mencari tau mengenai negeri Rasyamsah. Rasa penasaranku sudah tidak terbendung lagi.

__ADS_1


__ADS_2