Water Ripple

Water Ripple
20


__ADS_3

"Jika Kau tidak menyukai Marsha Kau bisa mengatakan pada Riana. Dia akan lebih mendengarkanmu"


"Aku ingin liburan" Kataku mengalihkan topik. "Mungkin ke pantai atau suatu tempat yang jauh dari istana dan segala permasalahannya. Aku ingin bersantai sejenak"


"Jika itu maumu, Ayo kita berlibur" Aku berbalik dan mendapati Pangeran Riana berjalan kearah Kami. Apa Dia mendengar pembicaraan Kami tadi ?.


"Riana" Sapa Bangsawan Voldermon tanpa berubah dari duduknya.


"Kita bisa pergi ke istana utara untuk beberapa waktu" Ujar Pangeran Riana tenang.


"Aku setuju. Di sana Pemandangannya cukup indah. Aku sudah lama tidak mengunjunginya" Kata Bangsawan Voldermon antusias. "Kucing kecil, Kau akan menyukainya"


Aku berjalan di sepanjang pantai. Di dekatnya ada padang bunga yang cukup luas. Suasana disini sedikit terpencil tapi cukup nyaman. Udaranya pun tidak terlalu dingin. Pangeran Riana berjalan didekatku. Mengandeng tanganku.


Dia serius mengajakku untuk berlibur. Raja dan Ibu Suri pun memberikan izin Kami pergi. Kami ditemani Bangsawan Voldermon, Bangsawan Asry dan Bangsawan Xasfir. Mereka membawa pasangan sendiri. Kepergian Kami cukup mendadak. Tapi menyenangkan. Aku mengumpulkan kerang kecil yang terdampar di sepanjang bibir pantai. Gaunku basah terkena air. Bangsawan Voldermon duduk bersantai menikmati matahari ditemani Bangsawan Asry dan pasangan mereka masing-masing. Bangsawan Xasfir berenang di pantai. Rasanya Kami seperti orang biasa yang sedang menikmati liburan. Aku benar-benar menikmati situasi ini.


Pangeran menunduk untuk memungut batu-batu berwarna dan memberikannya padaku. Terdengar suara musik yang lembut. Bangsawan Asry sedang memainkan musik seperti gitar. Alunan musik dansa.


Pangeran memelukku mesra. Wajahku memerah. Kakiku dinaikkan ke kakinya. Dia mengajakku berdansa. Diiringin petikan musik Bangsawan Asry dan deburan ombak.


Angin berhembus lembut. Matahari mulai tengelam. Warna orange menghiasi langit.

__ADS_1


"Yuki...Menikahlah denganku"


Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku menatap mata Pangeran Riana, mencari tanda-tanda kebohongan di matanya. Apa Aku tidak salah dengar, Dia melamarku.


Pangeran mendekatiku. Tanpa rasa malu, Dia menarikku semakin dekat. Menciumku penuh pengharapan.


"Riana.." Aku terkejut dan melepaskan ciuman Pangeran Riana. Putri Marsha berjalan mendekat. Dia memakai pakaian yang begitu sexy, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna.


"Aku dengar Kalian berada di sini. Jadi Aku menyusul kalian"


Bangsawan Xasfir berjalan cepat menuju ke kami dengan wajah penasaran. "Bagaimana Kau ada disini ?"


Tampak jelas Bangsawan Xasfir sendiri tidak mengetahui kedatangan Putri Marsha.


"Yuki, kembalilah ke kamar, Nanti Aku akan menyusul" Kata Pangeran mengikuti tarikan tangan Putri Marsha. Aku tidak menjawab. Berbalik pergi.


Aku terbangun dan mendapati cendela kamar belum ditutup. Diluar hari sudah larut malam. Selesai menghabiskan makan malam di kamar, Aku langsung tidur lebih awal. Kehamilanku, Kugunakan untuk alasan agar Aku bisa menghindari berkumpul dengan Pangeran Riana dan teman-temannya. Pangeran Riana belum kembali.


Aku mendesah. Apa yang Aku harapkan sebenarnya. Aku bangun dan menuangkan air ke gelas. Aku sangat lapar sekarang. Setelah meneguk segelas penuh air putih. Aku berjalan keluar kamar. Tidak ada penjaga di pintu kamar. Aku melangkahkan kaki menyusuri lorong. Menuju dapur istana. Berharap dapat menemukan makanan di sana.


"Apa maksudmu menyuruhku pergi. Kau tidak ingin kehadiranku ?"

__ADS_1


Saat melewati taman tengah, Aku mendengar suara Putri Marsha. Dia tampak sedikit histeris. Karena penasaran Aku menghampiri suara itu. Pangeran Riana dan Putri Marsha duduk di taman tengah. Mereka hanya berdua. Tidak ada siapapun. Aku ingin pergi tapi kuurungkan niatku ketika Putri Marsha menyebut namaku.


"Apa ini karena Yuki ?"


"Aku sudah tau Kau menemui Yuki dan berbicara padanya. Apa maksudmu mengatakan bahwa Kau dan Aku sudah membicarakan pernikahan ?" Tanya Pangeran dingin.


"Jadi Dia mengadu padamu ?" Putri Marsha tersenyum sinis.


"Dia tidak mengatakan apapun. Justru Aku mendengarnya dari orang lain. Beraninya Kau mengatakan hal seperti itu padanya. Kau harus ingat posisimu" Pangeran berdiri, berjalan menjauhi Putri Marsha yang duduk bersandar ditempatnya.


"Kau tau tujuanku kemari adalah untuk bersamamu. Aku sudah bisa menerima jika nanti Kau harus menikah dengan orang lain selain menikah denganku"


"Kau terlalu berpikir jauh Marsha. Aku tidak akan pernah menikahimu. Hanya Yuki wanita yang berhak atas diriku" Kata Pangeran tegas membuat hatiku terasa hangat. Aku tidak menyangka Pangeran dapat mengatakan hal seperti ini mengenaiku.


"Bagaimana mungkin, Kau perwaris tahtah kerajaan. Tidak masalah bagimu untuk menikah dengan banyak wanita"


"Lalu kenapa jika Aku perwaris tahtah ?, Tidak ada yang melarang Aku hanya menikahi calon Ratuku saja. Lagipula, Perwaris tahtah kerajaan Garduete yang sah hanya boleh berasal dari rahim Yuki bukan wanita lain. Tanpaknya Kau tidak cukup mengenalku Marsha"


"Apa bagusnya Dia. Aku lebih baik dari Dia. Aku bisa memberikan apapun yang Kau mau"


"Yuki jauh lebih baik dari segala hal dibandingkan dirimu" Pangeran Riana berdiri tenang. Tidak peduli apakah Putri Marsha terluka akan perkataannya atau tidak. "Awalnya Aku tidak mengerti kenapa Dia yang dipilih menjadi calon Ratuku. Namun, semakin Aku mengenalnya, Aku semakin tahu. Dia memang wanita yang kubutuhkan selama ini. Dia melengkapiku"

__ADS_1


Putri Marsha tampak mulai menangis.


__ADS_2