
Kami terus berjalan mengikuti aliran air. Diatas Kami terdengar jelas suara orang berjalan atau kuda meringkik. Kami akhirnya sampai di sebuah gorong-gorong besar. Aku melongok untuk melihat, Di bawah Kami ada tebing yang terjal. Lumut terbentuk dari bekas air yang terus merembes ke bawah.
"Kita akan lewat sini ?" Kataku tak yakin.
"Ya, Ratu dan Putri Margitha sudah lebih dulu berangkat. Ini jalan tercepat keluar dari istana. Kita tidak bisa lewat jalan tadi untuk menghindari mereka menemukan kita jika mereka sudah mengetahui tawanan mereka menghilang"
"Bagaimana caranya Kita bisa menuruni bukit ini ? Aku yakin ini sangat licin" Aku melihat kebawah dan merinding sendiri.
"Kita merosot turun ke bawah" Katanya yakin.
"Hah"
Aku belum sempat mencerna ucapan Pangeran Arana ketika Dia sudah menarikku ke bawah. Kami merosot seperti berada diatas papan seluncur. Tapi tubuhku terasa perih karena tergores batu-batuan. Akhirnya Kami berguling dan mendarat diatas tanah.
"Apa Putri baik-baik saja"
"Tidak. Rasanya jantungku berhenti berdetak" Erangku sembari bangun dari posisiku. Aku memeriksa lenganku. Penuh goresan. Aku melihat keatas. Tempatku melompat tadi. Tidak percaya Aku masih bisa hidup dari ketinggihan seperti itu. Pangeran Arana mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri.
"Tunggu disini sebentar, Aku mau memeriksa keadaan" Kata Pangeran Arana. Dia lalu berjalan menuruni bukit. Aku membersihkan diriku dan menemukan secarik kertas di kaki.
Ternyata itu adalah denah rahasia yang dibuat Pangeran Arana mengenai istana negeri Rasyamsah. Selagi menunggu Pangeran Arana kembali, Iseng Aku mempelajari kertas itu.
"Putri Yuki, Ayo" Ajak Pangeran Arana menganggetkabju. Dia muncul begitu saja dibawah bukit. Aku berjalan terguyung menyusulnya.
"Aku menemukan ini" Tunjukku pada Pangeran Arana. Aku mengibaskan kertas yang kutemukan didepannya. Pangeran Arana mengambilnya lalu menyobeknya kecil-kecil.
"Kenapa merusaknya ?"
__ADS_1
"Akan sangat berbahaya jika pemerintahan Rasyamsah yang sekarang,yang menemukannya"
Pangeran Arana membuang serpihan kertas ditangannya. Tersapu oleh angin yang bertiup cukup kencang. Kami terus menuruni bukit. Setelah itu Kami menaiki kuda yang telah dipersiapkan Pangeran Arana.
Aku dan Pangeran Arana berkuda menuju perbatasan. Kami terus melaju. Kemungkinan besar Ratu dan Putri Margitha sudah menuju perbatasan terlebih dahulu. Aku lega misi Kami telah selesai dengan baik.
"Kita hampir sampai" Kata Pangeran Arana ketika Kami menghentikan kudanya untuk mengisi perbekalan. "Jika Kita telah sampai perbatasan, Ada cukup pasukan Kita dan negara sahabat yang akan membantu kita. Kita akan aman"
"Berapa lama lagi ?, Apakah Kita bisa melalui penjagaan wilayah dengan aman. Mereka pasti sudah tau bahwa Tawanan dan Kita menghilang"
"Aku tahu jalan keluar yang aman disini. Jalan yang dulu sering digunakan Raja dan Ratu untuk berpergian keluar wilayah Rasyamsah tanpa diketahui orang. Kita hanya butuh dua jam perjalanan lagi untuk keluar dari negeri ini"
Aku menganggukan kepala mengerti.
Aku selesai mengisi air minumku. Pangeran Arana sudah menaiki kudanya. Namun...Ketika Aku akan menaiki kuda. Ada panah yang menancap didekatku dengan kecepatan penuh. Saat menoleh, Aku melihat Prajurit Rasyamsah datang.
Panah kedua mengores kakiku. Aku terjatuh. "Aduhh"
"Putri Yuki"
"Menyerahlah kalian" Teriak salah satu Prajurit Rasyamsah lantang.
Gawat. Kalau begini Pangeran akan tertangkap. Jika Dia tertangkap. Dia akan langsung dibunuh. Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.
Aku bangun dengan kecepatan yang tidak kuduga kumiliki sebelumnya. Menepuk pantat kuda Pangeran Arana sekuat mungkin. "Pergi Pangeran...Pergi"
Kuda itu meringkik keras karena terkejut.
__ADS_1
"Putri Yuki"
"Pergi, Kau tidak boleh tertangkap"
Derap langkah kuda Pangeran Arana terdengar keras menjauhiku.
"Kejar Dia"
"Tidak perlu" Aku terkejut ketika mendengar suara yang begitu familiar. Suara seseorang yang begitu kukenal walaupun Aku baru mengenalnya.
Rafael maju mengendarai kuda. Dia mengenakan Pakaian bangsawan Negeri Rasyamsah. Dia orang Rasyamsah.
"Biarkan Dia pergi. Kita sudah mendapatkan ikan yang lebih besar. tidak perluh kita susah payah mengejar sesuatu yang tidak penting"
Aku dibawa kembali ke kerajaan. Kedua tanganku diikat kebelakang. Rafael berjalan didepanku. Ternyata Dia adalah kemenakan Raja Trandem yang pernah diceritakan Pangeran Arana. Pangeran Arana tidak pernah bertemu dengannya, Karenanya Dia tidak mengenalinya. Tapi perasaannya sebagai Pangeran begitu tajam sehingga Dia terus bereaksi negatif pada Rafael. Seharusnya Aku mempercayai Pangeran Arana lebih awal.
Kedua Pengawal memegang lenganku, Memaksaku berjalan mengikuti Rafael. Kakiku terasa nyeri akibat gesekan panah saat Aku ditangkap. Tapi Aku berusaha keras memasang wajah tidak takut.
Raja Trandem sudah menungguku. Dia masih saja membawa wanita didekatnya. Wanita yang berbeda.
"Jadi inikah Wanita yang diperebutkan dua perwaris tahtah kerajaan besar" Ujar Raja Trandem tampak puas. "Cantik, Namun sayangnya sedikit liar. Semoga Kau juga liar diranjangku nantinya"
"Mimpi saja Kau" Kataku melawan. Tengkukku dipukul dari belakang. Aku menundukkan kepala kesakitan.
"Berani sekali Kau melawan Raja" Kata Penjaga mengingatkan.
"Jangan bunuh Dia. Dia jauh lebih berguna jika Dia hidup. Kita bisa memanfaatkannya untuk menguasai Argueda dan Garduete sekaligus"
__ADS_1
Aku menatap ke arah Rafael yang berdiri disamping Raja dengan sikap pongah. Merasa menyesal telah percaya padanya. Nafsu untuk menyelamatkan Putri Margitha dan Ratu membuatku bertindak ceroboh dan akhirnya malah tertangkap. Seharusnya Aku sudah curiga. Dia terus mengikuti Kami sampai ke istana Raja padahal tujuannya hanya bisa memasuki negeri ini. Dia bahkan bisa mengatur dimana Aku akan ditempatkan saat pertama kali Aku datang.