Water Ripple

Water Ripple
22


__ADS_3

"Ada apa Kamu ke sini ?" Tanyaku. Aku mengendus udara. Mencium wangi yang membuat perutku berbunyi.


"Apa ?, Jadi ibumu belum memberi makan ?. Tenang saja sayang, Pamanmu ini akan memarahi ibumu" Kata Bangsawan Voldermon masih bicara dengan bayi diperutku ketika terdengar suara keroncongan dari dalam perut.


"Kau membawa sesuatu" tanyaku senang.


"Ya, Roti manis kesukaanmu. Ayo kita duduk dan memakannya bersama" Ajak Bangsawan Voldermon sambil merangkul bahuku. Mendorongku berjalan ke taman tengah.


Bangsawan Voldermon adalah orang yang paling percaya bahwa anak yang kukandung ini adalah anak Pangeran Riana selain Ibu Suri. Setiap hari Dia datang dan membawakanku makanan yang dibelinya di luar untuk kumakan. Sepertinya Dia ingin memastikan bahwa Aku baik-baik saja dan cukup makan. Ibu Suri juga beberapa kali mengunjungiku, membawakan sup agar janinku sehat. Aku bersyukur ditengah orang-orang yang tidak mempercayaiku masih ada yang peduli padaku. Pada anakku. Baik Bangsawan Voldermon dan Ibu Suri tidak bertanya apa-apa padaku. Tapi jelas, sikap mereka bahwa mereka percaya padaku.


Andaikan kepercayaan mereka sedikit saja ada pada diri Pangeran Riana.


Aku memakan roti manis yang dibawakan Bangsawan Voldermon. Dari Dia juga Aku mengetahui perkembangan kerajaan Argueda. Situasinya masih sama. Ratu dan Putri Margitha masih belum bisa diselamatkan. Tapi ada satu kabar yang mengejutkanku. Pangeran Sera sedang menuju ke Garduete. Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi, Bagaimana Aku bisa menemuinya. Aku telah berkali-kali menyakiti hatinya. Sekarang Aku sedang hamil, Walaupun Pangeran Riana tidak mempercayai bahwa anak yang kukandung ini anaknya. Tapi Aku tidak punya muka lagi untuk bertemu dengan Pangeran Sera. Sifat pengecutku muncul lagi kali ini.


"Kucing kecil, Jangan berwajah seperti itu" Bangsawan Voldermon mencubit pipiku. Membuatku mengerang. Aku melepaskan cubitannya. Mengelus pipiku yang terasa berdenyut.


"Kalau Kau berwajah seperti itu, Aku takut akan berubah pikiran dan membawamu pergi saja dari istana" Seloroh Bangsawan Voldermon sambil memasang wajah menderita.

__ADS_1


Aku tersenyum mendengar selorohnya. Rasanya aneh mengingat pertemuan pertama kami yang begitu buruk, Bagaimana Aku begitu membencinya saat itu karena sifat flamboyannya yang over dosis. Namun sekarang, Aku malah duduk bersamanya dan dihibur olehnya.


"Bagaimana Rapat hari ini ?" Tanyaku Akhirnya.


Bangsawan Voldermon tampak terkejut. Tapi Dia lantas menyembunyikan ekpresinya dengan cepat. Berganti ekpresi datar yang seolah tidak tahu apa-apa.


"Kau tidak perlu tau rahasia negara. Otakmu mana bisa sampai memikirkannya. Lebih baik Kau pikirkan bagaimana bisa membuat ponakanku ini terus sehat didalam perutmu"


"Apakah rapat mengenai kandunganku juga termasuk rahasia negara ?" Tanyaku lagi tidak mau dialihkan perhatiannya oleh seloroh Bangsawan Voldermon.


Bangsawan Voldermon menatap mataku dalam. Mencoba meyakinkanku. "Aku dan Nenek akan berusaha sebaik mungkin untuk kalian berdua" Bisik Bangsawan Voldermon lirih.


Aku menangis. Apa salah anak di dalam kandunganku ini. Apa salahku. Bukan Aku yang menginginkan keturunan terlebih dahulu. Tapi Mereka...Mereka yang selalu menginginkannya. Kini setelah Aku hamil, Mereka justru tidak mempercayaiku dan ingin mencelakai anakku.


Anak ini...ada dalam rahimku. Didalam dirinya mengalir darahku...dan juga darah Pangeran Riana. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Perasaanku terasa kebas.


Bangsawan Voldermon memelukku yang menangis tergugu. Hatiku hancur. Ketidakpercayaan Pangeran Riana yang lebih menghancurkanku. Apa gunanya jika yang lain percaya sedangkan Dia sendiri tidak.

__ADS_1


Apa gunanya hal ini bagi ku dan anakku.


Aku berjalan dengan gotai seorang diri memasuki kamar, Setelah yakin Aku cukup tenang. Bangsawan Voldermon meninggalkanku pergi. Sebelum pergi Dia berjanji akan terus berusaha untukku. Aku mengelus perutku yang mulai terlihat membuncit. Hatiku terasa hampa. Entah apa yang dipikirkan orang, Tapi Aku akan sebisa mungkin mempertahankan anakku. Tidak peduli jika nanti nyawaku menjadi taruhannya. Nyawa kecil didalam perutku ini begitu berarti untukku. Aku menyayanginya. Dialah hidupku


Saat membuka pintu kamar, Aku terkejut. Pangeran Riana sudah berada didalam kamar. Ini pertama kalinya Dia kembali setelah liburan itu. Berapa lama ? Tiga minggu jika Aku tidak salah mengingat. Entahlah, Aku tidak begitu peduli apakah Dia akan datang atau tidak. Pangeran tampak dingin. Aku berjalan mengacuhkannya. Tapi Dia mendekatiku dan mencekal tanganku.


"Dari mana saja Kau ?" Tanyanya menahan amarah.


"Bukan urusanmu" Kataku menepis tangannya. Aku memegangi perutku. Menghindari kemungkinan Pangeran akan menyakiti anakku. Aku kembali berbalik tapi Pangeran Riana kembali mencekal tanganku. Memaksaku menatapnya.


"Katakan padaku Yuki, Anak siapa itu ?"


"Anakku. Ini anakku" Jawabku lantang. Aku menatapnya penuh amarah. Seperti seorang Ibu yang melindungi anaknya dari bahaya. Aku tidak takut apapun. "Aku tidak akan pernah membiarkan kalian menyakiti anakku. Tidak akan pernah. Aku tidak peduli persoalan kalian, Yang pasti akan kulindungi Dia sampai mati"


Pangeran mengepalkan tangannya sampai seluruh ototnya terlihat.


"Jika terjadi sesuatu pada anakku karena Kalian, Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Sampai mati" Bisikku lagi ditengah ketegangan yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2