
"Lepaskan Aku" Kataku lirih namun tegas.
Matanya dingin menatapku. Tangannya menggengamku kuat, seperti belenggu besi yang membuatku sesak. "Aku bilang lepaskan Aku"
Sebuah tangan menarikku ke arah berlawanan. Ketika berbalik Aku terkejut saat mengetahui pemilik tangan itu.
"Pangeran Sera"
Pangeran Sera muncul tiba-tiba. Keberadaannya makin membuatku terkejut. Bukankah Dia berada di pinggiran ibukota. Apa Dia mendengar mengenai Pangeran Riana dan langsung kembali.
Raja dan Pangeran Arana muncul memandang Kami dari kejauhan. Aku jadi khawatir jika terjadi pertikaian. Pendeta Serfa berjaga ketat disampingnya. Mengantisipasi jika terjadi keributan.
"Lepaskan Dia" Pangeran Riana menyentakan tanganku yang digengam Pangeran Sera dengan keras sehingga genggamannya terlepas. Tanpa basi basi Pangeran Riana mendorongku masuk kedalam kereta. Setelahnya Dia ikut naik bersamaku. Kedua tanganku digengamnya kuat. seperti belenggu baja yang biasa dipakai para tawanan.
"Permisi Pangeran Sera" Kata Pangeran Riana langsung ketika kereta mulai berjalan. Pangeran Sera hanya diam. Memandangi Kami dengan tatapan kosong. Membuatku takut. Dia tidak seperti biasanya.
Kereta bergerak keluar gerbang istana.Aku menepis tangan Pangeran Riana tapi Dia kembali mencekal tanganku, bahkan cengkramannya lebih kuat daripada sebelumnya. Aku memalingkan wajah ketika menyadari tatapan Pangeran Riana yang dingin, melongok keluar cendela. Mendapati Pangeran Sera masih memandangi Kami. Kedua tangannya terkepal di sisi badannya. Aku tidak akan pernah melupakan wajah Pangeran Sera saat itu.
Kereta terus melaju. Kami hanya berhenti untuk makan dan buang air. Setelahnya, Kami kembali berjalan menuju negeri Garduete. Selama itu Aku hanya diam dan tidak mau mengatakan apapun. Ketika sampai perbatasan, Kami berhenti di istana kecil. Aku berganti pakaian dan membersihkan diri. Sengaja Aku tidak membiarkan pelayan masuk. Aku ingin sendiri.
Guyuran air dikepalaku membantuku untuk menjernihkan pikiran. Apa yang kuharapkan. Aku tidak bisa menghindari Pangeran Riana. Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapinya. Kenapa bayangan saat Dia berciuman dengan wanita lain terus terbayang di kepalaku. Aku berusaha keras menghilangkannya dari kepalaku, Tapi terus dan terus saja muncul setiap kali Aku melihat Pangeran Riana.
Perasaanku bercampur aduk. Aku sangat ingin marah dan mengkronfontasinya tapi, Aku sadar Aku tidak punya hak untuk itu. Dia seorang Pangeran penerus tahtah. Memiliki banyak wanita sudah biasa di kehidupannya. Aku menghembuskan nafas. Sadar Aku sudah terlalu lama berdiri mematung melihat bayangan diriku dari cermin. Bekas ciuman Pangeran Sera sudah menghilang tak berbekas. Aku mengenakan pakaian tidur yang telah disediakan pelayan sebelum Dia keluar. Sepertinya malam ini Kami akan menginap disini untuk beristirahat.
__ADS_1
Aku selesai berpakaian dan menyisir rambutku. Berjalan keluar ke kamar. Terkejut ketika Aku melihat Pangeran Riana sudah berada di kamar. Dia berdiri sambil melihat pemandangan dari cendela. Istana ini berada diatas tebing, Terdengar debur ombak dari kejauhan. Di tangannya Dia memegang gelas anggur. Tatapan matanya lurus ke depan. Dia tampak memikirkan sesuatu. Aku menutup pintu, suaranya membuat Pangeran Riana berpaling. Dia sudah menyadari kehadiranku di sini.
Aku melangkahkan kaki, berjalan mengacuhkannya. Namun Dia sudah lebih dulu mendekatiku. Dengan gerakan cepat Dia mencekal lenganku. Memaksaku untuk melihatnya.
"Lepaskan Aku" Kataku kesal ketika Dia tidak mau melepaskanku dan malah mencekalku kuat.
"Aku ingin bicara denganmu" Pangeran Riana menarikku. Tidak menghiraukan penolakanku. Aku di paksa duduk di sofa yang ada di dekat perapian yang menyala.
"Aku tidak punya hal yang harus dibicarakan"
"Benarkah ?" Tanya Pangeran Riana sinis. Dia berdiri didekatku. Seolah mengintimidasiku. Aku merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Aku harus berhati-hati. Jika Aku salah ucap akan fatal akibatnya bagiku. "Sayangnya, Aku tidak merasa begitu"
Pangeran berjongkok didekatku. Aroma nafasnya terasa di pipi. Aku memalingkan wajah, tidak ingin tergoda olehnya.
"Sakit, lepaskan Aku"
"Katakan Padaku Yuki, Apa tujuanmu kembali ke dunia ini hanya untuk bertemu dengan Sera"
"Lepaskan Aku"
"Katakan Yuki" Bentak Pangeran Riana kasar. Aku menatapnya penuh amarah. Tangannya masih mencengkram kedua pipiku. Seolah ingin mencekikku. "Kenapa begitu kembali, Kau malah menuju Argueda. Katakan padaku"
"Itu bukan urusanmu" Kataku akhirnya.
__ADS_1
Pangeran melepaskan cengkramannya kasar. Dia tertawa sinis. "Bukan urusanku ?" Tanyanya lagi dengan nada sarkatis.
"Hubungan kita hanya dilandasi karena Akulah calon Ratu yang ditunjuk dewa. Selain itu, Kita sama sekali tidak ada hubungan sama sekali. Aku harap Pangeran mengerti"
Pangeran kembali mencekal bahuku. Dia menatapku penuh amarah. Membuatku takut.
"Ada apa denganmu ?, Kenapa Kau seperti ini Yuki"
Aku begini karena melihatmu berciuman dengan gadis lain. Aku sangat marah dan merasa tidak nyaman.
Tapi Aku tidak mengatakannya dan memilih untuk diam. Pangeran Riana semakin marah melihatku bungkam.
"Apa karena Sera ?, Kau kembali karena Dia kan ?"
Aku tetap diam.
"Baik. Kau teruskan diammu" Pangeran berdiri didepanku. Dia melonggarkan pakaiannya. Aku menatapnya binggung.
"Apa yang Kau lakukan ?" Tanyaku kaget.
"Kau bilang kita tidak ada hubungan kan ?. Mungkin, Kau perlu diingatkan kembali seperti apa hubungan kita yang sebenarnya"
Aku merasa membeku ketika mendengarnya. Sontak ketika kesadaranku pulih Aku berdiri. Tapi Pangeran keburu mencekal tanganku. Aku kembali terjerembab di sofa. Kedua tanganku di cekal Pangeran Riana. Dia berada di atasku. Aku menelan ludah. Terlambat menyadari, Aku telah memancing emosinya terlalu jauh.
__ADS_1
Pangeran mendekatiku. Aku memalingkan wajahku,menolak. Kedua tanganku dicekal cukup kuat. Aku tidak bisa melepaskan diri.