
Perlahan Aku mendekatinya, berkali-kali Aku mengingatkan diriku sendiri untuk berhati-hati. Aku tidak boleh menangis. Bukankah Aku sudah bertekad seperti itu.
Aku berhenti tepat di depan Pangeran Riana. Tanpa peringatan, Dia mengangkat tangannya dan melemparkan undangan pernikahanku dengan Pangeran Sera, Undangan itu mengenaiku dan jatuh ke bawah.
"Apa ini..Apa maksud semua ini ? Bisakah Kau jelaskan padaku ?" Tanya Pangeran Riana dingin.
"Semua sudah jelas Pangeran, Aku akan menikah dengan Pangeran Sera. Apa lagi yang ingin Kau tanyakan." Jawabku cepat
Kau..Bukankah Kau sangat ingin pergi dari sini..Bukankah Kau ingin pergi denganku."
"Apapun yang terjadi dengan hubunganku dan Pangeran Sera itu bukan urusanmu Pangeran Riana. Pergi denganmu...Untuk apa ?, Aku hanya mempermainkanmu saat itu agar Kau tau rasanya di buang itu seperti apa rasanya. Jadi jelas, Jangan terlalu memandang tinggi pada dirimu Pangeran..Aku tidak pernah mengatakan ingin pergi denganmu, Kau sendiri yang menyimpulkan begitu. Hubungan kita telah berakhir, Aku harap Pangeran telah jelas mengenai hal ini. Sekarang pergilah, Temukan wanita lain yang bisa bersamamu..."
Plak
Aku diam tidak melanjutkan ocehanku. Pipiku panas bekas tamparan Pangeran Riana. Suasana seketika hening mencekam. Beberapa saat kemudian, Pangeran Riana tetap tidak berkata apa-apa. Dia hanya berbalik dan pergi. Tanpa menoleh kebelakang. Aku memandang sosoknya sampai menghilang dalam pandangan. Kakiku terasa ingin sekali berlari pergi mengejarnya, memohon padanya agar membawaku pergi, mengatakan padanya kebenaran yang Aku coba tutupi. Tapi pikiranku mengatakan jangan. Aku tidak boleh melakukannya.
__ADS_1
"Apa Putri baik-baik saja" Tanya pelayan disampingku dengan wajah cemas.
"Semua yang terjadi jangan sampai didengar siapapun. Jika Aku menemukan berita ini sampai bocor, Aku sendiri yang akan mencambuk Kalian semua sampai mati. Apa Kalian mengerti" Tanyaku dingin. Mengabaikan pertanyaan Pelayan disampingku.
Para pelayan menundukkan kepala penuh hormat tanda mengerti.
"Bagus, Sekarang Ayo kita lanjutkan perjalanan"
Para pelayan kembali bersiap dalam barisannya. Aku melangkahkan kakiku kembali, menuju altar pernikahan. Pangeran Sera telah menungguku di sana. Aku harus menunaikan kewajibanku.
"Kau sangat cantik Yuki" Bisik Pangeran didekatku. Aku hanya tersenyum tipis menjawab pujiannya.
Pendeta Naru berada disamping Pangeran Sera sebagai pendamping mempelai laki-laki. Aku didampingi Putri Margitha yang mengikutiku ketika memasuki altar pernikahan ini. Upacara pernikahanpun dimulai. Pangeran telah mengucapkan sumpah pernikahannya dihadapan dewa, Kami mengelilingi api suci berdua sebanyak tiga kali. Pendeta Naru memotong sedikit rambutku dan Pangeran Sera, menyatukannya dan membakarnya didalam api suci. Aku menangis. Aku tidak tahu apakah ini tangis bahagia ataukah tangis kesedihan. Bekas tamparan Pangeran Riana masih terasa di pipiku. Baru kali ini Dia memukulku seperti itu. Aku melihat kekecewaan yang begitu besar dimatanya saat meninggalkanku. Pangeran Riana tidak kembali ke tempatnya yang telah disediakan, Aku hanya melihat Bangsawan Voldermon dan Bangsawan Asry ditempat Mereka, Selain itu hanya ada bangku kosong yang ditinggalkan pemiliknya.
Pangeran Sera menyelipkan cincin di jari manisku. Perhiasan yang diberikan mempelai Pria sebagai pengakuan bahwa wanita didepannya adalah istrinya, Yang akan mengarungi hidup dan mati bersamanya. Sekarang Aku sudah sah sebagai istrinya. Namaku berubah menjadi Yuki Madza mengikuti nama Pangeran Sera. Tepuk tangan dan ucapan selamat membahana didalam ruang upacara. Rona kegembiraan tampak mewarnai setiap sudut ruangan. Diluar petasan kembali bersaut-sautan.
__ADS_1
Aku merasa lega ketika Kami telah berganti pakaian, Para pelayan memberiku pakaian yang sudah tidak terlalu berat seperti sebelumnya. Mahkota diatas kepalaku sudah dicopot. Rasanya leherku sakit semua karena menahan mahkota itu dikepalaku. Sebagai gantinya mereka memakaikanku konde yang diberikan Pangeran Sera tempo hari dengan mahkota kecil nan cantik yang tidak terlalu berat dikepala. Setelah ini Kami akan menjamu para tamu di aula, Lalu berkeliling ibukota untuk bertemu rakyat yang ingin melihatku sebagai istri dari Pangeran Sera.
Aku mengikuti semua kegiatan ini dengan memasang senyum kebahagiaan yang palsu. Rasanya lelah berpura-pura seperti ini. Aku ingin semua segera berakhir. Setelah berkeliling ibukota, Kami langsung kembali ke istana Pangeran Sera. Aku merasa seluruh tulangku remuk. Aku ingin segera beristirahat dan merebahkan diriku didalam tumpukan bantal di atas tempat tidur.
Aku melepas semua perhiasan, Menghapus make up. Pangeran Sera berada didalam kamar, Dengan tenang membiarkanku menyelesaikan rutinitasku. Para pelayan membantuku untuk mandi dan membersihkan diri. Aku mengeringkan rambutku. Seorang pelayan menyisir rambutku.
"Pangeran, Putri Yuki, Mohon maaf, Bangsawan Voldermon dari Garduete ingin bertemu secara pribadi dengan Putri." Seorang penjaga masuk menyampaikan kabar yang membuat jantungku berhenti berdetak. Apakah telah terjadi sesuatu dengan Pangeran Riana ?.
Aku menatap Pangeran Sera, memasang topeng seolah berita itu tidak berarti. Aku tidak tahu apakah Aku bisa membohonginya atau tidak.
"Dia sahabatmu, Temuilah Dia" Kata Pangeran Sera tenang. "Aku akan mandi dan menunggumu kembali"
Aku menganggukan kepala. Pelayan memberiku jubah untuk menutupi gaunku.
"Antar Putri Yuki ke Aula kecil, Biarkan Putri berbincang dengannya" Perintah Pangeran Sera pada penjaga. Penjaga itu memberi hormat tanda mengerti. Aku mengikuti langkahnya, berjalan keluar kamar tanpa didampingi pelayan.
__ADS_1