
"Sabarlah Paman, Aku yakin suatu saat nanti semua ini akan berakhir" kataku menenangkan.
"Aku dengar Pangeran Sera dari Argueda juga sangat mencintai anda sampai melakukan sumpah Ksatria. Aku pernah berpikir Putri seperti apa yang telah membuat dua Pangeran dari kerajaan besar saling berebut hingga nyaris memicu pertempuran" Kata Paman yang lain menimpali. "Tapi ketika bertemu Putri, Aku sekarang paham. Putri memiliki banyak keistimewaan yang patut diperjuangkan"
"Hentikan memujiku terlalu berlebihan seperti itu paman" Kataku malu. "Aku hanya manusia biasa. Kita berbuat baik adalah suatu kewajiban"
"Putri tenanglah, Kedua Pangeran itu pasti akan datang menolong Putri. Sampai saat itu tiba Kami yang akan menjaga Putri dengan kemampuan Kami"
"Terimakasih Paman"
"Sebenarnya apa yang menarik disini sampai membuatmu betah datang kemari"
Rafael tiba-tiba masuk bersama satu lusin prajuritnya. Dia menatap kesekeliling menilai. "Tampaknya mereka sudah bisa digunakan" Katanya pada Pengawal disampingnya. Aku bergegas menghampiri Rafael.
"Mereka belum sembuh benar"
"Mereka hanya bersikap manja dan malas" Bantah Rafael santai. "Semua kumpulkan orang-orang disini dan suruh kembali bekerja" Perintahnya pada prajuritnya. Prajurit langsung maju menjalankan perintah.
"Kau tidak bisa melakukan hal itu"
"Kenapa ?, Aku adalah Raja disini. Mereka sudah menumpang hidup di sini sewajarnya Aku meminta balas jasa mereka"
"Kau sangat kejam dan tidak berbelas kasihan"
__ADS_1
"Belas kasihan hanya akan membuat manusia menjadi lemah dan lagi.." Rafael secara mendadak mencekal tanganku, menarikku mendekatinya. "Daripada Kau menceramahiku dengan belas kasihanmu, Lebih baik mulai sekarang Kau melayaniku sebagai istriku. Aku sudah cukup memanjakanmu selama ini, sekarang waktunya Kau tau posisimu dan untuk Apa Kau disini"
Aku langsung ditarik keluar rumah singgah. Rontaanku untuk melepaskan diri tidak berarti. "Lepaskan Aku.." Teriakku marah.
Tangannya mencekalku kuat. Aku dibawa menuju kudanya yang telah menunggu. Aku dipaksa naik dengan posisi perutku diatas punggung kuda. Rafael memacu kudanya, sementara itu Aku mendengar keributan di dalam rumah singgah. Para Tawanan itu dalam bahaya.
Sesampainya di istana Aku langsung di panggul di pundaknya. Teriakan meminta tolongku menarik perhatian para pelayan dan Prajurit yang Kami lewati. Tapi walaupun begitu tidak ada yang berani membantuku. Semuanya hanya melihatku dengan pandangan iba. Rafael menendang sebuah pintu hingga terbuka. Kemudian Aku dilempar secara kasar diatas tempat tidur.
"Aduh.." Aku duduk dan melihat Rafael sudah didepanku. Memandangku dengan pandangan aneh namun membahayakan.
"Calon Ratu dari negeri Garduete dan Orang yang menyebabkan Sera Madza melakukan sumpah Ksatria" Kata Rafael sembari tersenyum puas. Aku merasakan suasana yang tidak menyenangkan disini. Sesuatu yang buruk akan terjadi. "Apa Kau tau, Kau seperti seorang Wanita yang pernah kuinginkan. Namun sayangnya Dia tidak sepintar dirimu. Dia cukup bodoh memilih penjaga kuda untuk menjadi suaminya. Akhirnya hidupnya berakhir menyedihkan"
Rafael berbicara sambil melepaskan jubahnya. Aku beringsut mundur.
"Sayangnya Aku tidak berniat akan tawaranmu" Kataku masih bersikap seolah Aku bisa melawannya. Rafael terkekeh. Dia berjalan mendekatiku.
"Aku ingin tahu sebatas apa Kau bisa melawanku"
"Tidak !!"
Aku mencoba bangun namun terlambat. Rafael memegang kakiku dan menarikku mendekatinya. Kini Dia sudah berada diatasku. Kedua tanganku dicekal. "Lepaskan Aku" Kataku meronta. Dia tersenyum dingin. Pandangan matanya menelusuriku, seolah sudah dapat melihat lekuk tubuhku. Aku merinding melihat tatapan matanya. "Tidak.." Kataku mengelengkan kepala. Mata Rafael sama dengan mata Pangeran Riana sewaktu pertama kali memperkosaku. Pandangan mata yang menunjukan Dia tidak akan berhenti sampai keinginanya terkabul.
Aku memberontak ketika Rafael mendekat. Menolak segala cumbuannya di wajahku. Aku berusaha sekuat tenaga melawan sampai pergelangan tanganku yang dicekal olehnya sakit. "Tidak mau...jangan..Aku mohon"
__ADS_1
Plak
Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Panas. Darah keluar di sudut bibirku. Menghentikan rontaanku. "Jangan mencoba melawanku atau Kau akan mendapat rasa sakit yang lebih dari ini" Katanya dingin. "Nikmati saja, Kau akan tau Aku lebih baik dari kedua Pangeranmu itu"
Rafael merobek paksa pakaianku sehingga membuat dadaku terpampang jelas. Air mata membasahi kedua pipiku. Rafael kembali mendekat. Aku memalingkan wajahku, Tapi tangannya mencengkramku. Memaksaku menerima ciumannya. Aku menutup bibirku rapat-rapat.
Bukk !!
Sebuah pukulan kembali mendarat di perutku dengan cukup keras. Aku terbatuk. Meringkuk merasa sakit yang luar biasa di perutku. Pandangan mataku seolah berkunang-kunang. Belum Aku bebas dari rasa sakit ini, Sebuah tamparan lagi mendarat di kedua pipiku.
"Aku tidak ingin melakukannya tapi Kau yang meminta" Kata Rafael di telingaku.
Aku sudah tidak bisa melawan. Rafael menarik paksa pakaianku sehingga turun ke lenganku.
Tidak...Tolong Aku...Pangeran Riana..Tolong...
Ketika Rafael nyaris menyetubuhiku, Terdengar keributan di luar pintu. Suara berdebam yang cukup keras menghantam bagian luar pintu.
"Sial, Bisa Kalian tenang" Teriak Rafael marah.
Namun sekali lagi suara berdebam lain yang lebih keras terdengar. Pintu terbuka. Dua prajurit ambruk bersimba darah di depan pintu. Rafael langsung bangun. Aku segera beringsut menutupi tubuhku dengan selimut. Pakaianku copang-caping, beberapa telah dirobek oleh Rafael menjadi serpihan kain yang tersebar di tempat tidur.
Aku tidak percaya akan penglihatanku. Sontak Aku menangis ketika menyadari Aku tidak sedang bermimpi. Pangeran Riana masuk ke dalam kamar, Menghampiri Rafael dengan cepat dan langsung melayangkan tinjunya bertubi-tubi pada Rafael yang masih belum siap akan serangan yang tiba-tiba.
__ADS_1