
"Kita beristirahat dulu di sini" Pangeran Arana menghentikan kudanya. Entah berapa lama Kami berkuda. Perhitungan waktuku kacau. Tapi yang pasti Kami sudah mulai mendekati negeri Rasyamsah. Hawa pengap terasa sekali walaupun Kami berada di dalam hutan. Menurut Pangeran Arana, Hawa pengap ini berasal dari negeri Rasyamsah yang terbawa sampai perbatasan oleh angin.
Aku turun dari kudaku. Rasanya tulang-tulangku patah semua. Aku bersandar di sebuah pohon. Para pengawal membuat api dengan menumpuk kayu kering disekitar. "Di sana ada sungai jika Putri ingin membersihkan badan" Saran Pangeran Arana sembari menunjuk ke sebuah jalan kecil didekat kami. Aku menganggukan kepala senang. Aku ingin mencuci muka dan membersihkan diriku. Rasanya seluruh debu menutupi wajahku. berlapis lapis. Aku bangun dengan sisa tenaga yang kupunya. Menuju sungai yang dimaksud.
Sungai ini sangat dekat dengan tempat Kami beristirahat. Gemericiknya terdengar cukup jelas sehingga Aku dengan mudah menemukan arahnya. Setelah memastikan sekelilingku aman. Aku berjongkok di pinggir sungai. Aku tidak berminat mandi di dalam hutan lagi, mengingat Aku pernah tenggelam di danau saat Aku pertama kali akan dibawa Pangeran Sera ke Argueda. Aku tidak ingin pengalaman buruk seperti itu terulang lagi. Jadi Aku hanya akan membasuh wajah, kaki dan tanganku. Airnya terasa segar. Aku sedang membilas kakiku ketika terdengar desiran di belakangku. Ada sebuah bayangan hitam diatasku. Ketika mendongak, Aku melihat ular yang sangat besar didepanku. Sedang menatapku. Ular itu bisa memakanku hidup-hidup.
Kakiku terasa lumpuh. Aku terpaku menatap ular yang melihatku sebagai makanannya. Ular itu menegakan badannya. Tingginya hampir dua meter. Aku tercekat, Tenggorokanku terasa kering. Tidak ada siapapun disini. Aku sendiri.
Ular itu bergerak dengan cepat kearahku. Sebuah teriakan berasal dari tenggorokanku terdengar nyaring. Aku akan mati...Aku memejamkan mata bersiap untuk kematianku.
Braaakkkk !!!!
Sebuah hantaman terdengar cukup keras didekatku. Aku membuka mata. Ular itu mengelepar didepanku. Di matanya tertancap panah yang menembus ke mata lainnya.
Seseorang menarikku dari belakang. Menjauhi ular yang mengelempar kesakitan.b"Bodoh, Jika Kau tidak segera pergi, Kau bisa terkena hantaman ular" Gerutu orang itu cukup kencang.
Aku melihat ular didepanku, perlahan gerakannya semakin lambat.
"Putri Yuki..." Aku berbalik, Pangeran Arana dan pengawalnya muncul dengan membawa pedangnya masing-masing. Berlari cepat kearahku.
Pangeran Arana tampak terkejut ketika melihat ular besar di depanku. Dia segera menghampiriku. "Putri Yuki apa Kau tidak apa-apa"
__ADS_1
Aku mengelengkan kepala, Namun wajahku masih menyiratkan ketakutan.
"Maafkan Aku, Aku lupa mengatakan bahwa didekat sini ada sarang ular. Seharusnya Aku mengawal Putri tadi"
"Putri Yuki Orrie Olwrendho" Aku menoleh melihat kearah penolongku. Seorang pemuda dengan tubuh kekar dan kulit cokelat terbakar matahari. Rambutnya berwarna hitam legam. Mungkin Dia seusia Pangeran Riana. Pemuda itu menatapku dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Siapa Kau ?" Tanya Pangeran Arana dengan pandangan waspada.
"Suatu kehormatan bertemu dengan Putri yang menjadi rebutan dua perwaris tahtah kerajaan besar sehingga nyaris menimbulkan pertempuran besar"
Pemuda itu berdiri dengan congkaknya. Menatap Pangeran Arana dengan sikap menantang. "Sebagai pengawal Kau cukup payah, membiarkan Majikanmu berjalan sendiri di hutan sehingga hampir dimakan ular. Untungnya Aku sedang berburu disekitar sini Jika tidak, Malang sekali nasib Putrimu yang cantik ini harus mengakhiri hidupnya diperut ular.
"Benarkah itu Putri" Tanya Pangeran Arana masih dengan sikap waspada
"Benarkah, Apa Putri ingin mengulangi adegan itu lagi"
"Tidak" Kataku memberengut. Pemuda itu tersenyum puas. Dia menatapku dengan pandangan mata berbinar-binar yang Aneh.
"Namaku Rafael, Aku seorang pemburu disini"
"Aku tidak perlu memperkenalkan diri karena Kau sudah tau siapa Aku. Mereka berempat adalah pengawalku"
__ADS_1
Aku tidak tau siapa Rafael. Jika Aku sudah ketahuan sebagai orang kerajaan setidaknya Pangeran Arana tidak.
"Sungguh mengejutkan bertemu dengan Putri disini. Sepertinya Putri kabur dari istana dan menuju kemari karena tidak mungkin Sera Madza membiarkan wanita yang dicintainya menempuh bahaya seperti ini dan Juga tidak mungkin Riana membiarkan satu-satunya calin Ratu yang ditunjuk oleh dewa untuk kemari . Apakah tujuan Putri kemari untuk menyelamatkan Putri Margitha dan Ratu ?" Aku tidak harus mengatakan kepadanya bahwa Aku bukanlah lagi calon Ratu kerajaan Garduete.
"Siapa Kau ?" Tanya Pangeran Arana lagi. Kali ini Dia bereaksi cukup keras. Aku langsung mencekal tangannya dan menariknya mundur.
"Sudah Aku bilang, Aku pemburu di sini. Berita mengenai penawanan Ratu dan Putri Argueda sudah menyebar di seluruh Rasyamsah dan sekitarnya. Untuk apa Kau heran seperti itu"
"Terimakasih sudah membantu. Kami permisi dulu" Aku berbalik dan menarik Pangeran Arana untuk segera pergi sebelum Dia terpancing. Tapi sebuah pedang diulurkan Rafael tepat di leherku. Pangeran Arana langsung mengeluarkan pedangnya. Meletakan di leher Rafael.
"Sangat tidak sopan pergi begitu saja. Ngomong-ngomong apa Putri tau bagaimana cara masuk ke Rasyamsah ?" Tanya Rafael acuh pada pedang yang diletakan dilehernya.
"Apa maumu ?" Tanyaku berhati-hati.
"Aku mau menawarkan kerjasama dengan Putri"
"Kerja sama ?" Tanyaku lagi binggung.
"Aku dan kelompokku kesulitan untuk memasuki Rasyamsah karena penjagaan yang super ketat akhir-akhir ini. Begitu pula dengan kalian nantinya. Namun dengan sedikit bantuanmu. Kami tentu bisa dengan mudah memasuki negeri itu"
"Turunkan dulu pedangmu" Kata Rafael sambil menyingkirkan pedang Pangeran Arana. Rafael sendiri sudah menyarungkan pedangnya ketika melihat ketertarikanku atas tawarannya.
__ADS_1
.