Water Ripple

Water Ripple
12


__ADS_3

Terdengar suara ribut-ribut diluar kamar. Aku menengelamkan diriku kedalam bak mandi ketika suara pintu dibuka paksa dengan kerasnya. Langkah kaki bergerak cepat mendekat. Ketika pintu kamar mandi dibuka, Pangeran Sera muncul.


Aku melihatnya seperti oase di padang pasirku. Rasanya Aku sangat ingin berada di pelukannya, merasakan tubuhnya menyatu denganku. Merintih dibawahnya.


"Hentikan" Cegah Pangeran ketika Aku kembali mendekatkan pergelangan tanganku di mulutku. Pangeran melihat bekas gigitanku sebelumnya. Dia berdecak tak suka. Kini hanya tinggal Kami berdua.


Aku sudah tidak bisa menahannya. Aku bangun dan meraih Pangeran Sera. menciumnya kuat menuntut Dia untuk segera membawaku.


Pangeran Sera mendorongku. Matanya menatapku, menilaiku. Ada suatu pergulatan yang terjadi didalam dirinya. Aku melihatnya menelan ludah.


Aku kembali memeluk lehernya tidak peduli dan tanpa rasa malu. Menempelkan kembali bibirku padanya. Sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Mencium lelaki lebih dulu. Apalagi dengan cara yang sungguh liar seperti ini. Tapi Diriku sudah tidak bisa dikendalikan bahkan olehku sendiri. Aku seperti kehilangan kendali. Pangeran Sera mengangkatku didadanya. Dia membawaku keluar kamar mandi menuju tempat tidur.


Aku direbahkan diatas tempat tidur. Dia berada diatasku. Matanya memancarkan hasrat. Dia memandangku seperti seorang lelaki yang membutuhkan seorang wanita untuk menghangatkan ranjangnya. Kebutuhan yang intim.


Kedua tanganku dicekal diatas tempat tidur. "Aku mohon..." Bisikku lirih. Pangeran mendekatiku. Kami kembali berciuman.


Aku berdiri didepan cermin. Menatap bayangan diriku. Pangeran Sera sudah pergi semenjak pagi. Dia menuju ke pinggiran ibukota untuk mengecek pembuatan senjata disana. Aku tidak tahu kapan Dia pergi. Ketika Aku bangun dipagi harinya, Dia sudah tidak ada disampingku. Aku melihat bekas ciuman Pangeran Sera di dadaku. Tidak terjadi sesuatu dengan Kami semalam. Pertahanan diri Pangeran cukup kuat walaupun Aku beberapa kali menggodanya.


"Kau sangat menggoda Yuki, Sebagai lelaki, bohong jika Aku tidak tergoda olehmu. Tapi Bukan ini yang kuinginkan. Aku tidak ingin memanfaatkan situasi dengan menyentuhmu ketika Kau dalam pengaruh obat. Bukankah Aku telah berjanji untuk tidak menyentuhmu sampai Kau menginginkannya" Bisiknya ketika Aku sudah mulai terbebas dari pengaruh obat perangsang. Dia memelukku lembut di dadanya. Membuat perasaanku jauh lebih tenang.


Aku sangat mengagumi Pangeran Sera. Dia mampu mengendalikan dirinya. Dia menghargai Aku sebagai wanita dan bukan sebagai sebuah objek sex.

__ADS_1


Jarang sekali ada lelaki yang seperti itu. Dia tidak menyentuhku saat Dia memiliki kesempatan besar untuk melakukannya.


"Putri" Seorang pelayan muncul mengagetkanku. Aku segera menutup dadaku dengan kain. Tidak ingin Dia melihat bekas ciuman Pangeran Sera di sana.


"Ada apa ?" Kataku berusaha bersikap biasa.


"Mohon maaf Putri, Raja memanggil di istana sekarang juga"


"Raja memanggil ?" Aku terkejut. Ada apa Yang mulia memanggilku mendadak seperti ini. Apa telah terjadi sesuatu. Aku segera berpakaian yang lebih sopan dan berangkat pergi ke istana Raja secepat yang Aku bisa.


Ketika Aku sampai di istana Raja, Dua orang prajurit sudah menungguku. Aku diantar menuju aula kecil. Ketika Aku membuka pintu, Aku terkejut mendapati Pangeran Riana bersama Pendeta Serfa berada di sana. Raja duduk di singasana dan Pangeran Arana tampak tegang di sampingnya.


Kenapa Pangeran Riana ada disini. Aku tidak ingin bertemu dengannya. Kenapa Dia datang kemari.


"Putri Yuki, Pangeran Riana ingin bertemu denganmu" Ujar Raja tampak tenang namun penuh sindiran kepada Pangeran Riana. Entah apa yang mereka bicarakan sebelum Aku datang, Yang pasti perdebatan telah terjadi di ruangan ini.


Aku diam tidak menjawab.


"Aku serahkan pada kalian berdua. Arana ikut Aku"


"Tapi Ayah.." Protes Pangeran Arana. Namun Dia langsung diam ketika Raja melirik kearahnya. Raja bergerak melewati Kami menuju pintu keluar. Pangeran Arana terus melihatku, Sesuatu di wajahku membuatnya ragu untuk meninggalkanku. Tapi Raja kembali memanggil, membuatnya berpaling dan meneruskan langkah.

__ADS_1


Pintu ditutup. Aku diam di tempatku. Terpaku.


Kenapa Dia ada disini. Untuk apa Dia kemari. Aku mengepalkan kedua tanganku. Kenangan saat Pangeran Riana mencium wanita lain muncul kembali. Terdengar suara langkah mendekat. Aku langsung menegang. Aku sangat tau langkah siapa itu walaupun Aku tidak menoleh untuk melihatnya.


Pangeran Riana mengenggam tanganku. Menarikku kuat menuju pintu keluar. Aku berusaha melepaskan cekalannya, Namun genggaman tangannya begitu erat membelenguku.


"Lepaskan Aku" Pintaku keras.


"Ayo kita pulang"


"Tidak mau" Tolakku langsung.


"Yuki.." Pangeran Riana menatapku dingin dengan ekpresi tidak ingin dibantah. "Kita akan pulang" ulangnya lagi lebih tegas. Aku ditarik mengikuti langkahnya. Sepanjang perjalanan Kami menjadi pusat perhatian. Pangeran Terus menarikku untuk mengikutinya sementara Aku berusaha membebaskan diriku. Serfa berdiri diantara Kami, Diam tidak bersuara sedikitpun. Dia sama sekali tidak terpengaruh akan pertingkaian yang terjadi didekatnya. Mulutnya terkatup rapat.


"Lepaskan Aku"


Kami sampai di kereta kuda kerajaan Garduete di halaman utama istana. Para pengawal sudah bersiap ditempatnya. Aku menolak mengikuti keinginan Pangeran Riana untuk menaiki kereta.


"Kenapa tidak mau pulang. Apakah Kau ingin tidur dengannya ?" kata Pangeran Riana dingin, membuatku tersentak. Aku tidak percaya apa yang telah dikatakannya.


Aku menatap Pangeran Riana marah. Aku tidak peduli jika Dia sekarang sedang dalam mood yang buruk. Tapi kata-katanya itu menyakitkan hati.

__ADS_1


Dia menganggapku seolah Aku bisa mudahnya jatuh ke setiap pelukan laki-laki yang mendekatiku.


__ADS_2