Water Ripple

Water Ripple
24


__ADS_3

"Di sini tidak ada buku yang menarik. Aku hanya mengambil asal untuk mengisi waktu luang" Kataku asal.


"Pembatalan calon Ratu ?" Tanya Bangsawan Voldermon ketika melihat lipatan buku ditangannya. Ada catatan kecil yang kuselipkan disana dan lupa kusembunyikan. "Kau ingin membatalkan posisimu sebagai calon Ratu ?"


Aku diam.


Aku membaca buku itu awalnya hanya untuk mengisi waktu luang. Namun Aku tidak sengaja menemukan informasi dari buku itu yang memberiku ide, Doa seorang ciel akan dikabulkan dewa. Jadi jika Aku memohon agar dewa membatalkan posisi calon Ratu, Kemungkinan besar akan terkabulkan. Pangeran Riana bisa memilih siapapun calon Ratunya dan Aku tidak perlu terikat istana. Aku rasa inilah keputusan terbaik untuk semua.


Bangsawan Voldermon mendesah. Dia duduk didekatku. "Yuki dengarkan Aku, Riana sebenarnya sangat mencintaimu. Namun kecemburuan membutakan hati dan pikirannya" Aku masih diam. Aku tidak ingin lagi mendengar soal cinta Pangeran Riana. Aku tidak percaya lagi padanya.


"Besok Sera akan datang ke istana. Dia telah mengajukan pengadilan kesatria untuk membersihkan namamu"


Aku menatap Bangsawan Voldermon terkejut. Pengadilan kesatria adalah pengadilan yang hanya bisa dilakukan oleh para kesatria perang tingkat tinggi untuk membuktikan kebenaran ucapannya.


Dalam pengadilan itu akan ada tungku api kejujuran yang berasal dari kuil suci. Seorang kesatria yang diadili akan meneteskan darahnya pada tungku itu sambil mengucapkan hal yang akan diadili. Jika ucapannya benar, akan tercium wangi dari api itu, yang dapat dirasakan oleh semua orang yang berada dalam ruangan tempat diadakan pengadilan kesatria. Tapi jika tidak, Akan tercium bau busuk yang malah bisa membunuh kesatria itu sendiri.


"Dia tidak perlu melakukan itu" Bisikku lirih. Aku tidak takut mengenai pengadilan itu. Aku hanya merasa semakin tidak enak kepada Pangeran Sera. Aku sudah sering melukainya tapi Dia masih sangat baik padaku.


"Tidak ada yang bisa mencegahnya melakukan itu. Sebagai lelaki, Aku mengakui bahwa Dia begitu tergila-gila padamu. Kau ini diam-diam berbahaya Yuki" Bangsawan Voldermon mengengam kedua tanganku erat di dadanya. Menatapku lurus dengan matanya. Dia tersenyum tulus. "Dengarkan Aku, Aku sangat berharap Kau tetap disini sebagai calon Ratu negeri ini. Tapi ini hidupmu, Aku tidak bisa memaksamu walaupun Aku ingin. Apapun keputusan yang Kau ambil kedepannya, Ingatlah Aku selalu ada dibelakangmu"


Aku menghela nafas. Menghampiri Bangsawan Voldermon dan memeluknya erat. "Terimakasih" Bisikku lirih.

__ADS_1


"Sama-sama kucing kecil" Ujar Bangsawan Voldermon setelah terdiam cukup lama. Dia balas memelukku.


Besoknya, Aku baru saja berganti pakaian ketika pelayan datang menghampiriku. "Putri, Pangeran Sera ingin bertemu" Bisik pelayan itu didekatku.


Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Belum sempat Aku menjawab. Sebuah suara lembut yang terasa familiar memanggilku.


"Pangeran Sera"


Pangeran Sera bergegas menghampiriku. "Tenang saja, Aku sudah mendapat izin dari Ibu Suri untuk menjemputmu sendiri kemari" Telapak tangannya mengurung wajahku sedemikian rupa. "Maaf, Aku terlambat datang" Bisik Pangeran Sera lembut. Aku mengelengkan kepala pelan.


"Yuki, Ikut Aku ke istana. Kita akan membersihkan namamu"


Aku menggelengkan kepalaku menolak. "Aku tidak memerluhkannya Pangeran. Biar saja mereka berkata apa, Aku tidak peduli"


"Kenapa..Kenapa Pangeran" Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Kenapa Dia begitu baik. Hatinya terbuat dari apa. Aku sudah berkali-kali menyakitinya, Namun Dia selalu dan selalu ada di saat Aku membutuhkannya.


Kereta yang kami tumpangi berhenti di depan istana Raja. Saat Kami turun, sontak semua mata memandang Kami. Pangeran mengendongku di dadanya. Aku menyembunyikan wajahku di bahunya. "Hentikan Pangeran, Aku mohon" Bisikku lirih. "Hentikan"


"Yuki.."


"Pangeran sudah terlalu cukup baik kepadaku. Tidak ada alasan Pangeran untuk menghancurkan reputasi Pangeran Karena Aku"

__ADS_1


"Kenapa Kau mengatakan itu ?"


"Apa Pangeran tidak melihat, Semua memandang Pangeran dengan tatapan hina. Aku tidak sanggup melihatnya. Sudah hentikan. Biarkan saja mereka berbicara buruk mengenaiku. Pangeran jangan berkorban apa-apa lagi untukku"


"Aku tidak peduli pada mereka. Bukankah Aku pernah mengatakan padamu, Aku akan menutup mata dan telingaku mengenai hal-hal buruk tentangmu. Apa Kau masih ingat"


Aku ingat. Pangeran Sera mengatakan itu setelah Dia tau kesucianku telah diambil Pangeran Riana. Dia selalu menerimaku apa adanya. Mempercayaiku tanpa pernah ragu padaku. Dia selalu datang mendamaikanku. Tetap tersenyum meskipun Aku sering menyakitinya.


Kami sampai di depan Aula. Pendeta Naru dan beberapa pengawal kerajaan Argueda sudah menunggu Kami. Pangeran menurunkanku dari gendongan. Dia mengengam tanganku erat. Menguatkanku.


Pintu terbuka perlahan. Aula istana sudah penuh orang. Ada Raja, Ibu Suri,Pangeran Riana dan teman-teman bangsawannya. Putri Marsha, Para menteri dan semua yang penasaran akan hasil sidang Kesatria ini. Semuanya menanti Kami.


Kami sampai di tengah aula. Terdengar bisikan bagaikan lebah didalam ruangan.


"Aku sudah siap" Kata Pangeran Sera yakin. "Segera mulai persidangan ini"


Raja mengangkat tangan memberikan aba-aba. Empat orang prajurit masuk membawa tungku dengan api yang menjilat. Tungku itu diletakan didepan Pangeran Sera.


"Putri Yuki, Lebih baik anda mundur jika hasilnya tidak baik, Nyawa anda juga akan ikut terancam" Ujar Pendeta Serfa mengingatkan.


"Aku tidak perlu itu" Kataku dingin. Aku memegang baju Pangeran Sera ketika Dia melepaskan gengaman tanganku. Dia mengeluarkan sebilah pisau yang sangat tajam. Mengoreskan di jempolnya. Darah mengalir di jarinya.

__ADS_1


"Aku Sera Madza dari negeri Argueda Bersumpah bahwa Anak yang ada dalam kandungan Yuki adalah Anak perwaris tahtah negeri Garduete"


Darah menetes kedalam tungku. dalam waktu sekejap, Tercium aroma wangi yang menyebar keseluruh ruangan.


__ADS_2