
Aku merasakan mual yang amat sangat, kepalaku pusing. Sementara itu Tubuhku terus terseret masuk ke dalam gunungan jelly yang cukup besar. Perasaanku jadi tidak nyaman. Aku memejamkan mata. Terus berusaha bertahan menahan rasa mual yang terus mengaduk perutku. Hingga Akhirnya, Kesadaranku perlahan menghilang.
Hawa dingin menyesap disekujur kulitku. Tembus sampai ke tulang. Terdengar suara lonceng yang dipukul nyaring dari kejauhan. Perlahan, Kesadaranku mulai pulih. Aku membuka mata, Menyadari kenapa Aku bisa membeku karena ternyata Aku berada di lantai kuil istana, Aku pernah ke sini saat Pangeran Riana mengembalikanku ke duniaku sana. Aku mengenali segala arsitektur yang ada didalamnya. Aku bangun. Kaki dan tanganku seolah mati rasa. Beruntung tadi Bibi Sheira memaksaku memakai seragam musim dinginku, padahal disana sedang musim semi. Jika tidak, Aku pasti sudah mati membeku dengan hawa dingin yang seolah dapat menembus seluruh tulangku.
Tas ranselKu tergeletak di kakiku. Aku memutuskan untuk mengambilnya nanti saja. Akan sangat merepotkan jika Aku harus menyeretnya kemana-mana di sepanjang jalan menuju istana Pangeran Riana. Aku mencoba melawan pusing yang terus menyerang. Di kuil sepi, tidak ada seorangpun. Aku tidak mungkin berteriak meminta tolong dan membuat kehebohan yang tidak berarti. Aku duduk bersandar di dinding, Ada botol air minum di ransel. Aku mengambilnya dan meminum hampir setengah botol isinya. Sudah berapa lama Aku pingsan ?.
Aku melirik kearah cendela, warna perak menyebar diseluruh permukaan. Salju putih menutup seluruhnya dengan cukup tebal. Bibi Sheira memang benar, Beruntung Aku mengenakan seragam musim dinginku. Jika tidak, Aku bisa mati kedinginan didalam kuil tanpa ada seorangpun yang tau.
Setelah rasa pusingku mereda. Aku bangkit berdiri dengan hanya membawa botol air minumku untuk berjaga-jaga. Aku berjalan menuju pintu keluar.
Aroma dunia ini. Sudah lama Aku tidak menciumnya. Aku tersenyum dalam hati. Mengingat rasa sakit yang dulu pernah ada ketika kematian Bangsawan Dalto. Waktu itu, Salju turun dengan derasnya.
Aku berpikir lagi. Tidak. Luka itu masih ada. Hanya Dia susah dibalut rapi sehingga tidak lagi menetes setiap Aku mengingat Bangsawan Dalto. Dan...Pangeran Sera lah yang membalut luka itu. Aku tidak tahu apa jadinya Aku tanpa Dia.
__ADS_1
Aku terus berjalan. Aku masih ingat jalan menuju istana Pangeran Riana. Kuil ini terletak disisi timur istananya. Istana Pangeran Riana seperti biasa. Sepi. Dia masih tidak mengijinkan sembarang orang untuk tinggal diistananya.
Bekas kakiku tercetak cukup jelas di belakang. Aku melewati taman tengah untuk bisa kembali ke kamar Pangeran Riana. Semoga Dia ada di sana, Atau jika Dia tidak ada, Ada penjaga kamar yang bisa mengenaliku dan mengabarkan kepada Pangeran bahwa Aku sudah kembali. Perasaan akan bertemu dengan Pangeran Riana membuat hatiku berdebar cukup kencang.
Aku baru saja berbelok melewati kolam ikan yang airnya membeku, Ketika Aku melihat sosok Pangeran Riana di taman. Dia duduk di pagar sebuah gazebo yang dibangun diatas kolam. Memandang tenang ke depan.
Sepertinya Dia sedang bersama seseorang. Dia tidak menyadari kehadiranku.
Aku ingin membuka mulutku memanggilnya namun langsung kuurungkan niatku. Sepasang tangan putih dan halus menyentuh rambut Pangeran. Aku melangkah perlahan, melihat pemiliknya. Seorang wanita yang sangat cantik. Wanita muda dewasa yang sudah matang . Rambutnya berwarna hitam, berombak sebahu. Bulu matanya lentik dengan bibir penuh yang sempurna. Memandang Pangeran penuh cinta. Mereka seperti sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta.
Wanita itu mendekati Pangeran Riana yang masih duduk dengan tenang. Di tangannya ada segelas anggur. Dengan manja, Wanita itu mencium bibir Pangeran Riana. Aku melihat semua itu dengan jelas.
"Putri Yuki anda kembali" Aku tersentak kaget. Seorang pelayan Tua berlari dari belakangku sembari memanggilku dengan raut wajah senang. "Aku sudah menduga ini anda. Senang sekali bertemu dengan Putri. Akhirnya Putri kembali"
__ADS_1
Aku hanya bisa menyunggingkan senyum pada pelayan itu. Entahlah..Hatiku sedang tak karuan. Ketika Aku berbalik, Pangeran Riana sedang melihatku. Dia sudah menyadari kehadiranku. Aku kembali berbalik memandang pelayan itu. "Permisi" Kataku lirih. Aku langsung melangkah dengan cepat menjauhi tempat ini.
"Yuki.." Panggil Pangeran Riana nyaring. Aku langsung menambah kecepatanku dengan berlari. Aku terus berlari. Aku ingin secepatnya pergi dari sini.
Aku berlari sampai gerbang belakang yang terbuka. Ada seekor kuda ditambatkan disana. Selama kembali ke dunia ku yang lama, Aku berlatih menaiki kuda agar sewaktu-waktu bisa mengendarainya sendiri disaat genting. Tapi Aku tidak menyangka akan mengendarainya sekarang. Dengan cepat Aku melepaskan ikatan kuda itu. Dua orang penjaga sibuk memperhatikan kotak-kotak hasil tanaman dari petani yang dibawa masuk dari gerobak. Mereka tidak menyadari situasi yang ada. Aku menaiki Kuda tepat ketika Pangeran Riana datang dan berhasil mencekal tali kemudiku. Menghentikanku.
"Yuki.." Panggil Pangeran Riana nyaring membuat siapapun menoleh.
Aku menatap lurus tidak ingin melihatnya. Emosi didalam dadaku rasanya bisa menguar sewaktu-waktu. "Maaf Pangeran, Aku baru saja kembali dan ingin pulang"
"Pulang kemana...Disinilah rumahmu" Pangeran berusaha menurunkanku dari kuda. Aku mencekal kuat-kuat tali kengkang, Menahan diri untuk tetap berada diatas kuda
"Riana.." Sebuah suara lembut memanggil. Pangeran Riana berbalik. Wanita yang tadi bersamanya datang. Wajahnya ayu. Dia memiliki keanggunan seorang Putri yang membuat siapapun iri dengannya. Sejenak pegangan tangan Pangeran mengendur. Aku mengambil kesempatan itu dan menepis tangannya keras. Dengan cepat, Aku memacu kuda keluar gerbang.
__ADS_1
"Yuuuukiii..." Aku tidak peduli akan panggilan Pangeran Riana. Aku tidak berbalik. Terus dan terus melangkah meninggalkan istana