
"Aku adalah Rafael penguasa negeri Rasyamsah yang baru"
"Penguasa negeri Rasyamsah ?" Terdengar suara gerakan dibelakang Bangsawan Voldermon. Seperti bangku yang digeser mendekat. "Bagaimana dengan Raja Trandem ?"
"Orang Tua yang bodoh itu sudah mati. Dan Kini Rasyamsah sepenuhnya menjadi milikku"
"Lalu apa yang Kau mau dariku ?"
"Darimu ?, Tidak, Aku ingin Kau mewakili negaramu. Calon Ratu kalian ada ditanganku. Kalian pasti mengerti apa akibatnya jika Kalian kehilangan calon Ratu kalian"
"Aku sudah bukan.."
"Diam, Atau Aku akan hancurkan kepalamu" Rafael menarik rambutku lagi dengan kuat.
"Rafael, Jika Kau sampai menyentuhnya seujung rambut
pun Aku akan membunuhmu" Teriak Bangsawan Voldermon marah.
"Apa Kalian ada hubungan khusus ? Di dalam gulf Dia tidak ada nama Riana. Hanya Kau. Bukankah sangat aneh untuk hal itu"
"Ini bukan urusanmu"
"Tentu saja akan jadi urusanku, Gadis ini" Rafael mendongakan wajahku, pipinya menempel begitu erat dengan pipiku. "Dia adalah calon Ratuku..Ratu negeri Rasyamsah yang baru"
"Tidak akan..Aku tidak sudi"
__ADS_1
Bangsawan Voldermon menatap Rafael dengan pandangan siap membunuh. "Kau ingin berurusan denganku. Baik..Ayo kita lakukan"
Rafael tertawa mengejek. Dia kemudian memutuskan komunikasi. "Apa Kau yakin Kalian berdua tidak memiliki hubungan ?" dendang Rafael masih diatasku. " Sekarang mari kita lihat reaksi Pangeran dari Argueda"
Pangeran Sera lebih tenang dalam menanggapi Rafael. Tapi dari kata-kata yang diucapkan nya terkandung makna bahwa Dia siap bertarung dengan Rafael sampai titik darah penghabisan.
"Layani Dia, Dia akan menjadi Ratu Rasyamsah yang baru" Kata Rafael kepada pelayan yang baru masuk ketika Dia beranjak dari posisinya. Dia berdiri dengan sikap puas setelah berhasil berbicara dengan Argueda dan Garduete. Aku tidak mengerti bagaimana kabar bahwa Aku bukan lagi Calon Ratu belum menyebar, Padahal hal itu sudah lewat hampir sebulan lamanya.
"Aku tidak sudi menjadi ratumu" Tolakku kencang. Rafael terus berjalan tidak menoleh lagi kearahku. Pintu ditutup.
"Dua orang pelayan menghampiriku sembari melepaskan ikatan di tanganku. "Putri, Mari segera mandi dan berganti baju. Saya akan mengobati Putri juga agar lukanya tidak berbekas".
"Pergi Kalian. Aku tidak butuh mandi atau berganti pakaian"
"Kami mohon Putri bantulah Kami"
Aku menghela nafas. Akhirnya mengikuti mereka. Aku melepaskan pakaianku. Mandi. Membiarkan pelayan membantuku mengobati luka di tubuhku. Setelah itu, Aku berganti pakaian yang telah disediakan. Aku mengernyit saat melihat pakaianku, Tapi pelayan mengatakan pakaian seperti inilah yang disuka Rafael.
"Berikan Aku pakaian yang tertutup" Kataku ketika memandang bayanganku di cermin. Pakaian ini memiliki potongan rendah pada bagian dada dan belahan yang cukup tinggi dibagian paha.
"Tapi Tuan Rafael..."
"Aku sudah berbaik hati mengikuti kalian. Tapi semua itu ada batasnya. Masa bodoh dengan kesukaan Rafael, Aku tidak punya kewajibab untuk menyenangkannya. Sekarang Kalian mau memberikanku pakaian tertutup atau tidak ?!"
Pelayan itu tampak kebinggungan dan enggan. Aku bisa bertoleransi pada mereka tapi bukan artinya Aku mau mengikuti seluruh keinginan mereka.
__ADS_1
"Jawab sekarang" Kataku lagi lebih tegaa ketika melihat mereka tidak bergeming.
"Baik Putri akan Kami carikan sesuai yang Putri inginkan"
Akhirnya Mereka memberikanku pakaian dari kain biasa yang lebih sopan. Aku tidak perlu pakaian sutra atau perhiasan Putri. Aku tidak berminat menjadi Putri dari negeri Rasyamsah apalagi calon ratunya jika orang seperti Rafael dan Raja Trandem yang memerintah.
Yang paling mengejutkanku adalah, Dari pelayan Aku akhirnya tau bahwa cerita seorang wanita yang bayi dan suaminya dibunuh didepannya sehingga Dia mengutuk Raja Trandem adalah karena Rafael. Rafael lah yang menginginkan gadis itu sebagai hadiahnya. Gadis itu adalah anak yatim piyatu yang dibesarkan oleh Ratu sejak kecil sebagai pelayan di istana kecil di perbatasan. Gadis itu mirip denganku.
Aku jadi teringat ketika Aku bertemu dengan Ratu. Dia tampak terkejut melihatku. Kemudian matanya memancarkan sorot ketakutan seolah berkata padaku, menyuruhku segera pergi. Karena Dia melihat Rafael. Rafael didekatku.
Kutukan gadis itu terpenuhi. Raja Tradem meninggal dalam kehinaan dan tanpa keturunan. Dia meninggal dibunuh Rafael dan tidak ada satupun yang bersedih karena kematiannya.
"Bagaimana dengan Ratu ?" Tanyaku ketika Aku selesai berpakaian. Walaupun Raja Trandem adalah seorang ******** Dia tetap adalah suami Ratu. Pelayan itu memasang wajah sedih. Keduanya menundukkan kepala.
"Ada apa ?" Tanyaku tak mengerti.
"Sesaat setelah mendengar Raja Trandem meninggal, Ratu pergi ke kuil dipinggir sungai. Setiap hari Dia memohon pada Dewi Barinda-Dewi yang menjaga negeri ini agar negaranya terbebas dari perbuatan jahat yang menyengsarakan rakyatnya. Ratu...Ratu menceburkan diri ke sungai sebagai janji yang pernah dibuatnya kepada Dewi Barinda jika permohonannya dikabulkan Dia akan mengorbankan nyawanya"
Ratu mengorbankan diri agar rakyatnya terbebas dari kesengsaraan. Apakah Ratu tidak tau bahwa sekarang Rakyatnya akan jauh lebih sengsara ditangan Rafael. Selama ini ada Ratu yang menjaga mereka lalu jika Dia pergi, Siapa yang akan menjaga mereka. Siapa yang akan menjaga Rakyatnya.
"Ratu percaya Ramalan itu akan tiba. Makanya Dia mengorbankan dirinya berharap agar Rakyatnya segera terbebas dari bencana"
"Ramalan ?"
"Dulu ada pendeta suci yang ikut menjaga negeri ini mendampingi Raja terdahulu, Tapi ketika Raja Meninggal, Pendeta itu dihukum oleh Raja Trandem karena dianggap tidak becus menjaga Raja. Dia disiksa dan dibunuh dengan sadis. Tapi sebelum kematiannya, Dihadapan seluruh rakyat yang menyaksikan eksekusinya. Dia memberi ramalan terakhirnya.
__ADS_1