
Air menderu disekitarku, Kami melesat turun ke bawah. pangeran Riana memelukku erat ketika Kami menghantam permukaan air terjun. Kami jatuh kedalam air. Aku menggapai-gapai terseret arus. Pegangan Pangeran Riana terlepas ketika Kami membentur air saat jatuh. Pangeran Riana berenang didekatku, Dia terlihat sekuat tenaga untuk menghampiriku. Aku menendang-nendang agar tetap berada di permukaan. Kami berdua terseret arus. Akhirnya Dia berhasil meraihku kembali.
Aku terbatuk-batuk dipelukannya Pangeran Riana. Beberapa kali tanpa sengaja Aku menelan air sungai. Diatas Kami terdengar teriakan Pangeran Sera dan Para Prajurit. Mereka akan mengejar Kami. Pangeran Riana menarikku berenang ke tepi sungai. Dia menyibakkan rerumputan di pinggir sungai. Ada sebuah ceruk didalamnya yang tidak terlihat jika rumput tidak disibakkan.
"Ayo" Ajak Pangeran Riana. Kami berenang memasuki ceruk itu. Ceruk itu sangat dalam dan hanya bisa dilalui satu orang. Kami terus menyusuri aliran air hingga akhirnya Aku merasakan air makin lama makin menyusut. Lalu merangkak memasuki lorong yang gelap dan lembab sampai Kami tiba di dataran landai. Ternyata lorong itu mengarah ke sebuah Gua yang cukup tersembunyi.
"Sementara ini Kita bersembunyi di sini" Kata Pangeran Riana. Dia bersandar di bebatuan. Tangannya meraih dan Menarik panah yang menancap di bahunya. Teriakannya bergema didalam gua. Aku segera menghampiri dengan panik. Menyobek gaunku untuk membalut lukanya yang terbuka. Darah segar merembes dari luka itu. Pangeran melihat mata panah untuk memastikan ada racun atau tidak dalam panah itu. Nafas Pangeran Riana tersenggal-senggal menahan sakit.
"Kita harus menghubungi seseorang, Dimana Gulf Pangeran ?" Tanyaku sembari menepuk-nepuk bajunya. Namun Aku tidak menemukannya.
"Sepertinya jatuh saat Kita terjun di sungai tadi. Bagaimana dengan milikmu"
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala menyesal. "Aku meninggalkannya di kamar. Aku tidak tahu akan ada kejadian seperti ini. Maafkan Aku"
Pangeran meringis kesakitan. Dia kembali bersandar. Ekpresi wajahnya jelas Dia terluka parah.
"Maaf gara-gara Aku" Bisikku lirih. Aku merasa bersalah pada Pangeran Riana. Jika Dia tidak bersamaku. Dia tidak mungkin akan mengalami hal ini. Aku selalu membawa masalah untuknya. Beberapa kali Dia nyaris dalam bahaya karena Aku.
"Bodoh, Jangan berwajah seperti itu. Aku tidak akan mati hanya karena luka ini" Kata Pangeran Riana sembari mengusap air mata di pipiku. Pangeran Riana terbatuk. Dia bersandar sembari menahan sakit. Aku memegang tangannya erat. Menggengamnya sedemikian rupa.
Pangeran Riana memejamkan mata. Keringat dingin mengalir di keningnya. Telapak tangannya panas. Aku melihat kesekelilingku. Dia demam. Lukanya infeksi. Aku melepaskan pegangannya dan berdiri mengelilingi gua. Mencari sesuatu yang bisa menghangatkannya. Pakaian Kami basah kuyup. Akhirnya Aku mengumpulkan dedaunan kering yang kutemukan di luar gua dan menggunakannya untuk menimbun badannya agar tidak terlalu kedinginan. Aku tidak bisa memikirkan cara lain lagi. Aku tidak punya keahlian bertahan hidup di hutan seperti Pangeran Riana. Aku juga mengumpulkan ranting pohon disekitar Gua. Ketika Aku keluar untuk melihat situasi, Aku menemukan ada pohon jambu air didekat Kami. Dengan senang Aku mengambilnya. Ini sementara bisa mengganjal perut Kami dalam keadaan darurat seperti ini. Setelah berhasil memitik beberapa jambu air, Aku kembali masuk mendekati Pangeran yang gemetaran. Dia meriang. Pangeran meringkuk diatas tanah kedinginan. Aku melepaskan Pakaian luarnya dan menjemurnya. Kembali menimbunnya dengan daun-daun kering.
"Makanlah ini" Bisikku kepadanya. Namun Pangeran tidak mengunyahnya. Bibirnya terkatup rapat, Matanya terpejam. Dia tampak tidak berdaya. Luka itu berpengaruh pada kondisinya sekarang. Dia terus gemetaran.
__ADS_1
Dia harus punya tenaga untuk memulihkan diri. Tapi bagaimana jika sekarang saja Dia tidak makan. Dia akan dapat tenaga dari mana ?. Akhirnya, Aku mengunyah jambu air dan menghaluskannya. Setelah cukup Aku langsung memasukkannya pada bibir Pangeran. Aku terus melakukan hal itu sampai Aku yakin Pangeran sudah cukup memakannya.
Aku meletakkan Pangeran di pangkuanku. Hari semakin gelap. Aku tidak tahu berapa lama Aku disini. Pangeran belum juga bangun. Aku semakin khawatir akan kondisinya. Namun Aku tidak bisa pergi sendiri dan meninggalkan Dia. Bagaimana jika Pangeran Sera menemukannya saat Aku pergi untuk meminta bantuan. Kami sekarang berada di hutan yang lebat, Jika Aku nekat keluar Aku bisa kesasar dan salah-salah tidak menemukan tempat ini lagi. Aku khawatir akan kondisi Pangeran Riana jika Aku pergi.
Di luar sana Aku yakin pasukan Pangeran Sera masih terus melakukan pencaharian. Aku hanya bisa bersembunyi sembari menunggu Pangeran Riana sadar.
"Pangeran harus bertahan...Aku mohon" Bisikku ketika Aku merasakan suhu badannya semakin meninggi. lama kelamaan kegelapan menyelimuti Kami. Hanya ada suara hewan di malam hari. Angin berhembus cukup kencang, gesekan pohon terdengar bagaikan irama musik yang berkumandang. Dalam kegelapan Aku mencoba membiasakan mataku. Terus memastikan tubuh Pangeran Riana terselimuti.
Jika terjadi sesuatu padanya saat ini, Aku tidak akan bisa memaafkan hidupku. Kenapa Kami seperti ini, Dekat tapi selalu dipisah. Seolah takdir sedang bermain dalam peranannya.
Aku mengusap rambut Pangeran. Aku yakin sekarang suhunya sudah mencapai 40 derajat. Apa Aku lebih baik memapahnya bersamaku mencari jalan keluar ?. Tapi bagaimana jika Pangeran Sera menemukan Kami. Apa yang akan dilakukannya pada Pangeran Riana lagi ?. Aku percaya Pangeran Sera tidak main-main akan perkataannya. Dia bisa membunuh Pangeran Riana dan menghancurkan Garduete dalam sekejap dengan kekuasaannya.
__ADS_1