
Terdengar suara ranting diinjak, Aku langsung terjaga. Melihat sekelilingku dengan panik. Entah berapa lama Aku ketiduran. Pangeran Riana masih memejamkan mata di pangkuanku. Terdengar suara bercakap-cakap disekitarku.
Sial.
Prajurit Pangeran Sera. Aku yakin itu. Ternyata Mereka masih belum menyerah mencari Kami.
Aku beringsut meletakkan kepala Pangeran secara berhati-hati ke tanah. Kondisinya semakin parah. Aku tidak mungkin menunggu sampai para prajurit itu pergi. Pangeran terbatuk dengan keras. Suaranya bergema di dalam gua. Sontak suara-suara diluar sana berhenti. Kami telah ketauan.
Terdengar langkah Kaki mendekat. Aku segera memposisikan diriku, berdiri didepan Pangeran Riana untuk melindungi.
Para Prajurit masuk dengan bersenjata lengkap. Seperti mengejar seorang penjahat besar. Aku memasang sikap berhati-hati. Mereka berdiri berjajar. Seketika Gua menjadi lebih terang karena nyala obor yang Mereka bawa.
"Yuki" Pangeran Sera menyeruak masuk. Ada rasa lega terpancar di wajahnya saat Dia melihatku. Aku mengepalkan kedua tanganku didada. Masih tergiang ditelingaku semua percakapannya dengan Putri Marsha yang telah kudengar.
Aku mundur ketika Pangeran Sera mencoba mendekat. "Yuki...Kemarilah" Pangeran Sera mengulurkan tangan. Tapi Aku diam tidak bergeming. Rahangku terkatup rapat. "Yuki.." Panggil Pangeran Sera lagi dengan nada frustasi.
Pangeran Riana kembali terbatuk. Aku langsung berpaling, menghampirinya untuk melihat kondisinya. Panasnya semakin tinggi.
"Yuki ikutlah denganku"
"Tidak"
Aku menepis tangan Pangeran Sera yang terulur kearahku. Aku menangis terisak.
__ADS_1
"Semua keluar" Perintah Pangeran Sera tegas ketika melihatku menangis. Semua prajurit tanpa banyak bertanya berjalan dengan rapi, keluar dari gua ini. Meninggalkan Kami bertiga.
"Dia sedang sekarat" Kata Pangeran Sera acuh didekat Kami. "Jika terus membiarkannya disini, Dia akan mati. Tentukan pilihanmu Yuki"
Aku terdiam. Perkataan Pangeran Sera benar. Jika Aku terus membiarkan Pangeran Riana disini. Bertahan dengan keegoisanku. Dia akan mati. Dia tidak boleh mati seperti ini. Tidak.
Aku mengepal kedua tanganku. Pangeran Riana kembali terbatuk. Wajahnya pucat.
"Jika Aku ikut denganmu, Apakah Kau akan menyelamatkannya ?" Tanyaku lirih. "Jika Aku menuruti keinginanmu apakah Kau akan menjamin Dia akan kembali dengan selamat ke Garduete ?" Aku menatap Pangeran Sera menilai keseriusannya.
"Ya. Aku berjanji"
"Kalau begitu selamatkan Dia dan kirim Dia ke Garduete dengan selamat sebagai gantinya Aku akan ikut denganmu"
Pangeran Sera memandangku sejenak.
Pangeran Sera keluar Gua. Tak berapa lama Empat orang prajurit datang membawa tandu. Pangeran Riana diangkat ke atas tandu. Aku mengikuti Mereka dari belakang. Menolak untuk berjauhan dari Pangeran Riana. Aku takut jika Aku berjauhan dan Pangeran Sera menyakiti Pangeran Riana Aku tidak bisa melindunginya. Kami sampai di deretan kuda yang menunggu. Pangeran Riana diangkat ke atas gerobak tanpa penutup. Dia diperlakukan seperti seorang tawanan. Aku melewati Pangeran Sera yang mengulurkan tangan untuk mengajakku naik kuda bersamanya. Aku terus berjalan, Mengacuhkannya, Aku lebih memilih berada didekat Pangeran Riana.
Rombongan bergerak. Hari ini cuaca cukup terik. Musim panas dimulai di Argueda. Aku sesekali mengusap wajah Pangeran Riana dengan sapu tangan yang telah kubasahi sebelumnya. Aku sangat berharap Dia dapat bertahan dan selamat.
Hampir tiga jam Kami berjalan. Akhirnya Kami sampai di sebuah kuil kecil yang terlihat kusam. Aku melihat ke sekeliling. Apa yang akan dilakukan Pangeran Sera kali ini. Seorang Pria tua muncul dari dalam kuil.
"Hormat saya kepada Pangeran Sera, Pangeran perwaris tahtah kerajaan Argueda" Kata Pria tua itu dengan suara kecilnya.
__ADS_1
"Di sana ada Pangeran dari negeri Garduete yang terluka. Apa Kau bisa menanganinya ?"
Pria tua itu terkejut. Dia lalu berjalan cepat kearah Pangeran Riana. "Astaga...Cepat bawa Dia ke dalam" Kata Pria itu ketika melihat kondisi Pangeran Riana dengan wajah panik. Dua orang Prajurit membantu memapah Pangeran Riana. Aku mengikuti mereka, Mengacuhkan keberadaan Pangeran Sera.
Putri Marsha datang tak berapa lama. Dia menatapku berang seolah tidak memiliki kesalahan. "Lagi-lagi Kau. Apa Kau belum puas terus-menerus membahayakannya"
Dua orang prajurit menahan Putri Marsha agar tidak menyerangku. Putri Marsha memberontak semakin kesal.
Aku diam. Tidak mendengarkan. Aku fokus melihat Pria tua yang ternyata mantan Tabib kerajaan mengobati Pangeran Riana.
Hampir enam jam lamanya Pangeran Riana dalam pengobatan. Selama itu tidak henti-hentinya Aku berdoa agar Pangeran Riana dapat berjuang melewati masa kritisnya. Ketika pada akhirnya pintu terbuka dan Tabib keluar ruangan, Aku langsung berdiri menghampirinya dengan perasaan cemas.
"Bagaimana ?" Tanyaku langsung ketika sudah berdiri didepan tabib. Putri Marsha sudah diusir oleh penjaga dari ruangan sebelumnya karena membuat keributan, Tapi Dia terus-menerus berteriak dan menggedor pintu dari luar meminta masuk ke dalam.
"Untung Kalian membawanya cepat kemari sehingga Kita bisa menanganinya tepat waktu, Sekarang Pangeran sedang dalam pemulihan. Kesadarannya akan pulih setidaknya dalam waktu seminggu. Harap Putri bersabar"
Aku menganggukan kepala mengerti. Aku lega, Pangeran Riana baik-baik saja.
"Apa Aku boleh masuk ?"
"Tidak anakku. Dia tidak boleh mendengar sesuatu yang menggoncangnya sekarang. Anda pasti adalah Putri Yuki, Benarkan ?,Dari tadi ketika pengobatan tengah berlangsung, Pangeran Riana terus memanggil namamu."
Aku diam.
__ADS_1
"Pangeran Sera menunggumu Putri, lebih baik Putri segera kembali sebelum Pangeran berubah pikiran kembali" Tabib itu memandangku iba. Apa Aku terlihat sangat menyedihkan sekali ?.
"Paman benar" Kataku mendesah. Aku harus segera pergi dari sini. Aku telah membuat perjanjian dengan Pangeran Riana. Demi Dia, demi Garduete Aku harap pengorbananku ini tidak sia-sia.