Water Ripple

Water Ripple
5


__ADS_3

Aku hanya melihat warna putih disekelilingku Tidak ada kehidupan apapun disini. Kakiku terasa beku dan lelah. Aku menuntun kudaku berjalan. Kami entah berada dimana. Aku memasuki hutan dan sekarang tersesat. Malam semakin larut. Perutku terasa lapar. Air minum terakhir sudah kuberikan pada kuda. Aku tidak punya apapun disini. Hawa semakin dingin. Kami harus segera mencari tempat berteduh atau Kami akan mati membeku.


Aku tiba dipinggir sungai yang airnya diselimuti lapisan es. Terus melangkahkan kaki tanpa tujuan. Akhirnya setelah berjuang Aku tidak kuat lagi. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah pohon yang cukup besar. Kuikat kuda di batang pohon terdekat. "Maafkan Aku, Kau jadi ikut terbawa masalahku" Bisikku sembari mengelus kepala kuda. Aku duduk diam, memikirkan apa yang harus Aku lakukan sekarang. Aku tidak mempunyai uang atau barang berharga yang kubawa untuk membeli makan jika Aku bisa ke kota. Aku tidak mungkin kembali ke rumah Ayah. Pangeran Riana pasti mencariku di sana terlebih dahulu. Aku tidak ingin kembali ke istananya. Bayangan saat Pangeran Riana Dan putri itu berciuman terlintas jelas dalam ingatanku. Tampaknya Aku terlalu banyak berharap pada Pangeran Riana, Tidak mungkin Dia hanya menginginkan satu wanita dalam hidupnya. Akan banyak wanita lain yang nanti datang bersamanya.


Terdengar suara ranting diinjak. Sontak Aku langsung berdiri dengan sikap waspada. Ada bayangan empat orang pria mendekat. Apakah mereka Prajurit Pangeran Riana yang ditugaskan mencariku atau malah perompak ?. Yang manapun dari keduanya Aku tidak ingin bertemu. Aku mengambil gagang kayu, berjaga-jaga jika terjadi hal yang tidak kuinginkan.


"Siapa di sana ?" Teriak salah seorang prajurit ekpresi awas. "Hamba mengawal Pangeran ketika kita berada diatas kapal" Terang jendral Ziyar ketika Aku memandanginya ragu.


Aku memperhatikan jendral Ziyar, dan perlahan mengenalinya. Aku beberapa kali melihatnya disamping Pangeran Sera. Mengikuti Pangeran dengan setia. Kelegaan merambati hatiku.


Jendral Ziyar berdiri tapi masih bersikap hormat padaku. "Apa yang sedang Putri lakukan disini ?, Putri bersama siapa ?" Tanya Jendral Ziyar binggung. Dia melihat sekeliling, mencari orang lain yang mungkin bersamaku.


"Aku sendiri" Bisikku lirih namun cukup terdengar olehnya.


"Apa yang putri lakukan disini sendiri ?" Tanga Jendral Ziyar kebingungan.

__ADS_1


"Aku.." Aku merasa pusing yang amat sangat. Belum sempat Aku meneruskan perkataanku, Aku sudah ambruk tak sadarkan diri.


Aku terbangun ketika merasakan tubuhku bergoncang-goncang tak tentu arah. Ketika membuka mata Aku mendapati diriku berada diatas punggung kuda bersama jendral Ziyar. Jendral Ziyar mengendalikan kuda dengan tangkas bersama empat orang pasukannya. Kami menembus hutan belantara.


"Dimana Aku ?" Bisikku menyadarkan Jendral Ziyar bahwa Aku telah terbangun. Jendral Ziyar memberikan kode kepada pasukannya untuk berhenti.


"Putri Yuki, Syukurlah anda sudah sadar"


"Apa yang terjadi ?,Dimana Aku ?"


Putri pingsan selama tiga hari tiga malam, Aku memutuskan untuk membawa Putri ke Argueda. Pangeran Sera sudah mengetahui keberadaan Putri, Beliau akan menyusul Putri di perbatasan. Maaf Saya terpaksa menaikkan Putri ke atas kuda bersama untuk mempercepat perjalanan"


" Kita butuh waktu empat hari lagi untuk sampai perbatasan. Selama itu Saya harap Putri bersabar"


"Ya.." Bisikku lemah. Aku kembali memejamkan mata.

__ADS_1


Aku panas tinggi selama perjalanan. Jendral Ziyar tidak menghentikan perjalanannya. Akhirnya ketika sampai di perbatasan, Aku dinaikkan kedalam kereta kuda yang telah dipersiapkan . Seseorang memberiku selimut yang hangat. Aku menggigil kedinginan. mungkin pengaruh karena sebelumnya Aku berada di udara yang cukup dingin semalaman tanpa pakaian yang mendukung, diperparah juga dengan perjalanan yang Aku lakukan ini.


Kereta melaju, Dari cendela Aku bisa melihat pemandangan berubah silih berganti. Aku dalam keadaan setengah sadar, ketika Di suatu tempat, Pangeran Sera muncul dan membuka pintu kereta. Pangeran masuk ke dalam. Dia meraihku ke dalam pelukannya. Mengendongku di dadanya. Aku menyadarkan diri dipelukannya. Kesadaranku kembali menghilang. Aku tidak terlalu ingat apa yang terjadi. Semuanya hilang timbul dalam ingatanku. Yang Aku tau, Aku telah aman.


"Bagaimana kondisimu ?" Tanya Pangeran Sera sembari menyentuh dahiku. Kami berada di sebuah penginapan. Sebentar lagi Kami akan kembali melanjutkan perjalanan menuju Argueda. Aku mengerjap dan tersadar. Aku berada di Argueda sekarang, Tempat Pangeran Sera. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Aku bisa sampai disini. Aku cukup beruntung para prajurit menemukanku tepat waktu. Pangeran duduk disamping ranjang. Aku bangun dari tidurku, menerima obat yang diberikan Pangeran.


"Apa masih pusing ?" Tanyanya lagi dengan cemas.


Aku menggelengkan kepalaku. Pangeran membenahi selimut yang menutupi kakiku. "Bersabarlah, Jika kita sudah sampai istana, Kau bisa beristirahat dengan tenang disana"


"Maaf, Aku telah merepotkan Pangeran lagi"


"Gadis bodoh, kenapa Aku harus merasa direpotkan olehmu"


Pangeran mengambilkan bubur hangat. "Makanlah, Agar tubuhmu bertenaga"

__ADS_1


Aku menurutinya. Bubur ini sangat enak. Perutku jadi terasa lebih hangat. Musim dingin memang selalu tidak baik untukku. Aku selalu lebih mudah sakit. Pada dasarnya Aku memang tidak tahan udara dingin. Pangeran duduk didekatku. Menatapku lembut. Dia tampak lebih dewasa daripada sebelumnya. Mata birunya terlihat sangat hangat.


Tak berapa lama kemudian, Prajurit melaporkan bahwa keberangkatan sudah siap. Pangeran menungguku sampai menghabiskan makananku. Dia tidak tampak marah atau tergesa-gesa. Setelahnya Aku kembali dibopong olehnya masuk dalam kereta walaupun Aku sudah mengatakan padanya Aku bisa berjalan sendiri


__ADS_2