Water Ripple

Water Ripple
19


__ADS_3

Kami telah sampai di istana Pangeran Riana ketika hari sudah larut. Aku melepaskan seluruh perhiasanku, Tampak kepayahan.


"Sudah berapa lama Kau tahu bahwa Kau hamil ?" Tanya Pangeran didekatku.


Aku diam.


Pangeran mencekal tanganku dan menariknya untuk menghadapnya. "Kenapa Kau diam saja, Kenapa Kau tidak mengatakan kehamilanmu padaku"


"Aku harus bagaimana ?" Kataku akhirnya dengan kesal. Aku menepis tangan Pangeran Riana hingga terlepas


"Harus bagaimana ??...Kau...Aku berhak untuk mengetahuinya Yuki. Atau jangan-jangan Kau tidak menginginkan kehamilan ini"


"Ini anakku" Kataku tegas. Aku menghela nafas. Menyadari perdebatan yang Kami lakukan ini tidak ada gunanya. Pangeran Riana sudah mengetahui kehamilanku. Untuk apa lagi Aku sembunyikan. "Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya padamu. Kehamilan ini terlalu cepat untukku. Usiaku baru delapan belas tahun, Aku juga belum menikah. Tapi....Tapi anak ini..." Aku mengelus perutku yang masih datar. "Bagaimanapun juga Ini anakku..."


Pangeran menarikku, memelukku di dadanya. "Aku senang mendengar kabar ini, Terimakasih Yuki. Kau memberikan hadiah terbaik untukku"


"Putri Yuki apa kita bisa bicara sebentar ?" Putri Marsha muncul di belakangku, Ketika Aku baru saja berjalan di taman tengah. Semenjak Pangeran tahu Aku sedang hamil, Dia tidak lagi mengurungku didalam kamar. Aku diperbolehkan berjalan-jalan sesukaku di istana. Rajapun sering mengirimkanku makanan yang menurutnya mengandung gizi yang tinggi untukku dan bayiku.


Para pelayan tampak tegang ketika Putri Marsha muncul. Kelihatan sekali mereka tidak menyukai Putri Marsha. Aku mendengar kabar sekarang Putri Marsha berani mengatur pelayan di istana Pangeran saat Mereka menyiapkan segala keperluan Pangeran.


Putri Marsha berbadan ramping. Gerak-geriknya terlihat sekali bahwa Dia adalah Putri yang berpendidikan tinggi.


"Kalian pergilah" Kataku pada pelayan yang menemaniku. Para Pelayan berjalan menjauhi kami. Kini Kami hanya tinggal berdua.

__ADS_1


"Kita bisa bicara di sana" Tawar Putri Marsha menunjuk gazebo tempat Dia dan Pangeran Riana pernah berciuman. Aku berjalan mengikutinya dari belakang. Kami duduk sedikit berjauhan begitu sampai Gazebo.


"Apa yang ingin Putri bicarakan ?" Tanyaku langsung.


"Putri pasti Tau kan siapa Aku ?" Tanya Putri Marsha dengan penuh percaya diri. Aku diam.


"Aku dan Pangeran adalah sepasang kekasih ketika masih muda. Hubungan Kami berakhir karena Aku sangat marah, Saat mengetahui bahwa bukan Aku, calon Ratu yang ditunjuk dewa. Aku tidak bisa berbagi cinta dengan Wanita lain. Karenanya Aku meninggalkan Pangeran Riana untuk menikahi orang lain"


Putri Marsha memandangku dalam. Menilai reaksiku. Aku hanya Diam mematung. Tidak memberikan respon apapun.


"Tapi Aku tidak bisa melupakannya. Bahkan setelah menikah sekalipun. Ketika suamiku meninggal, Aku merasa ini adalah karmaku. Aku berusaha memperbaikinya. Aku kembali kemari dengan harapan dapat memperbaiki hubungan Kami" Jelas Putri Marsha ketika Aku tidak mengatakan apapun. "Dulu Aku tidak siap ketika Pangeran harus menikahi orang lain, Namun sekarang, Aku sudah siap. Aku rela Dia menikah dengan anda sebagai Ratunya dan menerima diriku sendiri sebagai istri kedua"


"Istri kedua ?" Kataku terkejut.


"Ya, Putri tidak berharap Pangeran hanya akan menikah dengan satu wanita saja kan. Dia adalah Putra mahkota kerajaan besar. Calon perwaris tahtah kerajaan. Dia berhak menikah dengan banyak wanita sesuka hatinya"


"Aku sudah membicarakan hal ini dengan Pangeran Riana. Aku harap Putri mengerti"


"Apakah kita sudah selesai berbicara" Tanyaku cepat berusaha mengakhiri pembicaraan.


"Ya, Tentu. Putri sedang hamil. Aku ucapkan selamat. Kelak dikemudian hari Kita akan berjalan bersama sebagai istri dari Pangeran Riana"


"Terimakasih ucapannya. Saya permisi dulu Putri" Aku berdiri.

__ADS_1


Berjalan meninggalkan gazebo. Perasaanku hancur. Pangeran dan Putri Marsha sudah membicarakan masa depan dan pernikahan. Apa lagi yang kuharapkan. Aku hanya calon Ratunya. Jika Bukan itu, Pangeran juga tidak mungkin memandangku. Kami terlalu jauh. Tidak bisa mendekat.


Terdengar suara ranting diinjak dibelakangku. Ketika Aku berbalik Bangsawan Voldermon sudah berada di sampingku. "Kau sedang senggang ?" Tanyanya ringan. "Aku membawakan kue untukmu. Ayo temanin Aku minum teh"


Tanpa menunggu persetujuan Bangsawan Voldermon memegang bahuku dan mendorongku untuk mengikutinya.


Kami duduk di taman. Salju sudah sepenuhnya mencair walau hawa dingin masih terasa. Aku duduk di sebuah ayunan yang dibuat di bawah pohon. Bangsawan Voldermon duduk di bawahku. Dia membawakan kue panggang dengan berbagai macam toping. Enak dan hangat. Aku berhasil memakan beberapa tanpa keluar lagi.


"Terima kasih, Kuenya sangat enak" Kataku ketika menghabiskan Kue keempat.


"Kau sudah baikkan ?" Tanya Bangsawan Voldermon ringan. " Aku tadi tanpa sengaja mendengar pembicaraanmu dengan Marsha Kau jangan dengarkan apa yang Dia katakan."


"Tidak, Aku tidak terlalu memikirkannya" Kataku berbohong.


"Marsha merupakan kesalahan Riana di masa lalu. Percayalah pada Riana. Kemunculan Marsha tidak akan merubah apapun. Dia tidak pernah mencintai Marsha sama sekali"


"Saat pertama kali kembali kemari. Aku Melihat mereka berdua berciuman"


"Jadi itu kah alasanmu kenapa Kau kabur dari istana dan menuju Argueda ?. Sekarang Aku mengerti" Bangsawan Voldermon menghabiskan secangkir teh. "Apa Kau mempercayaiku jika Aku katakan Riana mencintaimu bukan marsha ?. Hanya saja Dia tidak mau mengakuinya"


"Apa yang kulihat tidak seperti itu"


"Ayolah Yuki, Kejadian di gazebo itu tidak seperti yang Kau pikirkan. Marsha lah yang mencium Riana ketika Riana menolak Marsha. Sekarang ini Dia membiarkan Marsha berada di sini hanya karena Riana memandang Xasfir yang memohon pada Riana"

__ADS_1


Aku diam.


"Dulupun Xasfir jugalah yang memohon kepada Riana agar mau menerima Marsha di sisinya. Tapi Riana sama sekali tidak punya perasaan lebih pada Marsha"


__ADS_2