Water Ripple

Water Ripple
26


__ADS_3

Aku kembali berada di Argueda. Memulihkan kesehatanku. Pangeran Sera begitu baik. Dia tidak membahas soal kehamilanku dengan Pangeran Riana. Dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Mencintaiku tanpa syarat.


Pangeran sangat sibuk akan masalah Putri Margitha dan Ratu. Aku jarang bertemu dengannya. Namun ditengah kesibukan ini Dia masih menyempatkan waktunya untuk memperhatikanku.


"Pangeran apa Aku boleh bertanya padamu" Tanyaku ketika Kami berjalan bersama di taman. Pangeran mengengam tanganku lembut.


"Aku tidak pernah lagi melihat Putri Alena. Bagaimana kabarnya"


Pangeran terdiam. Dia tampak memikirkan kata-katanya sebelum mengucapkannya. "Dia sudah tidak ada Yuki"


"Tidak ada...Apa Dia pergi ?"


"Tidak. Kerajaan telah menghukum gantung dirinya"


Aku terdiam.


"Dia sudah meninggal Yuki" Tegas Pangeran Sera lagi. Aku ingat Putri Alena, Putri cantik dan pemalu yang sangat mencintai Pangeran Sera. Cinta yang tak terbalas, begitu menyakitkan. Aku memahami perasaan Putri Alena sekarang.


"Dia sangat mencintaimu" Bisikku bersimpati. Apa karena ini juga Putri Nadira begitu membenciku. Gara-gara kedatanganku Putri Alena bertindak nekat dan berakhir di tiang gantungan.


"Sudahlah Yuki. Kau jangan terlalu memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Tugasmu disini adalah hidup bahagia bersamaku"


"Apa Pangeran akan pergi lagi ?"


"Ya, Aku ada rapat di istana Raja hari ini. Jika sudah selesai Aku akan segera kembali"


"Aku mengerti" Kataku akhirnya.


Aku mengantar Pangeran Sera sampai gerbang istana. Kemudian kembali menuju kamar. Saat Aku sedang berjalan di lorong, Terdengar suara memanggilku. "Putri Yuki" Aku berbalik, mencari sumber suara yang memanggilku. Pangeran Arana berdiri di sudut. Dia tampak bersembunyi. Aku melirik ke sekelilingku. Tidak ada siapa-siapa. Bergegas Aku menghampiri Pangeran Arana.


"Bisa minta waktu sebentar, Ada yang ingin kubicarakan dengan Putri secara pribadi"

__ADS_1


"Ya..Boleh"


Pangeran Arana menarikku. Aku mengikutinya menuju kamar kosong. Pangeran Arana mengunci pintu itu. Dia tampak cemas dan gugup.


"Maaf membawa Putri kemari. Tapi Aku sudah tidak ada waktu"


"Apakah Pangeran Sera melarangmu menemuiku ?" Tanyaku langsung menyuarakan rasa penasaranku selama ini.


Pangeran Sera menganggukan kepala lirih.


"Ini pasti ada hubungannya dengan apa yang akan Pangeran katakan bukan ?"


"Ya Putri"


Aku berjalan menuju meja kosong ditengah ruangan. Menarik salah satu kursinya dan duduk di sana. "Kalau begitu Aku akan mendengarkan apa yang Pangeran Arana katakan"


Pangeran Arana duduk didekatku. "Ini soal Margitha dan Ibu. Aku pernah menceritakan mengenai kutukan untuk Raja Rasyamsah. Apa putri ingat ?"


"Putri benar, Sebenarnya Aku berpikir apa yang Putri mimpikan itu berhubungan. Wanita yang bunuh diri itu memiliki ciri-ciri fisik seperti Putri" Aku tidak bisa mengatakan pada Pangeran Arana bahwa Aku ini seorang Ciel. Jadi Dia berpikir Aku yang bisa menghancurkan Raja Rasyamsah. Bagaimana bisa ? Aku tidak bisa bertempur. Justru Aku selalu dilindungi dalam pertempuran.


"Jadi apa rencanamu Pangeran ?"


"Aku akan ke Rasyamsah. Kakak dan Ayah tidak akan menyetujuinya. Karena jika Kakak yang harus maju bertempur, Aku harus ada diistana untuk melindungi istana. Tapi Aku tidak bisa duduk diam. Margitha adalah adikku. Kami berada dalam rahim yang sama. Ikatan kami lebih kuat dari siapapun"


"Pangeran akan ke Rasyamsah membawa pasukan ?"


"Tidak, Aku hanya membawa tiga orang saja. Aku berencana menyusup ke sana. Terlalu mencolok jika membawa banyak orang"


Ini tindakan yang sangat berbahaya. Ada kemungkinan seseorang mengenali Pangeran Arana karena Dia sudah sering berkunjung ke Rasyamsah selama ini.


"Kalau begitu Aku akan ikut"

__ADS_1


"Apa Putri Yakin ?"


"Pangeran datang kemari untuk mengajakku kan. Margitha dan Ratu sudah sangat baik padaku selama ini. Ini saatnya Aku membalas budi mereka"


"Kakak tidak akan suka ini"


"Ya, Pangeran Sera pasti akan marah. Tapi Kita tidak akan mengatakan apapun padanya sampai Kita berangkat ke Rasyamsah"


"Tapi..Jangan menggunakan pakaian seperti itu" Kata Pangeran Arana menunjuk pakaian ala Putri yang kukenakan.


"Tidak masalah. Kapan kita akan berangkat ?"


"Sekarang juga, Jika Putri siap. Kakak sedang pergi. Inilah satu-satunya kesempatan kita"


"Bukan masalah. Aku akan bersiap sebentar"


Kami mengendarai kuda menyusuri hutan. Aku mengenakan pakaian ala rakyat biasa. Pangeran Arana berada disampingku. Dibelakangku ada tiga orang prajurit kepercayaannya mengikuti Kami. Aku melepaskan semua atribut putri Argueda, mengenakan Pakaian yang telah disiapkan Pangeran Arana. Kami menyusup keluar istana tanpa ketahuan. Pangeran Arana sendiri berpakaian ala Prajurit Argueda. Tidak ada yang mengenalinya sebagai seorang Pangeran.


Kami terus melaju. Aku telah meninggalkan surat untuk Pangeran Di meja rias.


*Pangeran Sera,


Aku dan Pangeran Arana menuju Rasyamsah untuk menyelamatkan Putri Margitha dan Ratu. Maaf, Aku tidak bisa mengatakan hal ini sebelumnya pada Pangeran. Aku akan segera kembali.


Yuki*.


Aku bisa membayangkan betapa marahnya Pangeran Sera ketika membaca suratku. Aku kasihan pada para pelayan dan penjaga. Mereka pasti dimarahi habis-habisan oleh Pangeran Sera.


"Bagaimana Kalian bisa kecolongan seperti ini. Jika terjadi sesuatu pada Yuki dan Arana apa Kalian mau bertanggung jawab. Cepat kejar mereka" Begitulah kira-kira yang akan diucapkan Pangeran Sera.


Atau malah Pangeran Sera sendiri yang akan mengejar Kami. Tidak boleh tertangkap. Kami tidak boleh tertangkap Pangeran Sera sebelum membawa Ratu dan Putri Margitha kembali. Kasihan Pangeran Arana nanti, Dia bisa dijadikan obyek kemarahan Pangeran Sera. Tampaknya Pangeran Arana takut pada Pangeran Sera.

__ADS_1


__ADS_2