
Aku langsung menatap Pangeran Sera terkejut.
"Kita sudah tidak mempunyai alasan lagi menundanya. Apakah Kau mengerti"
Menikah dengan Pangeran Sera. Apakah ini benar-benar keinginanku ?. Tapi, Pangeran sudah sangat baik padaku. Jika Aku bersamanya, Aku pasti akan bahagia. Dia seperti bintang jatuh yang selalu membawa keberuntungan untukku. Seperti oase di padang tandusku. Dia selalu ada di setiap kegembiraan dan sedihku. Aku tidak punya alasan untuk menolaknya.
"Pangeran belum melamarku" Kataku berseloroh. "Bagaimana bisa langsung mempersiapkan pernikahan seperti itu"
Pangeran Sera tersenyum. Kemudian Dia beringsut untuk berjongkok didepanku. "Putri Yuki, Apakah Kau mau menikah denganku ?" Tanya Pangeran sembari menatap mataku dalam.
Aku menatap matanya. Yakin akan kebahagian yang mengisi hariku nantinya. Aku menganggukan kepala. "Ya.." Bisikku. Pangeran menarikku mendekat. Perlahan wajahnya mendekatiku. Dia menciumku lembut dan penuh kemesraan. Tangannya menuntunku untuk memeluk lehernya. Sorot matanya mengatakan Dia menginginkanku. Pangeran terus menciumku, mengaburkan akal sehatku.
Saat sadar, Dia sudah berada di atasku. Satu tangannya memelukku, Tangan yang lain menelusuri setiap lekuk tubuhku. "Pangeran.." Kataku melepaskan ciumannya dengan nafas tersenggal.
"Ssttt...Diam" Bisik Pangeran Sera sembari kembali menciumku.
Aku merasa belum siap untuk bersamanya seperti ini. Namun bagaimana reaksinya jika Aku menolaknya. Ciumannya turun ke leherku. Pangeran menurunkan tali bajuku ke bawah. Sentuhannya begitu lembut, Seolah Aku ini adalah barang berharga yang telah lama diidamkannya.
"Pangeran ini di luar" Kataku mengingatkan. Bagaimana jika nanti ada orang datang dan melihat Kami.
"Kau mau pindah ke kamar ?"
Aku terdiam. Wajahku sudah memerah menahan malu dan hasratku yang naik karena sentuhan Pangeran Sera.
__ADS_1
Namun belum Aku menjawab, Gulf milik Pangeran berbunyi. Pangeran Sera mengerang marah. Aku jadi tertawa ketika melihat ekpresinya.
"Ada apa ?" Kata Pangeran kepada seorang prajurit yang menghubungi.
"Maaf Pangeran, Sebentar lagi Rapat akan segera di mulai"
"Baik, Aku segera ke sana"
Pangeran menutup Gulf dengan wajah masam. "Pangeran ada Rapat" Kataku pelan. Dalam hati Aku merasa lega karena apa yang terjadi tadk tidak berlanjut.
"Ya, Maafkan Aku Yuki, Aku harus segera pergi"
"Tidak apa-apa. Pergilah Pangeran, Aku masih ingin disini dan melihat perayaan dari sini"
"Baiklah, Jangan terlalu malam. Angin malam tidak baik untuk kesehatan"
Pangeran mencium pipiku mesra. Dia kemudian pergi. Aku memandang punggungnya sambil berpikir.
Aku telah menerima lamarannya. Akhirnya Aku akan menikah dengannya. Menjadi istri Pangeran Sera. Inikah yang kuinginkan.
Aku terbangun di malam hari. Atas perintah Raja Argueda, Kami harus segera kembali untuk mempersiapkan pernikahan. Sekarang Kami dalam perjalanan ke sana. Pangeran mengajakku untuk menginap di sebuah penginapan mewah ketika Kami telah sampai di perbatasan wilayan Argueda. Agak heran Pangeran tidak mengajakku menginap diistana kecilnya. Tapi menurut Pangeran, Dia ingin sedikit berganti suasana melepaskan ketegangan setelah perperangan. Aku cukup beruntung ketika Pangeran Sera menginginkan kelanjutan yang sempat terputus di atap kerajaan Rasyamsah, Aku sedang berhalangan. Entahlah. Aku tidak tahu kenapa Aku ini. Rasanya hatiku belum siap untuk berhubungan seperti itu dengannya. Aku tidak tahu sampai kapan Dia akan mengerti.
Terdengar suara pintu ditutup. Aku membuka mataku dengan malas. Rasanya perjalanan kali ini sungguh melelahkan. Ketika berbalik, Aku menyadari Pangeran Sera tidak ada di sampingku. Kemana Dia ?.
__ADS_1
Aku bangun dengan malasnya. Apa barusan suara tadi berasal dari Pangeran Sera. Aku melirik ke cendela. Hari masih larut malam. Kemana Dia selarut ini.
Aku tidak bisa tidur lagi. Perutku lapar. Aku akan menyusulnya. Dia pasti belum jauh dari sini. Aku turun dari tempat tidur dan memakai jubah malamku. Mengambil sandal disamping tempat tidur dan memakainya. Tidak ada penjaga kamar ketika Aku keluar. Aku melihat Pangeran Sera berbelok di ujung lorong. Apa Dia juga lapar. Seingatku di sana ada ruang makan. Aku urung untuk memanggilnya dan memilih mengikutinya dari belakang. Namun perkiraanku salah. Pangeran tidak berbelok ke ruang makan. Dia masih melanjutkan langkahnya.
Kemana Pangeran.
Aku seperti seorang penjahat mengendap-ngendap di belakangnya. Ternyata Dia menuju sudut taman yang sepi. Hanya ada sedikit penerangan di sini.
Untuk apa Pangeran di sini ?.
Aku hampir saja memanggilnya ketika Aku melihat sosok yang kukenal muncul didepan Pangeran.
Refleks Aku langsung bersembunyi. Apa Aku tidak salah lihat. Tidak mungkin. Tapi itu benar Dia..Itu Putri Marsha. Kenapa Dia ada di sini?. Kenapa Pangeran Sera menemuinya tengah malam begini di tempat seperti ini ?.
"Aku sudah katakan untuk tidak menemuiku lagi" Ujar Pangeran Sera dengan nada tidak suka. "Kerjasama Kita sudah berakhir"
"Kau harusnya berterima kasih padaku Pangeran, Jika Aku tidak datang tepat waktu di Rasyamsah, Yuki dan Riana akan kembali bersatu dan usahamu selama ini akan sia-sia" Kata Putri Marsha dengan sikap angkuh. Aku menutup mulutku tidak percaya dengan apa yang kudengar. Jadi Pangeran Riana tidak membawa Putri Marsha ke Rasyamsah, Putri Marsha lah yang sengaja mengikuti Pangeran Riana. Aku telah salah paham dengan Pangeran Riana.
"Kau jangan lupa janjimu untuk memberiku 1000 hektar tanah di daerah barat"
"Aku tidak akan lupa. Lagipula bukankah sekarang Kau sudah mendapatkan Riana ?, Jika Kau menjadi Ratunya Kau akan melihat 1000 hektar tanah itu menjadi sesuatu yang kecil"
Putri Marsha mendesah. "Riana masih sangat sulit untuk ditembus"
__ADS_1
"Itu masalahmu bukan urusanku, Sebaiknya Kau tidak mengangguku lain kali atau Aku tidak akan bertoleransi kepadamu"
"Apa Kau takut Yuki mengetahui kerjasama kita ?" Tanya Putri Marsha sinis. "Kau sungguh berhati dingin Pangeran. Di depan Yuki Kau bersikap sebagai seorang pahlawan. Jika sesungguhnya Yuki tau bahwa Kaulah orang yang menyebarkan cerita kehamilannya waktu itu untuk memisahkan Mereka. Menurutmu apa yang akan dilakukan Yuki ?"