
Ketika Aku masuk ke dalam aula, Bangsawan Voldermon berdiri memunggungiku. Di bahunya seolah ada beban berat yang menekannya. Dia tampak lelah dan frustasi. Aku berjalan mendekat. Suara gemerincing perhiasan terdengar ketika Aku bergerak.
Bangsawan Voldermon berbalik saat menyadari kehadiranku. Dia menatapku dengan pandangan bertanya. Seolah lantang berteriak "Mengapa ?" Padaku.
"Aku..." Bangsawan Voldermon langsung memberi kode dengan tangannya saat Aku ingin mengatakan sesuatu. Dia menyuruhku diam. Ditangannya ada gulf. Dia menghubungi seseorang. Aku menunggu dalam diam.
"Perlihatkan Dia sekarang" Kata Bangsawan Voldermon pada Bangsawan Asry diseberang begitu sambungannya diangkat. Aku memalingkan wajah ketika didalam gulf menyorot Pangeran Riana, Dia tertidur di meja. Beberapa botol anggur kosong didepannya. Tampak kesedihan di wajahnya. Aku meremas dadaku kuat melihat kenyataan seperti itu.
"Kenapa ?, Apa Kau masih punya hati untuk tidak melihatnya yang sekarang ?" Tanya Bangsawan Voldermon lantang. Bangsawan Voldermon menutup gulfnya. Dia mulai mengkronfonfasiku. "Apa yang terjadi pada dirimu Yuki, Ini seperti bukan dirimu"
Aku memalingkan wajah, Tidak ingin memperlihatkan genangan air mata di pelupuk mataku yang seolah mendesak untuk dikeluarkan.
"Aku terkejut saat mendengar Riana sekarat di perbatasan, Dia selalu menyebut namamu dalam igauannya Namun anehnya, Kami malah mendapat undangan pernikahanmu setelahnya. Apa yang sebenarnya terjadi Yuki" Tuntut Bangsawan Voldermon.
Bangsawan Voldermon menarikku untuk melihatnya ketika Aku tidak juga menjawab. Dia terkejut ketika melihatku menangis. Aku memang bisa menahan didepan Pangeran Riana dengan baik, menipunya dengan sikap dinginku sehingga Dia menamparku, Tapi sialnya Aku malah tidak bisa menahan emosiku didepan Bangsawan Voldermon. Aku menangis.
"Semua ini membuatku tidak mengerti. Riana yang sekarat dikirim oleh pasukan Argueda ke perbatasan dengan Marsha yang mendampingi, Dan Kau ...Kau langsung memutuskan untuk menikah dengan Sera" Bangsawan Voldermon terdiam. Sesuatu dikepalanya tampaknya baru menunjukan sesuatu. Dia kembali menarikku. Merengkuh wajahku dengan kedua tangannya. Memaksaku untuk melihatnya. Matanya menatapku dalam. "Katakan Yuki..Katakan bahwa semua ini tidak berhubungan"
Aku semakin menangis. Bangsawan Voldermon melepaskan cekalannya. Dia mundur. Tampak emosi.
Aku mencekal tangannya, menahannya ketika Dia berjalan cepat melewatiku. "Kau akan kemana ?" Tanyaku padanya.
__ADS_1
"Aku akan mencari Sera"
"Aku mohon padamu Bangsawan Voldermon, Jangan" Pintaku panik. Aku tidak mau Bangsawan Voldermon bertindak bodoh yang malah akan mencelakakannya dan Pangeran Riana nantinya. Aku tidak ingin itu terjadi.
"Lepaskan Aku Yuki"
Aku terus mencekal lengan Bangsawan Voldermon. Mencegahnya pergi. "Demi Aku..jangan lakukan ini..Aku mohon padamu...Aku mohon"
Bangsawan Voldermon diam melihatku menangis dilengannya. Dia kemudian mengelus rambutku. Menarikku ke pelukannya. Aku masih menangis.
"Kau menikah dengannya untuk menyelamatkan Riana apa Aku benar ?" Bisik Bangsawan Voldermon ditelingaku. Aku menganggukan kepala. Tidak mampu menjawab dengan suaraku. "Dia yang melukai Riana dan mengancammu kan" Aku kembali menganggukan kepala.
Bangsawan Voldermon tidak berkata apa-apa lagi, Dia menunggu sampai tangisanku reda dan Aku mampu menenangkan diri. Aku melepaskan pelukannya. "Sekarang Aku mohon padamu, Jangan katakan soal ini pada siapapun. Biarkan ini menjadi rahasia diantara Kita" Pintaku lirih. "Apa Kau bisa melakukannya, untukku"
"Garduete adalah negaraku. Sudah sepantasnya Aku membela negaraku bukan"
"Dan Riana adalah cintamu"
"Ya, Dia cintaku"
"Kau juga tau Aku mencintaimu kan"
__ADS_1
Aku diam. Aku tahu Bangsawan Voldermon mempunyai perasaan lain padaku. Aku bisa merasakannya. Namun Aku diam berpura-pura tidak tahu. Dan Dia, Dia sendiri bersikap dewasa, datang kepadaku dengan sebuah persahabatan.
"Aku tahu, Maafkan Aku untuk itu" Kataku akhirnya dengan nada menyesal.
"Aku tetap akan datang jika Kau membutuhkanku. Juga akan menjengukmu setiap ada kesempatan"
"Aku akan menunggu itu"
Bangsawan Voldermon kembali memelukku. Pelukannya terasa hangat. Aku mengantarnya sampai ke gerbang istana.
Saat Aku kembali, Pangeran Sera sedang berdiri di balkon, menatap kepergian Bangsawan Voldermon yang terlihat dari kejauhan. Aku mendekat pada Pangeran Sera. Dia berpaling dan tersenyum. Mengusap sisa air mata di pipi. Mengecup pipiku mesra, mengangkatku dalam gendongannya.
Aku membiarkannya ketika Dia membawaku keatas ranjang. Walau bagaimanapun juga sekarang Dia adalah suamiku yang sah.
Keesokan harinya, Aku akan pergi berbulan madu dengan Pangeran Sera ke sebuah tempat yang dirahasiakan. Putri Margitha dan Pangeran Arana ikut dalam perjalanan ini. Kami akan menaiki kapal kerajaan. Saat Aku baru turun dari kereta kuda, Aku melihat Pangeran Sera berdiri mematung. Tangannya meremas tanganku. Membuatku tersadar ada sesuatu yang salah. Ketika mendongak Aku melihat Pangeran Riana, Dia ditemani oleh Bangsawan Xasfir dan Bangsawan Voldermon. Pangeran Sera berjalan acuh, Dia sengaja melepaskan gengamannya. Aku merasa ada peringatan sendiri dari sikap Pangeran Sera yang membuatku sangat berhati-hati.
Pangeran Sera sengaja meninggalkanku dibelakang, memberi kesempatan Pangeran Riana untuk berbicara denganku.
"Kau benar, Wanita sepertimu tidak pantas untukku" Katanya langsung dengan wajah dingin. Aku menyunggingkan senyum tipis mendengar perkataannya.
"Baguslah, Segera temukan wanita yang pantas untukmu. Aku menantikan pernikahan kalian nanti." Aku berjalan melewati Pangeran Riana. "Semoga bahagia"
__ADS_1
Aku berjalan tanpa menoleh. Menaiki tangga kapal. Pangeran Sera menungguku di
anak tangga teratas. Tampak jelas Dia memperhatikan Kami dari kejauhan tadi. Suara peluit kapal berbunyi nyaring. Kesibukan kemudian terasa di sekitar. Jangkar diangkat, Tali dilepaskan. Suara mesin bergemeletak di bawahku. Kapal mulai bergerak, menuju ke tengah lautan. Aku berdiri diatas buritan kapal, menyaksikan deburan ombak yang memecah. Perlahan pemandangan di depanku mulai mengecil dan lama-lama menghilang. Hanya ada lautan di sekitarku.