Water Ripple

Water Ripple
14


__ADS_3

"Lepaskan Aku..Tidak mau" Aku berusaha melepaskan diri, menolaknya saat akan menciumku. Pangeran Riana sudah diatasku. Menahanku sedemikian rupa.


"Kenapa Yuki, Apa Kau sudah lupa kebersamaan Kita...Atau...Kau lebih ingin Sera yang bersamamu"


"Pangeran Sera tidak pernah melakukan ini padaku. Dia lebih menghargaiku sebagai wanita"


"Menghargai ?" Pangeran Riana meremas tanganku. Membuatku meringis kesakitan.


"Siapa yang menghargai siapa ?" Katanya lagi sembari mengeretakan giginya. "Jangan pernah lagi menyebut namanya didepanku. Aku tidak ingin mendengar namanya dari mulutmu"


"Lepaskan Aku" Aku terus memberontak. Pangeran mencengkram kerah bajuku. Terdengar robekan saat Dia menarik bajuku kasar. Aku berteriak, mencoba melepaskan diri. Tapi sekuat apapun Aku berteriak, tidak ada yang datang menolongku. Pintu tertutup rapat.


Aku menangis ketika seluruh pakaianku sudah terkoyak. Pangeran duduk di atasku. membuka pakaiannya. Matanya tetap tajam melihatku.


Aku memalingkan wajahku ketika Dia kembali mendekat. Rasa sakit menghantamku bertubi-tubi. Tanpa memikirkan perasaanku Dia menyentuhku seenaknya sendiri. Dia tidak peduli apakah Aku menyukainya atau tidak. Badanku sakit semua.

__ADS_1


Air mataku terus mengalir. Batinku berteriak. Kenapa Dia terus menyiksaku seperti ini. Pangeran mendesah, Dia merebahkan badannya diatasku. Mengakhiri penderitaanku untuk sementara.


Begitu sampai di istana, Pangeran Riana kembali mengurungku dalam kamarnya. Aku tidak diperbolehkan keluar kamar atau menerima tamu tanpa izin darinya. Bahkan Ibu Suri juga dilarang keras membawaku pergi tanpa persetujuan Pangeran Riana.


Setiap hari dari cendela kamar, Aku melihat Putri yang kulihat bersama Pangeran Riana tempo hari. Dari para pelayan Aku akhirnya mengetahui siapa putri itu.


Dia adalah Putri Marsha. Kekasih Pangeran Riana ketika Pangeran berusia 17 tahun. Putri Marsha adalah sahabat baik Bangsawan Xasfir. Bangsawan Xasfirlah yang mengenalkan Putri Marsha kepada Pangeran hingga akhirnya mereka berpacaran. Mereka telah menjalin hubungan selama lima tahun sebelum akhirnya Putri Marsha secara tiba-tiba menikah dengan Raja dari negeri lain dan meninggalkan Garduete mengikuti suaminya. Semenjak itu tidak ada kabar lagi mengenai hubungan Pangeran Riana dan Putri Marsha yang terdengar.


Tapi Setengah tahun yang lalu, Suami Putri Marsha meninggal dunia karena sakit. Putri Marsha kembali ke Garduete. Dan kembali, Terdengar lagi gosip-gosip bahwa Pangeran Dan Putri Marsha kembali menjalin hubungan.


"Putri Yuki" Aku tersadar dari lamunanku ketika tiga orang pelayan datang menghampiriku. Aku berbalik merespon panggilan mereka. Merapikan selendang yang menutupi dadaku. Pangeran Riana beberapa kali menyentuhku semenjak di istana pinggiran. Badanku penuh bekas ciumannya, terutama di bagian dadaku. Tampaknya Dia senang meninggalkan bekasnya di tubuhku. Seolah itu merupakan penegasan bahwa Aku adalah miliknya.


"Ada apa ?" Tanyaku tanpa semangat. Dari cendela Putri Marsha sedang berjalan dengan anggunnya menuju taman tengah. Tubuhnya tinggi dan langsing. Lekuk tubuhnya sempurna. Dia sangat cantik dan dewasa dibandingkan Aku. Benar-benar wanita yang sempurna. Dia bagaikan seorang model terkenal. Tidak ada yang mengalahkan keanggunannya. Sangat cocok dengan Pangeran Riana. Seperti pasangan Pangeran dan Putri yang didambakan setiap orang.


"Maaf Menganggu Putri, Tapi Kami ingin menyerahkan ini untuk Putri" Ujar Pelayan sembari menunjukan dua buah kotak besar di tangan mereka.

__ADS_1


"Apa itu ?"


"Ini adalah barang-barang milik Putri yang ditemukan di kuil. Kami telah mengumpulkan dan memasukkannya ke dalam kotak"


Aku ingat, Aku telah meninggalkan tas ranselku di kuil saat pertama kali kembali kemari. Namun Aku tidak sempat mengambilnya karena keburu kabur dari Pangeran Riana dan dibawa ke Argueda. Ternyata mereka telah menemukannya.


"Letakan saja di sana. Nanti Aku yang akan memilah" Kataku acuh. Salju-salju kembali turun. Mungkin sebentar lagi akan ada badai. Udaranya sangat dingin. Badanku terasa tidak enak beberapa hari ini. Musim dingin selalu membuat daya tahan tubuhku menurun. Namun Aku menolak Tabib yang ingin memeriksa keadaanku. Aku tidak merasa perlu diperiksa. Aku hanya masuk angin karena tidak tahan cuaca saja. Mungkin juga sedikit pikiran.


Pangeran Riana sering tidak membiarkanku beristirahat dengan tenang di malam hari. Dia seperti selalu punya tenaga yang berlebih untuk menyentuhku. Namun apa gunanya, Aku seperti hanya penghangatnya di malam hari. Jika pagi tiba, Dia kembali bersama dengan Putri Marsha.


Para pelayan meletakkan kotak di sudut ruang dekat dengan laci kamar. Setelahnya mereka memberi hormat dan keluar kamar. Aku mendesah. Aku tidak boleh terlalu larut memikirkan masalah ini. Informasi dari para pelayan, Ketegangan semakin menjadi antara Argueda dan Rasyamsah. Gesekan terus terjadi yang berakhir dengan Akses jalan menuju negara Rasyamsah ditutup dengan penjagaan yang super ketat. Pangeran Sera sudah mempersiapkan pasukannya dengan matang untuk mengempur Negeri tersebut. Membuatku khawatir akan nasib Putri Margitha dan Ratu.


Aku membuka satu kotak dan memeriksa isinya. Bibi Sheira telah mempersiapkan secara matang keperluanku. Aku membuka kotak obat dan bersyukur ada pil Kb di sana. Pangeran Riana telah menemukan dan membuang persediaan pil yang kusembunyikan di laci tempo hari ketika Aku masih didunia sana. Sekarang, Siapapun yang memberikanku pil tersebut akan mendapat hukuman berat dari Pangeran Riana.


Aku menyusun kembali pil tersebut dalam kotak obat yang disediakan Bibi sheira. Banyak sekali obat-obat yang dibawakan olehnya. Aku sedang menyusun obat-obat tersebut ketika pandanganku tertuju pada sesuatu yang menarik perhatianku.

__ADS_1


__ADS_2